Ekskavasi Petirtaan Kuno di Pasuruan Ditolak Warga

foto
Petirtaan Kuno di Pasuruan. Foto: Muhajir Arifin/Detikcom.

Karena alasan mistis, warga menolak dilanjutkannya proses ekskavasi situs petirtaan kuno yang ditemukan di Dusun Sendang, Desa Manikrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto pun mengharapkan peran aktif pemerintah daerah.

“Prinsipnya kami berusaha menyelamatkan situs purbakala. Ekskavasi situs Manikrejo akan kami lakukan jika ada persetujuan warga,” kata Kepala Unit Penyelamatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto, Nugroho Harjo Lukito kepada Detikcom, Rabu (26/9.

Sejak ditemukan pada April lalu, BPCB Mojokerto telah melakukan kajian dan penelitian ke lokasi. Sejumlah benda yang ditemukan di sekitar situs seperti koin, bata dan gerabah juga sudah diteliti.

Meski demikian BPCB belum dapat memastikan periodisasi situs tersebut karena masih banyak data yang harus dikumpulkan. Untuk memaksimalkan data, dibutuhkan proses ekskavasi namun ditolak warga karena alasan mistis.

“Peran pemda setempat sangat penting. Menyadarkan dan memberikan pendidikan bahwa ekskavasi situs sangat penting demi pelestarian cagar budaya. Pemda seharusnya bisa mengatasinya agar tak khawatir dampak mistis jika dilakukan penggalian dan pemugaran,” terang Nugroho.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan Agung Mariyono juga mengaku sudah melakukan sejumlah upaya teknis untuk membantu BPCB Mojokerto. Namun ketika warga mengajukan penolakan, pihaknya tak bisa berbuat banyak.

“Kalau urusan dengan kepercayaan masyarakat seperti itu susah. Memang butuh waktu. Yang jelas, untuk (dana) perawatan, sudah kita anggarkan pada 2019,” ungkap Agung terpisah.

Hal itu dilakukan karena meski tak diekskavasi, situs Manikrejo harus tetap dijaga dan dirawat.

Penemuan situs petirtaan di Dusun Sendang, Desa Manikrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, dilaporkan pada 30 April 2018.

Bangunan tersebut berupa kolam berada di tengah persawahan di bawah pepohonan besar berusia tua. Bangunan petirtaan kuno tersebut perkirakan seluas 33 x 15 meter. Namun sebagian masih terkubur tanah.

Sebelum diketahui ada bangunan purbakala, warga menganggapnya kolam tua biasa. Warga memanfaatkan air kolam untuk irigasi dan mandi. Bahkan beberapa warga memanfaatkan air kolam sebagai pengobatan dengan cara berendam. (dtc)

Add Comment