Dedikasi Peter Kasenda pada Sejarah Indonesia

foto
Almarhum Peter Kasenda. Foto: Istimewa.

Indonesia telah kehilangan salah satu sejarawannya. Peter Kasenda, sejarawan yang setahun terakhir bekerja sebagi tenaga ahli di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu ditemukan meninggal di kediamannya, Senin 10 September 2018 lalu.

Kabar duka pun menyebar. Berbalas ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan. Semuanya larut dalam rasa kehilangan.

Seperti dilaporkan Terakota.id, untuk mengenang Peter Kasenda, Intrans Reading Corner bekerjasama dengan Terakota.id, KP3, Komunitas Kalimetro, Kedai Kalimetro, MCW, dan Intrans Institute akan menggelar diskusi bertajuk “Dedikasi Hidup Pada Sejarah Indonesia”, di Wisma Kalimetro, Jl. Joyosuko Metro 42A Kota Malang.

FX Domini BB Hera, sejawat Peter Kasenda sekaligus peneliti CCFS Universitas Brawijaya, didapuk jadi salah satu pembicara. Selain itu ada, Intan Cahyaning Handoyo SPD, guru sejarah SMAN 4 Malang, dan As’ad S. Arifin, jurnalis yang punya kedekatan dengan Peter Kasenda.

Selama ini Peter Kasenda termasuk sosok akademisi, peneliti, ataupun sejarawan yang langka. Ia penulis yang produktif. Belasan buku telah ia lahirkan.

Manusia dalam Pusaran Sejarah dan Cendekiawan dalam Arus Sejarah merupakan dua bukunya yang tergolong terakhir. Keduanya diterbitkan, Intrans Publishing, Malang.

Peter juga pribadi yang ramah, sederhana, supel dan ringan kaki diajak diskusi kemanapun. Peter tidak menjaga jarak dan pilih-pilih dalam membagi ilmunya. Di kedai kopi pun Peter Kasenda akan tetap hadir dan antusias.

Ketika itu Peter Kasenda pembicara di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang. Ia berbagi pengetahuan tentang Desoekarnoisasi kepada kawan-kawan mahasiswa. Ia tidak memusingkan berapa pun jumlah peserta yang hadir.

Ia selalu berfikir untuk tidak merepotkan orang lain. Tidak mau dijemput. Tidak mau diuruskan penginapan. Sederhananya, sepanjang ia bisa urus sendiri, ia tidak mau merepotkan orang lain.

Peter lahir di Bandung, menyelesaikan studi Sastra Perancis dan Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra yang saat ini menjadi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI), 1980.

Selama menjadi mahasiswa, Peter berproses di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Bisa jadi, karena itu juga Peter merasa dekat dengan Soekarno.

Peter mengulik Soekarno dari mulai soal percintaan, pemikiran, hari-hari terakhir Soekarno, dan termasuk praktik De-Soekarnoisasi oleh Orba. Yakni upaya memperkecil dan menghapus peran Soekarno dalam sejarah bangsa Indonesia. (ist)

Add Comment