Dwarapala, Reco Pentung Asli Tulungagung

foto
Patung Dwarapala, patung asli Tulungagung. Foto: JatimTimes.com/Anang Basso.

Tahukah kalian, di Tulungagung beberapa arca tampak mirip dengan patung Retjo Pentung sebuah merk rokok yang pernah berjaya di era nya. Nah, patung itu akan diketahui jika kita masuk ke wilayah Kota Tulungagung.

Tiap masuk wilayah yang sudah dikatakan kota, maka kita akan disambut sepasang patung yang bernama Dwarapala.

Patung raksasa ini berada di empat penjuru pintu masuk Kota Tulungagung. Di sisi utara berada di Kedungwaru, tepatnya di depan Masjid Baiturahman di Jalan Pahlawan.

Di sisi timur di Jalan Mayor Sujadi, Kelurahan Jepun, tepatnya di depan bekas pabrik rokok Retjo Pentung.

Di selatan ada di batas desa Beji, Kecamatan Boyolangu dan Kelurahan Tamanan.

Sedangkan di barat berada di sebelah barat Jembatan Lempupeteng, berjarak sekitar 100 meter.

Di masing-masing lokasi ini, ada dua arca yang mengapit jalan akses ke Kota Tulungagung. Namun banyak warga Tulungagung yang tidak arti penting arca ini.

“Banyak yang mengira arca ini peninggalan Pabrik Rokok Retjo Pentung. Padahal bukan,” ujar pengelola Museum Wajakensis, Hariyadi, seperti ditulis JatimTimes.com.

Patung ini bahkan sudah ada jauh sebelum berdirinya pabrik rokok yang sudah tutup ini. Dwarapala Tulungagung ini unik karena tidak mewakili dwarapala kerajaan yang pernah ada, seperti Kediri maupun Majapahit.

Dari sisi bentukpun ada yang memakai kuncir, dan posisinya saling berhadapan.

“Karena bentuknya yang unik itu, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan sempat turun meneliti,” tutur Hariyadi.

Penelitian untuk mengungkap, dari mana asalnya arca di batas kota ini dan akhirnya disimpulkan jika arca-arca ini memang bukan dari era kerajaan, namun arca asli Tulungagung.

Sekitar tahun 1900 terjadi pemindahan ibu kota Kabupaten Ngrowo dari Kauman ke Kuto Anyar (Tulungagung) dan pada tahun 1901 barulah patung ini ada dan sengaja dipasang sebagai tolak bala di empat penjuru kota.

“Filosofi patung ini memang untuk tolak bala. Jadi mungkin maksudnya agar ibu kota kabupaten yang baru bisa terbebas dari mara bahaya,” terangnya.

Pendapat lain arca ini sebagai sengkolo atau penanda hari. Keberadaan arca ini untuk menandakan pemindahan ibu kota kabupaten dari Kauman ke Tulungagung.

Lanjut Hariyadi, apa pun fungsi dari arca itu namun sudah termasuk cagar budaya lokal Tulungagung. Karena itu keberadaannya wajib dilindungi oleh masyarakat dan pemerintah setempat.

“Menurut Undang-undang lebih dari 50 tahun, punya ciri tertentu dan mewakili budaya lokal sudah dianggap cagar budaya lokal, bukan nasional,” pungkasnya. (ist)

Add Comment