Sekilas Mengenal Istana-Istana Kepresidenan

foto
Wajah lama Istana Negara di Batavia dalam sebuah lukisan. Foto: Diversity.id.

Indonesia mempunyai beberapa Istana Kepresidenan sebagai penunjang kinerja Presiden RI. Istana-istana ini, selain sedemikian rupa mampu memfasilitasi kerja sehari-hari presiden, juga mengundang decak kagum para wisatawan domestik maupun mancanegara.

Nah, seperti apakah Istana-istana Kepresidenan RI itu? Berikut laporan seperti ditulis Diversity.id.

Istana Negara

Istana Negara dibangun pada 1796, pada masa kolonial, oleh J.A.van Braam Rijswijk, seorang warga negara Belanda, untuk kediaman pribadinya. Pada 1821, bangunan ini dibeli dan diambil ahli oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, serta digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan dan kediaman para Gubernur Jenderal.

Selama masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, banyak peristiwa penting yang terjadi di gedung yang waktu itu dikenal dengan nama Istana Rijswijk (Paleis te Rijswijk). Di sinilah Jenderal de Kock dan Gubernur Jenderal Baron van der Capellen menyusun rencana menggilas pemberontakan Pangeran Diponegoro serta mengkreasi strategi menghadapi Tuanku Imam Bonjol.

Sistem tanam paksa pun (cultuur stelsel), dicetuskan oleh Gubernur Jenderal Johannes van de Bosch dari tempat ini. Bukan hanya peristiwa-peristiwa dari sisi penjajahan itu saja; Pada 25 Maret 1947, di tempat ini pun diadakan penandatanganan Naskah Persetujuan Linggarjati yang diwakili oleh Sultan Sjahrir dari pihak Indonesia dan pihak Belanda oleh Dr. Van Mook.

Di masa Kolonial Belanda, istilah “istana” sempat dihapuskan dan diganti dengan Hotel van den Gouverneur-Generaal (Hotel Gubernur Jenderal). Lantaran, para Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu lebih banyak yang memilih tinggal di Bogor karena udara yang lebih sejuk Kadang-kadang saja mereka harus turun ke Batavia untuk menghadiri pertemuan atau menjamu tamu kenegaraan.

Istana Negara terdiri dari dua ruangan utama yakni ruang penerima tamu dari negara lain (Ruang Penjamuan) dan Ruang Upacara. Ruang Upacara ini dulunya sempat dipakai sebagai ruang dansa (ballroom) pada masa Hindia Belanda.

Kini, Istana Negara ini berfungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan negara dan menjadi tempat penyelenggaraan acara yang bersifat kenegaraan. Misalnya pelantikan pejabat setingkat menteri negara, pembukaan musyawarah, rapat kerja nasional, dan pembukaan kongres yang bersifat nasional maupun internasional.

Tentu saja, ia pun dipakai sebagai tempat menjamu tamu kenegaraan. Di dalam istana ini pun, kita bisa menemukan lukisan-lukisan penting dari para pelukis ternama Indonesia mau pun dunia.

Istana Merdeka
Istana yang berada satu kompleks dengan Istana Negara ini mulai dibangun pada 1873, kala Jenderal Louden menjabat sebagai Gubernur Jenderal, dan baru berakhir pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johan Willem van Landsbarge.

Bangunan ini dirancang oleh Drossares, arsitek berkebangsaan Belanda. Istana ini dinamakan Istana Merdeka karena di sanalah, pada 27 Desember 1949, ditandatanganilah naskah Pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Pemerintah Belanda. Ketika itu, Republik Indonesia Serikat diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX sedangkan Kerajaan Belanda diwakili oleh A. H. J Lovink.

Pada era Presiden Soekarno, Istana Merdeka masih memiliki ruang-ruang terbuka yang luas. Sehingga, meski dikelilingi pagar, istana ini masih memberikan kesan terbuka dan luas. Bahkan, beberapa bagian di beranda terbuka itu dilengkapi dengan kursi rotan. Di situlah biasanya Presiden Soekarno dalam suasana yang santai menemui dan menjamu tamu-tamunya, termasuk juga melayani wawancara para wartawan.

Pada 1958, arsitek R.M. Soedarsono membangun Masjid Baiturrahim di samping barat Istana Merdeka. Masjid Baiturrahim selesai dibangun pada 1961. Masjid ini lantas diperluas ke bagian sisi selatan dengan bangunan yang simetris dengan sisi utara Pada era Presiden Habibie.

Istana Bogor
Sebagaimana namanya yang sudah dengan jelas menunjukkan keberadaannya, istana kepresidenan yang satu ini terletak di Kota Bogor. Istana Bogor dibangun pada Agustus 1744, awalnya sebagai rumah peristirahatan.

