Seni Pepaosan, Keberagaman di Lombok Barat

foto
Pepaosan merupakan kesenian asli Lombok Barat. Foto: Netralnews.com.

Menurut dokumen berjudul “Pokok-Pokok Kebudayaan Daerah (PPKD) Kabupaten Lombok Barat Tahun 2018”, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), bertekad untuk memajukan kesenian Pepaosan. Pepaosan sendiri menjadi simbol kebanggaan di Lombok Barat.

Kebulatan tekad tersebut diprakarsai langsung oleh Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid. Bersama tim PPKD, kajian dan diskusi terbuka telah dilakukan beberapa kali dalam rangka memantapkan PPKD 2018.

Pada 8 Juli 2018, forum diskusi PPKD menghasilkan rumusan bahwa Pepaosan merupakan kesenian asli Lombok Barat. Namun, generasi muda di Lombok Barat kurang tertarik untuk belajar seni Pepaosan. Oleh karena itu, perlu segera dilakukan tindakan riil untuk mempertahankannya.

Forum tersebut, seperti dikutip dari Netralnews.com, dihadiri lintaskalangan, baik seniman, akademisi, dinas kebudayaan, dinas pendidikan, dan lain-lain. Mereka sepakat akan menggiatkan pementasan seni Pepaosan di setiap kecamatan di wilayah Kabupaten Lombok Barat. Sebenarnya, seperti apakah kesenian Pepaosan?

Asal usul
Kesenian Pepaosan diperkirakan sudah berumur ribuan tahun. Pepaosan sebenarnya merupakan tradisi membaca manuskrip berbahasa Kawi yang ditulis di atas daun lontar yang berasal dari pohon tal atau pohon siwalan (Borassus flabellifer).

Manuskrip berbahasa Kawi sebenarnya merupakan pengembangan Bahasa Jawa Kuno yang mendapat pengaruh Bahasa Sansekerta. Jadi, kesenian ini lahir pada era animisme-dinamisme dan berkembang seiring penyebaran Hindu-Budha di Nusantara.

Istilah Kawi mempunyai arti “penyair”. Karya sastra dengan menggunakan Bahasa Kawi biasa disebut Kakawin, yang berupa rangkaian puisi dengan pola tertentu. Sedangkan Bahasa Jawa Kuno berasal dari rumpun Melayu-Polinesia yang dituturkan di seluruh Pulau Jawa, Madura, dan Bali.

Salah satu bukti tulisan Bahasa Jawa Kuno dapat kita lihat dalam Prasasti Sukabumi (804 M) yang ditemukan di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Tulisan dalam prasasti tersebut menceritakan tentang sebuah empangan di terusan Sungai Sri Harinjing (kini Sungai Srinjing).

Tulisan dalam prasasti tersebut menggunakan Huruf Pallawa. Sementara, tulisan-tulisan selanjutnya menggunakan tulisan Jawa atau biasa disebut Hanacaraka.

Suku Sasak yang menjadi leluhur masyarakat Lombok Barat, kemudian menerima penyebaran bahasa dari Jawa, lalu disesuaikan dengan budaya setempat. Penyebaran Hindu-Budha hingga Islam (termasuk penggunaan Bahasa Arab) di Lombok Barat, ikut pula mempengaruhi.

Budaya setempat yang dipengaruhi budaya luar selanjutnya melahirkan karya sastra campuran, tetapi khas Suku Sasak. Dalam karya sastra itu terkandung tata nilai, norma, adat istiadat, dan tradisi mereka. Maka, dengan kata lain, Pepaosan adalah salah satu media transmisi kearifan budaya lokal.

Simbol keberagaman
Di Lombok Barat, naskah sastra yang ditulis di atas daun lontar biasa disebut Takepan. Jumlah keseluruhan tak kurang dari 3.700 buah dengan beragam aksara dan bahasa. Naskah tersebut merupakan simbol keberagaman budaya yang berpadu menjadi satu.

Namun bila dipetakan, bahasa yang digunakan dalam Pepaosan lebih banyak menggunakan Bahasa Jawa Kuno, Bahasa Sasak, dan Bahasa Sansekerta. Contoh naskah tua berbahasa Jawa Kuno antara lain Serat Menak, Purwadaksina, Jatiswara, dan Prudaksina.

Untuk naskah berbahasa Sasak antara lain Kitab Monye, Megantaka, Mandalika, dan Cupak Gurantang. Naskah ini ditulis menggunakan Aksara Hanacaraka lengkap dengan kaidah-kaidah tembang yang pada prinsipnya sama dengan tembang Sunda, Jawa, Madura, dan Bali.

Secara fisik huruf atau tulisan Sasak hampir sama dengan huruf yang ada di Jawa. Orang Sasak biasa menyebut Huruf Sasak dengan nama Huruf Jejawan.

Naskah sastra tersebut umumnya bercerita tentang kisah para raja, kajian agama, petunjuk ritual, petunjuk pergaulan muda-mudi, dan nasihat-nasihat kehidupan. Naskah itu dibacakan (Pepaosan) untuk mengiringi ritual pernikahan, khitanan, ritual menanam padi (selamat dowong), dan lain-lain.

Jadi, melalui kesenian Pepaosan, masyarakat Lombok Barat secara langsung dan tidak langsung telah mengaktualisasikan budaya tulis, tradisi lisan, pelestarian manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, seni, dan bahasa. Lalu, bagaimanakah Pepaosan dilangsungkan?

Kesenian ini dimainkan oleh empat orang dengan mengenakan pakaian adat Suku Sasak. Orang pertama dinamakan pemaos (penembang). Orang kedua disebut piteges (penerjemah). Orang ketiga disebut penyarub (penyambung), dan keempat disebut pemboa (pendengar).

Seperti halnya kesenian lain yang lahir sebelum era Hindu-Budha, ada unsur animisme-dinamisme. Dalam Pepaosan, unsur tersebut masih bisa dilihat dengan adanya sesajen yang ditempatkan dalam sebuah wadah dari kuningan. Sesajen itu menemani proses acara Pepaosan.

Tembang yang disenandungkan dalam Pepaosan adalah hasil cipta, rasa, dan karsa, yang diatur dalam pola baris dan bait. Tembang dalam Pepaosan sangat terikat dengan kaidah dan ketentuan yang bersifat baku dan tidak bisa diubah menurut keinginan sendiri.

Tiap tembang memiliki pola guru wilangan atau wicala (jumlah suku kata atau huruf setiap larik) dan guru lagu (suara akhir pada setiap larik). Dalam sastra Kawi, dikenal sebelas jenis tembang yang menggambarkan perjalanan hidup manusia dari masa prenatal hingga kematian.

Namun dalam kesenian Pepaosan di Lombok Barat, biasanya hanya menggunakan enam tembang. Keenam tembang tersebut adalah Asmarandana, Sinom, Pangkur, Durma, Dangdang atau Dhandanggula, dan Kumambang atau Maskumambang. (ist)

Add Comment