Cara Merawat Bahasa Using di Jagat Daring

foto
Akbar Wiyana, salah satu pendiri Byek memeriksa Instagramnya. Foto: Beritagar.id.

Jangan santen ono kemangine
Jagung bakar ono olese
Nahan kangen raino bengine
Bingung cupar nono putuse

Dalam bahasa Indonesianya kira-kira artinya begini:

Sayur bersantan dihiasi kemangi
jagung bakar diberi olesan
menanggung rindu setiap hari
dibakar cemburu tiada putusnya.

Basanan, salah satu jenis puisi tradisional berbahasa daerah Using itu diunggah oleh @Byekbanyuwangi di Instagram 10 Juni lalu.

Basanan itu memantik keriuhan warganet, disukai 1.771 akun dan dikomentari puluhan pengikutnya dengan bahasa daerah yang sama.

Sejak membuat akun di Instagram pada 2016, @Byekbanyuwangi seperti dilaporkan Beritagar.id, telah mengunggah 1.646 foto, gambar dan video yang bermuatan basanan dan keragaman budaya lokal.

Karena dikemas ringan dan visual menarik, Byek Banyuwangi cukup berhasil menarik minat generasi milenial. Pengikutnya yang menembus angka 47 ribuan, saling berbalas obrolan daring berbahasa Using dengan cair.

Byek adalah salah satu komunitas di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur yang aktif mempopulerkan bahasa lokal Using lewat media sosial.

Komunitas itu digawangi empat pemuda berusia di bawah 30 tahun: Akbar Wiyana (25), Onky Reno (26), Aditya Catur Ginanjar (25) dan Holipah (23).

Keempatnya mewakili generasi milenial yang akrab dengan dunia digital, lulusan kampus ternama di sejumlah kota serta kini bekerja di berbagai bidang mulai jurnalis radio, desain grafis, pegawai pemerintah dan guru.

Keragaman latar belakang itu, kini disatukan oleh satu hal: tak ingin bahasa daerahnya terpuruk.

Bahasa Using dituturkan oleh kelompok etnis Using di kabupaten paling timur Pulau Jawa. Corak kebudayaan mereka adalah agraris yang memiliki adat, tradisi dan kesenian khas seperti gandrung, seblang, kebo-keboan, barong, angklung, hadrah kuntulan dan sebagainya.

Akbar Wiyana, salah satu pendiri Byek, menjelaskan, komunitasnya berawal dari keresahan setelah menyaksikan banyak generasi muda di daerahnya yang tidak lagi menggunakan bahasa Using untuk berkomunikasi.

Fenomena itu semakin nampak pada generasi muda Using yang sedang menempuh pendidikan ke luar kota. “Dulu saat kuliah di Malang, sering bertemu sesama anak Using, namun mereka tidak lagi memakai bahasa daerahnya. Mereka malu akan dianggap kampungan,” kata dia kepada Beritagar.id.

Byek sendiri berasal dari bahasa Using yang artinya “wah”. Menurut Akbar, mereka memilih Instagram karena sedang populer dan banyak dipakai anak muda —sesuai target utama yang ingin mereka bidik. Sebab, bahasa daerah hanya bisa berumur panjang apabila dituturkan oleh generasi muda.

Karena dikelola oleh generasi yang sezaman, maka Byek pun tak kesulitan memproduksi konten-konten berkarakter anak muda masa kini.

Hasilnya, lebih dari separuh pengikutnya (54 persen) berusia 18-24 tahun, dan 25 persen berusia 25-34 tahun. Followernya tak hanya tinggal di Banyuwangi, melainkan juga dari Surabaya, Jember, Denpasar, dan Malang.

Akbar mencatat banyak hal menggembirakan dari interaksi di Instagram itu. Generasi muda akhirnya dapat berekspresi menggunakan bahasa Using. Mereka juga belajar sejumlah kosakata yang sebelumnya asing.

Di jagat Facebook, grup paling awal terbentuk yakni Gesah Cara Using Banyuwangenan Aselai. Sejak dibuat tahun 2009, anggotanya hampir 16 ribuan.

Salah satu admin, Hasan Sentot, menjelaskan, penggagas grup tersebut sebelumnya intens berdiskusi via website www.lareosing.org. Namun karena anggota website tersebut terlalu umum, mereka kemudian membuat grup khusus di Facebook.

