Dijamin Ingat Mati Bila Masuk Museum Ini

foto
Dijamin ingat mati bila masuk museum ini. Foto: Hilda Meilisa Rinanda/Detikcom.

Memasuki museum ini, hawa seram akan langsung menyergap karena adanya berbagai jenis makam dan kerangka. Untuk menambah suasana, dupa pun dibakar hingga aromanya memenuhi ruangan.

Tak hanya itu, ada pula suara-suara hantu dan jangkrik yang bersahutan. Dijamin pengunjung akan mengingat kematian saat memasuki museum ini.

Ternyata ini adalah salah satu museum yang berada di dalam kawasan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, tepatnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang terletak di area kampus B.

Namun keberadaan museum yang dikelola Departemen Antropologi, Universitas Airlangga ini bukanlah untuk acara jurit malam semata tetapi untuk alasan ilmiah. Ini bisa terlihat dari namanya, Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian.

Hanya saja di mata publik, nama Museum Kematian lebih melekat dan lebih populer karena banyaknya replika makam lengkap dengan ‘penghuninya’ di sana.

Salah satu pengurus museum, Desi Bestiana mengatakan museum ini memperlihatkan berbagai replika bentuk makam yang ada di Indonesia. Misalnya makam Islam, makam Belanda, Tionghoa, Nasrani, sampai makam-makam khas beberapa suku di Toraja hingga Bali.

“Di sini ada makam Islam, Belanda, Tionghoa, Nasrani, Sulawesi Utara, Bali, Toraja,” kata Desi saat ditemui detikcom di lokasi, Selasa (4/9).

Namun ‘penghuni’ makam dijamin bukan replika lho, melainkan kerangka manusia betulan yang diperoleh pengelola dari kepolisian. Dengan kata lain, kerangka-kerangka itu adalah milik jenazah tanpa identitas.

Desi menegaskan, sejak awal didirikan di tahun 2006, museum ini memang bertujuan untuk media pembelajaran kepada mahasiswa. Maklum saja saat Praktek Kerja Lapangan (PKL), mahasiswa antropologi biasanya akan ke luar kota dan melihat berbagai kebudayaan, salah satunya budaya saat memakamkan jenazah.

Dari situlah muncul gagasan untuk merangkum budaya memakamkan jenazah yang unik-unik yang ada di penjuru Indonesia.

Akan tetapi Desi menambahkan, dengan adanya museum ini, mahasiswa bisa memahami bagaimana tubuh manusia saat meninggal nanti. Sebab menurutnya, kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Namun jika dipelajari, kematian bisa dihadapi dengan lebih enjoy.

“Jadi museum ini juga mengingatkan mahasiswa tentang kematian. Bagaimana tubuhnya nanti, dan diharapkan bisa menghadapi kematian dengan lebih enjoy ya,” harapnya. (dtc)

Add Comment