Pada 1834, ketika terjadi gempa dahsyat akibat letusan Gunung Salak, bangunan ini rusak berat. Setelah dibangun kembali pada 1850, Istana Bogor lantas pada 1870 dijadikan kediaman resmi Gubernur Jenderal Kolonial Hindia Belanda.

Pada 1950, Istana Bogor resmi menjadi salah satu istana Kepresidenan Republik Indonesia. Keunikan lainnya dari istana ini yaitu keberadaan Kebun Raya Bogor yang terletak di sampingnya.

Selain itu, di Istana Bogor bisa dijumpai rusa-rusa yang bebas berkeliaran di depan istana. Rusa-rusa ini didatangkan langsung dari Nepal pada 1808 dan keberadaan mereka masih tetap terjaga sampai sekarang.

Istana Cipanas
Sejak didirikannya pada masa pemerintahan Belanda, Istana Kepresidenan Cipanas difungsikan sebagai tempat peristirahatan dan persinggahan. Alam di sekeliling istana ini amatlah indah dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjungnya.

Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal G.W. Baron van Imhoff, Istana Cipanas sempat beralih fungsi menjadi pusat kesehatan. Di sekitarnya dibangun gedung-gedung kesehatan. Gedung-gedung lain di sekitarnya pun sempat dijadikan gedung pengobatan bagi anggota militer Kompeni.

Setelah kemerdekaan Indonesia, secara resmi gedung tersebut ditetapkan sebagai salah satu Istana Kepresidenan Republik Indonesia dan fungsinya tetap digunakan sebagai tempat peristirahatan Presiden atau Wakil Presiden Republik Indonesia beserta keluarganya.
Berbeda dengan istana kepresiden lainnya, Istana Cipanas tidak digunakan untuk menerima tamu dari negara asing, tetapi hanya digunakan untuk tempat peristirahatan bagi Presiden dan Wakilnya serta keluarganya.

Jika dilihat dari segi gaya arsitekturnya, Istana Kepresidenan Cipanas punya keunikan dibandingkan dengan istana-istana kepresidenan lainnya; ia tidak terkesan megah, tetapi anggun karena bangunannya ber gaya tradisional dan sebagian besar bangunan terbuat dari papan dan kayu.

Gedung Agung Yogyakarta
Awal mula Istana Kepresidenan Yogyakarta adalah rumah kediaman resmi Anthonie Hendriks Smissaert, Residen Ke-18 Yogyakarta (1823-1825). Gedung Agung didirikan pada bulan Mei 1824 dengan arsitek A Payen. Payen ditunjuk oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk membangun gedung dengan gaya arsitektur Eropa yang disesuaikan pada iklim tropis.

Perang Diponegoro yang berlangsung pada 1825-1830, yang oleh Belanda disebut Perang Jawa, mengakibatkan pembangunan gedung ini tertunda. Pembangunan kembali dilanjutkan setelah perang itu usai pada1832.

Pada 10 Juni 1867, terjadi musibah gempa bumi dua kali berturut-turut di Yogyakarta. Rumah ini pun ambruk. Bangunan baru pun lantas didirikan dan rampung pada tahun 1869 dan menjadi Gedung Induk Kompleks Istana Kepresidenan Yogyakarta yang sekarang disebut Gedung Negara.

Gedung Agung ini pernah menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia selama masa revolusi. Pada masa pendudukan Jepang, istana ini menjadi kediaman resmi penguasa Jepang di Yogyakarta, Koochi Zimmukyoku Tyookan.

Istana Tampaksiring
Tampaksiring berasal dari bahasa Bali; Tampak yang bermakna ‘telapak‘dan siring yang bermakna ‘miring’. Alkisah, menurut legenda yang tercatat pada daun lontar Usana Bali, wilayah itu pernah dilalui Raja Mayadenawa dengan cara memiringkan telapak kakinya demi menghapus jejaknya agar tidak diketahui oleh Batara Indra.

Istana Kepresidenan Tampaksiring merupakan satu-satunya Istana Kepresidenan yang dibangun setelah Kemerdekaan Indonesia. Pembangunannya dimulai pada 1957 dan selesai pada 1960.

Istana ini dibangun atas inisiatif Presiden Soekarno yang menginginkan adanya tempat peristirahatan bagi Presiden Republik Indonesia beserta keluarga serta bagi tamu-tamu negara yang berkunjung ke Bali. Istana Tampaksiring dibangun secara bertahap.

Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira dibangun oleh R.M Soedarsono pada 1957. Pembangunan berikutnya dilaksanakan pada 1958.

Selanjutnya, untuk kepentingan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN yang diselenggarakan di Bali pada 7-8 Oktober 2003, dibangunlah gedung baru beserta fasilitas-fasilitasnya untuk pelaksanaan konferensi. Selain itu, di Istana Kepresidenan Tampaksiring dilakukan renovasi Balai Wantilan. (ist)

Add Comment