Membaca Teks Historik Budaya Jawa Lewat Tari

foto
Tari Langen Putri Gandasari di Anjungan Jawa Timur TMII Jakarta. Foto: Tribunnews.com.

Bismillah. Rahayu; slamet saka kersa neng Allah (Atas nama Allah. Berkah keselamatan sebab kehendak Allah). Membaca karya tari Langen Putri Gandasari, adalah membaca budaya Jawa yang bersifat ’momot’ (serba memuat; mengisi).

Berbagai ornamen budaya yang dipengaruhi tradisi keagamaan ditampilkan secara sakral, dan cukup menarik. Tarian ini tampil sebagai pembuka acara pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, beberapa waktu lalu.

Seperti dilaporkan Tribunnews.com, Langen Putri Gandasari, seakan menjelaskan teks historik budaya Jawa yang banyak menyerap nilai-nilai Hinduisme-Budhaisme, melalui proses akulturasi dan sinkretisme; penyatuan nilai-nilai agama, yang menjadi falsafah hidup.

Menggambarkan pandangan hidup orang Jawa yang mengarah pada pembentukan kesatuan numinous (suci), antara alam nyata, masyarakat, dan alam adikodrati yang dianggap kramat.

Dirilisnya putri Raja pewaris takhta Kahuripan, Kerajaan Airlangga, Dewi Kilisuci, dalam cerita ini, sekaligus menggambarkan Raja dan Keraton adalah simbol puncak peradaban pada masa itu.

Sang Dewi digambarkan melakukan ritual dengan mengadakan sesaji agar masyarakat di sekitar lereng gunung Kelud , terhindar dari malapetaka alam. Bersama rakyat beliau mengadakan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Inilah manifestasi agama yang diintegrasikan dalam kepentingan kekuasaan, dengan konsep; raja-dewa (titising dewa).

Rakyat harus tunduk pada raja untuk mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Agama dijadikan alat legitimasi bagi kekuasan (Kerajaan). Era Wali Songo, budaya Nusantara ini kemudian bergeser dan banyak diwarnai nilai-nilai dan budaya ke-Islam-an.

Jadilah repertoar karya tari; Langen Putri Gandasari ini penuh warna. Ada sesaji, anglo tempat membakar dupa, yang dipersembahkan para gadis-gadis cantik yang menjadi wiraga.

Serta mantra yang dilafazkan sosok pria yang membawa ‘Gunungan’ (wayang) sebagai simbol kehidupan. Persembahan ini menggambarkan bersatunya (akulturasi) budaya Islam dan budaya sebelumnya.

Percampuran kebudayaan ini kemudian diserap menjadi pandangan, pemikiran, amalgamasi, falsafah hidup, dan budaya Nusantara.

Simaklah mantra ini, Bismillah; kalawan nyebut asmaning Allah, kang Maha Welas lan Maha Asih (Dengan menyebut nama Allah; yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang). Siro-lah, zat Allah, sifat Allah, sifat langgeng, langgeng awit kersaneng Allah. (Engkau-lah, zat Allah, sifat Allah, sifat kekal, kekal selamanya dari yang maha berkehendak, yaitu Allah).

Ingsun nenuwun kersaneng Gusti (Kami memohon kerindhaan-Mu ya Allah). Rahayu, slamet saka kersa neng Allah (Berkah keselamatan sebab kehendak Allah).

“Dengan berpondasikan budaya penuh filosofi, estetika dan etika ini, mari kita gunakan sebagai pijakan untuk menciptakan ayem tenteram, Kediri masyhur, gemah ripah loh jinawi,” ujar Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Patarina SHut menyampaikan sambutan.

Duta Seni Kabupaten Kediri menampilkan 5 repertoar, tiga diantaranya utuh karya tari; Langen Putri Gandasari, Suran Pamenang, dan Gagahan Topeng Panji Alus.

Kemudian disusul satu penampilan dalam bentuk musik dan lagu, Kediri Lagi yang dibawakan secara kolaboratif. Diakhiri dengan penampilan drama tari bertajuk, Panji Asmarantaka Badar.

Tari Langen Putri Gandasari, menggambarkan upacara sesaji sebagai rasa syukur kepada Tuhan. Sementara Tari Suran Pamenang, merupakan ritual arak-arakan yang kerap diadakan pada 1 Suro (bulan Muharram), simbol kemasyhuran Sri Aji Jayabaya dengan anugerah Jangka Jayabaya. Ritual tersebut sebagai upaya reresik diri (menyucikan diri), ngalab berkah (mencari keberkahan), serta sejahtera dalam hidup.

Tari Gagahan Topeng Panji Alus menggambarkan ketangkasan para prajurit Panji dalam bela Negara. Terampil, sigap, cakap, tegas, dan berwibawa, merupakan karakter dari prajurit Panji.

Selanjutnya duta seni Kabupaten Kediri ini menyajikan dramatari Panji Asmarantaka Badar sebagai tema utama pergelaran.

Dikisahkan, ketika kedua bersaudara Galuh Ajeng dan Galuh Candrakirana berebut boneka emas yang berakhir dengan Galuh Candra Kirana diusir dari kerajaan. Candrakirana selanjutnya menyamar menjadi pria.

Menguasai ilmu perang dan beladiri yang tangguh, dengan nama samaran Panji Asmarantaka. Panji Asmarantaka sengaja melakukan kekacauan untuk memancing perhatian.

Namun hal ini dapat diatasi Panji Inukertapati, sehingga berujung terbongkarnya penyamaran Panji Asmarantaka yang sebenarnya adalah Galuh Candrakirana. Galuh Candrakirana akhirnya menikah dengan Panji Inukertapati dan hidup bahagia.

Hadir di acara ini Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pengelolaan Anjungan Bapenda Provinsi Jatim Samad Widodo SS MM. Juga pengurus Pawarta Jatim dan jajaran pejabat Pemkab Kediri.

Seniman yang terlibat adalah Eko Priatno TSS (Penulis Cerita) Nur Setyani SSn (Sutradara), Rama Panji SSn (Asisten Sutradara), Sugeng SSn (Penata Musik), Agmarila May Rizki (Penata Tari), Sandhi Tyas (Artistik), Dinar Ringgit (Penata Kostum dan Penata Rias), serta puluhan pengrawit, penyanyi dan penari.

Para Juri Pengamat Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur adalah Suryandoro SSn (Praktisi dan Pengamat Seni Tradisi), Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya), Dra Nursilah MSi (Dosen Seni Tari Universitas Negeri Jakarta), dan Catur Yudianto (Kepala Bagian Pelestarian dan Pengembangan Bidang Budaya TMII). (ist)

Add Comment