Menurut Hasan, Facebook dipilih karena saat itu sedang naik daun. Segmennya pun menjangkau lebih banyak kalangan, mulai anak muda, generasi tua hingga mereka di perantauan seperti tenaga kerja Indonesia.

“Mungkin saat tinggal di Banyuwangi, mereka malu berkomunikasi dengan bahasa Using. Tetapi saat melihat di Facebook, mereka mengaku senang dan mengobati rasa kangen dengan kampung halaman,” kata Hasan yang tinggal di Surabaya ini.

Berbeda dengan @Byekbanyuwangi yang riuh oleh generasi muda, anggota aktif grup Gesah Cara Using Banyuwangenan Aselai didominasi berusia di atas 30 tahun.

Menurut Hasan, anggota muda lebih pasif karena grup sering membahas topik-topik ‘berat’ seperti sejarah, budaya dan bahasa daerah. Sering pula berdiskusi ilmiah dengan sajian data dan literatur.

“Itulah yang membuat anak muda sering tidak nyambung dengan isi diskusi. Jadi grup kami terkesan eksklusif,” kata Hasan.

Menembus Banyak Hambatan

Antariksawan Jusuf, mengunggah gambar wadah nasi dari anyaman bambu ke grup Pelajaran Bahasa Using di Facebook, 4 Agustus 2018. Ia memberi keterangan, bahwa dalam bahasa Using, wadah nasi tersebut bernama kemarang.

Lain waktu, dia mengunggah perbedaan kata “reweg” dan “rewek”. Dalam bahasa Using, reweg berarti menggerai rambut. Sedangkan rewek berarti sibuk karena banyak anak.

Demikianlah cara Antariksawan Jusuf memperkenalkan kosakata bahasa Using kepada publik. Grup yang dibuat 2016 tersebut dikelola oleh paguyuban Sengker Kuwung Belambangan, komunitas penggiat Bahasa Using yang diketuai oleh Antariksawan, perantau yang kini tinggal di Jakarta.

Grup itu dibuat khusus bagi mereka yang ingin belajar bahasa Using sesuai kaidah yang baku. Termasuk pula sebagai tempat tanya jawab bagi siswa, wali murid, dan guru yang kesulitan dengan pelajaran Bahasa Using di sekolahnya.

Di Facebook, Sengker Kuwung Belambangan juga membuat grup Cerpen Using dan akun organisasi. Menurut Antariksawan, media sosial menjadi strategi mereka untuk menjangkau generasi milenial agar lebih akrab dengan bahasa daerahnya.

“Medsos sangat membantu kampanye kami terkait penggunaan bahasa tulis yang baku,” kata Antariksawan dalam surat elektroniknya.

Paguyuban Sengker berdiri 2013 dengan 14 anggota dari pelbagai usia dan profesi. Mereka tergerak membuat organisasi karena prihatin dengan bahasa daerahnya yang kian terpinggirkan di kampungnya sendiri.

Menurut Antariksawan, makin banyak keluarga yang meninggalkan bahasa Using untuk bercakap sehari-hari sehingga tidak terwariskan ke anak-anak.

Tak hanya aktif berkampanye di media sosial, Sengker Kuwung Belambangan juga telah menerbitkan 24 buku berbahasa Using berbagai genre mulai dari kumpulan cerpen, kumpulan cerita anak, kumpulan puisi, kumpulan artikel populer, buku musik, novel, penunjang pelajaran sekolah, dan permainan kuartet muatan lokal.

Bahkan salah satu novel bahasa Using yang mereka terbitkan, Agul-agul Belambangan, mendapatkan penghargaan Satra Rancage tahun 201. Meski dimasukkan ke kategori Bahasa Jawa, karya Mohammad Syaiful itu mengalahkan 19 karya sastra lainnya.

Tanpa dukungan media tulis, kata Antariksawan, bahasa tutur akan cepat memudar. Apalagi pelestarian bahasa Using memiliki banyak hambatan di ‘rumahnya’ sendiri, meski telah dilindungi melalui Perda No 5 Thn 2007 tentang Pembelajaran Bahasa Daerah pada Jenjang SD.

