BPCB: Struktur Bata Situs Klotok Adalah Candi

foto
Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar meninjau lokasi penemuan candi baru. Foto: Didin Saputro/JawaPos.com RadarKediri.

Bentuk struktur situs di salah satu puncak bukit Klotok, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri mulai terkuak. Itu setelah tim arkeologi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur melakukan proses ekskavasi selama sepekan.

BCPB memastikan, situs terdapat candi dari bata. Diperkirakan bangunan peninggalan sejarah yang masih satu kompleks dengan kawasan Goa Selomangleng.

“Sebenarnya kami sudah melakukan peninjauan pada 1994 dan 2006. Namun baru bisa menindaklanjuti dan ekskavasi sekarang,” ujar Kepala Unit Penyelamatan dan Pengamanan Cagar Budaya BPCB Jatim Nugroho Harjo Lukito, pekan lalu seperti dikutip Radar Kediri Jawapos.

Dia menyampaikan, pada 1994 pernah melakukan kajian pile integrity testing (PIT) di struktur candi. Saat itu BPCB masih bernama Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan. “PIT tes untuk mengetahui kebenaran, apakah situs di Gunung Klotok ini situs kuno apa bukan,” kata Nugroho.

Selanjutnya pada 2006, BPCB meninjau kembali situs Klotok ini. Setelah 12 tahun usai peninjauan dari BPCB Jatim, akhirnya tahun ini proses ekskavasi bisa benar-benar dilakukan.

“Sebenarnya kami sudah lama ingin melakukan ekskavasi, karena ada temuan lain dan tim terbatas, sehingga kami dialihkan ke ekskavasi situs lain terlebih dahulu,” jelas pria yang juga ketua tim ekskavasi ini.

Meskipun baru digali sebagian, Nugroho memastikan bahwa bentuk struktur merupakan candi. Sebelumnya hanya tampak bongkahan bata berserakan.

“Ekskavasi pertama bisa dikatakan separo lebih. Struktur dan bentuk candi juga sudah terlihat. Sehingga kami bisa memprediksi bentuknya keseluruhan,” papar dia saat dijumpai Jawa Pos Radar Kediri di sela proses ekskavasi.

Nugroho menjelaskan, bentuk candi bujur sangkar. Ada dua anak tangga di bagian depan (barat candi). Namun salah satu struktur bagian tangga sudah rusak. Hal ini karena ada tekanan pohon yang membuat konstruksi hancur.

Selama ini di atas candi cukup banyak ditumbuhi pohon. Bahkan akarnya sudah sampai masuk di sela badan candi. Itu yang membuat cukup banyak kerusakan. Bahkan beberapa permukaan candi miring dan hampir roboh.

“Kami tidak bisa mengetahui bentuk struktur bagian depan candi, karena konstruksi anak tangganya sudah hilang,” tegasnya.

Meski demikian, pada bagian depan, dipastikan masih tersisa bekas yang mengindikasikan anak tangga tersebut benar-benar ada di sisi tersebut.

Sementara pada bagian badan candi terlihat datar dan polos, tidak tampak satu relief pun yang menghiasi candi. Badan candi yang masih tersisa sekitar 60 sentimeter (cm). “Badan candi yang tersisa itu bisa dijadikan sebuah model kalau suatu saat dilakukan rekonstruksi,” ungkapnya.

Sementara pada bagian lain, yakni fondasi candi ada dua bagian. Masing-masing terdiri atas 9 susun bata. Namun fondasi kedua letaknya di atas permukaan tanah. Fondasi tersebut lebih sempit daripada fondasi pertama yang ada di dalam tanah. Dengan ketinggian dari dasar tanah 70 cm.

“Sebenarnya kedua fondasi tersebut terpendam. Fondasi ini ada semacam pengerasan di bagian luar berupa batu split. Itu untuk fondasi bawah. Sementara fondasi atas pengerasannya menggunakan fragmen bata yang dihancurkan,” bebernya.

Kondisi bagian atas candi sudah tidak utuh. Kondisinya roboh dan strukturnya berserakan. Sehingga puncak terlihat datar dengan ditumbuhi semak.

Ketika proses ekskavasi hari terakhir tampak Wali Kota Abdullah Abu Bakar melakukan peninjauan. Dia menyampaikan, keinginan Pemkot Kediri mengekskavasi struktur Candi di Gunung Klotok sudah terbesit sejak 2010 silam.

Bahkan juga sudah membuat surat ke BPCB Jatim, namun belum bisa dilaksanakan lantaran masih banyak situs lain yang butuh penanganan dari pihak terkait.

“Saat itu kita harus antre, karena masih banyak temuan-temuan dari daerah lain. Sehingga baru tahun ini bisa dilakukan penggalian,” jelasnya.

Abu sangat mengapresiasi kinerja BPCB ini. Dia merasa bangga dan senang. Karena dengan temuan ini, bisa membuka peninggalan sejarah baru yang selama ini terpendam. Abu menyebut bahwa selama ini, di Kota Kediri sangat sedikit peninggalan yang ditemukan.

“Dengan ditemukannya ini, setidaknya kita akan mengetahui sedikit demi sedikit peninggalan sejarah, khususnya dari Kerajaan Kediri,” tegasnya.

Harapannya, Candi Klotok ini ke depan bisa menarik wisatawan ke Kota Kediri. Terutama pencinta sejarah, karena selain wisata Goa Selomangleng, nanti candi baru ini juga akan menjadi paket wisata yang bakal menjadi daya tarik tersendiri.

Kegiatan Ekskavasi
Tim Ekskavasi BPCB Jatim dalam laporannya keoada Ditjen Kebudayaan Kemdikbud menyebut Candi Klotok berdenah persegi empat dimensi panjang 7,5 meter dan lebar 7,5 meter. Arah hadap candi ke barat mengikuti arah mata angin(konsep Kosmis) dengan menempatkan jalan masuk di sisi barat.

Jalan masuk dilengkapi anak tangga beserta pipi tangga yang terletak di ujung selatan dan ujung utara struktur candi. Secara keseluruhan dinding struktur mengecil kebagian atas yang tersusun dari pelipit terbuka(ratta) dan pelipit sisi genta. Dinding tertinggi utuh dari selasar sekitar 180 cm yang tersusun dari 23 lapis bata tampak pada dinding sisi timur.

Secara keseluruhan bentuk struktur candi yang tersisa berupa fondasi candi, kaki candi dan sebagian kecil struktur yang menyisakan badan candi. Temuan lain berupa pripih yang ditemukan di dekat sudut fondasi sisi barat laut pada kotak U2T2.

Konstruksi penyusun dinding struktur candi menggunakan bahan batu bata terdiri dari batu bata kulit (outerstone) dan batu bata isian(innerstone) pada bagian tengah.

Batu bata kulit berupa susunan bata polos maupun berprofil yang menggunakan teknik rubbing( gosok) tanpa spesi, yaitu dengan cara mengosokan antar bata. Rata-rata bata-bata penyusun dinding struktur berukuran panjang 38-40 cm, lebar 20-23 cm dan tebal 7-9 cm. (ist)

Add Comment