PT PLN Jatim Ikut Kembangkan Desa Wisata Budaya

foto
Lewat PLN Peduli, PT PLN Distribusi Jatim mengembangkan Desa Wisata Budaya. Foto: Kabargress.com.

PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur mulai membantu warga Desa Sendi, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, dalam upaya mengembangkan potensi wisata budaya dan adat disana sehingga bisa dikenal masyarakat luas.

Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PT PLN Distribusi Jatim, Pinto Raharjo, di kantor Surabaya, Selasa (28/8), mengatakan kampung tersebut memiliki adat istiadat sangat kuat yang dilestarikan sampai saat ini.

Sehingga dibutuhkan usaha untuk mempertahankannya. “Karena itulah PLN datang kesana, memberikan bantuan untuk pembangunan sarana dan prasarana kampung wisata Sendi ini menjadi lebih baik lagi,” tandas Pinto seperti diaporkan kabargress.com.

Pada tahap awal, PLN menggelontorkan anggaran sebesar Rp150 juta, untuk pembangunan tempat ibadah, gapura, jalan setapak, dan tempat ber swafoto berbentuk balon udara, dengan latar belakang pemandangan gunung. “Ada branding PLN di balon udara tersebut,” ujarnya.

Desa Wisata Sendi, bukan Desa Wisata pertama yang mendapat suport dari PLN Distribusi Jatim, sebelumnya ada Pantai Cacalan, Banyuwangi. Pinto mengatakan, bentuk suport tersebut, diharapkan dapat memberdayakan masyarakat setempat.

Dijelaskan Pinto, Desa Sendi menjual wisata pemandangan lereng pegunungan. Lokasi ini masih asri, karena belum banyak terjamah oleh kehidupan moderen. Untuk itu, PLN berupaya membangun kampung ini untuk wisata Budaya.

“Kalau sudah berhasil dan tertata rapi, PLN nanti akan merencanakan penghijauan beberapa petak tanah di kawasan tersebut dengan tanaman produktif sehingga bisa untuk peningkatan perekonomian warga,” ungkapnya.

Untuk diketahui Sendi adalah “desa adat” di Jatim. Desa harus diberi tanda kutip karena sampai sekarang eksistensi mereka sebagai desa belum sepenuhnya diakui.

Sendi yang terletak di antara dua destinasi populer di Jatim, Pacet, Kabupaten Mojokerto, dan Kota Batu, itu dahulu sebuah desa sendiri. Tapi, mendadak “hilang” dari peta Kabupaten Mojokerto pada 1989.

Saat ini Sendi masih tergabung dengan Desa Pacet, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Padahal, kedua desa itu terpisah jarak sekitar 7 kilometer.

Pemkab Mojokerto sebenarnya sudah turun tangan. Mengajukan ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) agar Sendi bisa jadi desa sendiri. Tapi, Kemendagri melalui Pemprov Jatim menolaknya sekitar sepekan menjelang Idul Fitri tahun ini.

Dengan alasan, berdasar UU Desa, jumlah penduduk di kampung tersebut kurang dari standar sebuah desa. Untuk bisa diakui sebagai desa, kampung itu harus memiliki 1.200 KK (kepala keluarga) atau 6 ribu jiwa. Padahal, jumlah warga Sendi saat ini tak sampai separonya. Hanya 668 jiwa atau 323 KK.

Namun, penolakan itu sama sekali tak menyurutkan semangat warga desa yang mengklaim sebagai keturunan pendiri Majapahit, kerajaan terbesar Nusantara yang berpusat di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, itu.

Menurut Pj Kades Sendi Sucipto, seharusnya Sendi ditetapkan sebagai desa berdasar Permendagri No 52 Tahun 2014 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat. “Kami kan masyarakat khusus,” kata Sucipto ketika itu.

Sendi memang memiliki sejumlah adat khas yang berbeda dengan desa-desa lain di Kabupaten Mojokerto. Di antaranya, ngangsu banyu kahuripan.

Ritual itu dilakukan dengan mengambil air dari Bhabakan Kucur Tabud. Dilakukan secara bersama-sama oleh warga masyarakat adat Sendi. Baik laki-laki maupun perempuan. Mulai tua-muda hingga anak-anak. Semuanya turut terlibat.

Dengan menggunakan peralatan timba tradisional yang terbuat dari bambu petung (cukil). Ritual itu dilakukan tiap bulan. Persisnya tiap Jumat Legi.

Sucipto menjelaskan, tujuan dilakukan kegiatan itu adalah perwujudan rasa syukur kepada Tuhan. Atas limpahan keberkahan yang dirasakan dan dinikmati warga masyarakat adat Sendi. “Melalui sumber air dan Babhakan Kucur Tabud,” terangnya.

Aksi rutin itu kerap mencuri perhatian warga. Banyak sekali para pengunjung dan untuk mangambil air tabud setelah kunjungan yang ketiga baru mendapatkan kesembuhan.

Kucur Tabud juga dipakai untuk memandikan seorang perempuan yang sedang hamil ketika mencapai usia kandungan 3 bulan dan 7 bulan. Warga yakin, ritual itu mampu memberikan keberkahan bagi ibu dan anak yang akan dilahirkan.

Warga Sendi juga memiliki aturan sendiri dalam menyelesaikan persoalan. Urun rembuk masih menjadi budaya yang melekat dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi di lingkungannya. Mereka juga punya Satriyo Wayah. Organisasi anak-anak muda yang turut bertugas menjaga pelestarian tradisi di Sendi. (ist

Add Comment