Lewat perda tersebut, bahasa Using sebelumnya wajib diajarkan sebagai muatan lokal di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

Namun pengajaran di SMP terhenti setelah Pemerintah RI memberlakukan Kurikulum 2013, yang mewajibkan guru mengajar sesuai bidang keilmuannya. Sementara, belum ada guru sarjana Bahasa Using.

“Sehingga Bahasa Using saat ini hanya diajarkan di tingkat SD oleh guru kelasnya. Itupun tanpa didukung oleh ketersediaan buku baru sehingga siswa tidak memiliki buku pengayaan.”

Hambatan paling berat, kata dia, adalah terbitnya Pergub No 19 Thn 2014 tentang Mata Pelajaran Bahasa Daerah Sebagai Muatan Lokal Wajib di Sekolah/Madrasah.

Dalam Pergub tersebut, Pemerintah Provinsi hanya mengakui muatan lokal Bahasa Jawa dan Madura di sekolah.

Di tengah kurangnya dukungan pemerintah itulah, paguyuban Sengker Kuwung Belambangan, bergerak indie menggelar pelatihan menulis dan lomba. “Supaya pengajaran bahasa Using kepada anak-anak SD tidak mati sia-sia,” kata Antariksawan, berharap.

Dian Hariyono, guru kelas IV SDN IV Penganjuran Banyuwangi, mengatakan, dia sangat mengandalkan internet untuk memperkaya materi Bahasa Using di kelas.

Selama ini materi ajar muatan lokal Bahasa Using sangat kurang, karena hanya bersumber dari lembar kerja siswa.

“Sementara buku materi ajar yang diterbitkan tahun 2007 sudah rusak dan tidak ada terbitan baru. Jadi saya sering meminta siswa untuk mencari referensi di internet,” katanya yang sudah 12 tahun mengajar Bahasa Using.

Di tingkat SD, muatan lokal Bahasa Using diberikan di kelas 4,5 dan 6 dengan durasi 2 jam setiap pekan.

Peneliti Balai Bahasa Jawa Timur, Oktavia Vidiyanti, menuturkan, hadirnya internet sangat mendukung pelestarian bahasa daerah, karena dapat menjangkau generasi muda.

Melalui diskusi dan literasi yang intens di media sosial, kata dia, dengan sendirinya dapat mempertahankan eksistensi bahasa daerah. “Media sosial itu bisa membuat bahasa daerah bertahan,” kata dia.

Namun karena sifat media sosial yang terlalu bebas, kata dia, harus diimbangi oleh hadirnya komunitas-komunitas pengampu, seperti di Banyuwangi.

Komunitas pengampu itu yang harus melakukan edukasi bagaimana pemakaian bahasa daerah secara baku.

Balai Bahasa Jawa Timur mencatat ada empat bahasa daerah di Provinsi Jawa Timur yakni Jawa, Madura, Using dan Pendhalungan. Dari jumlah itu, bahasa Using dan Pendhalungan tergolong terpinggirkan.

Bahasa Using saat ini dituturkan oleh warga di 9 kecamatan dari total 25 kecamatan. Kondisinya pun, kata Okta, makin terdesak oleh bahasa daerah lain seperti Jawa dan Madura, terlebih setelah terbitnya Peraturan Gubernur Nomor 19 Tahun 2014.

Dalam penelitiannya, Vitalitas Bahasa Using Banyuwangi Berhadapan dengan Peraturan Gubernur Jawa Timur No 19 Tahun 2014: Kisah Penyudutan Bahasa Using Banyuwangi (2016), Okta menulis, bahwa pergub tersebut dapat memunculkan benih-benih persaingan linguistik di Banyuwangi.

Dampaknya, bahasa Jawa menjadi lebih dominan, sedangkan bahasa Using tersisihkan di tempatnya sendiri.

Padahal, dari hasil penelitian Okta tersebut, bahasa Using punya vitalitas lingusitik yang tinggi bagi para pemakainya serta memiliki kamus, ejaan, dan tata bahasa yang dilindungi melalui Perda Banyuwangi No 5 Thn 2007.

Maka, kata dia, pelestarian bahasa daerah seperti Using tidak cukup dilakukan oleh komunitas-komunitas di media sosial saja. Melainkan juga harus didukung oleh pemerintah daerah, salah satunya dengan meninjau ulang Pergub No 19 Thn 2014. (ist)

Add Comment