Saat 21 Artis ‘Nyaleg’ di Jawa Timur

foto
Andre Hehanusa, Caleg PDI Perjuangan saat audiensi dengan Tri Rismaharini. Foto: Istimewa.

Menjelang pemilu legislatif (pileg) 2019, sejumlah nama artis ibu kota bersaing untuk bisa memikat suara publik di Jawa Timur. Popularitas para artis tersebut dianggap efektif sebagai vote getter atau penarik suara.

Jawa Timur bertabur “bintang” setelah terdapat 21 nama artis yang dipastikan nyaleg di dapil Jawa Timur pada Pileg 2019 mendatang.

Caleg artis dari Partai Nasdem ada 11 orang, kemudian caleg artis dari PAN ada 4 orang, PDI Perjuangan 3 orang, PKB 2 orang, dan Partai Gerindra 1 orang.

Dari Dapil Jatim I, terdapat nama Manohara Odelia dan Indra Maulana yang maju dari Partai Nasdem, Ahmad Dhani Prasetyo dari Partai Gerindra, kemudian Arzetti Bilbina dan Sundari Soekotjo dari PKB, serta Andre Hehanusa dari PDI Perjuangan.

Dapil Jatim II terdapat nama Rahma Sarita dari Partai Nasdem dan Dapil Jatim III ada nama Lucky Perdana dan Yuli Anita yang juga dari NasDem.

Dapil Jatim IV, Ferly Putra dan Charles Melkiansyah terdaftar sebagai caleg Partai Nasdem, serta Emilia Contessa dari PAN.

Di Dapil Jatim V, ada nama artis Venna Melinda yang maju dari Partai Nasdem dan Krisdayanti dari PDI Perjuangan.

Sedangkan dari Dapil Jatim VII, terdapat nama Alila Bachsin yang merupakan adik kandung Arumi Bachsin dan Eron Ariodito, adik Wakil Gubernur terpilih Jatim 2019-2024 Emil Elestianto Dardak. Selain itu, juga terdapat nama Denada. Ketiganya, maju sebagai caleg PAN.

Dari Dapil Jatim VIII, ada nama Ratna Listy, Dapil Jatim IX Tessa Kaunang, dan Dapil Jatim X Elma Theana. Ketiganya merupakan caleg yang maju dari Partai Nasdem.

Pengamat Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdus Salam mengatakan, artis memang memiliki modal kepopuleran, tetapi partai politik (parpol) harus tetap harus hati-hati karena pergerakan suara mulai berkembang.

“Untuk bisa diterima dan dipilih (publik), modal populer saja tidak cukup. Harus dilengkapi dengan kompetensi, kapabilitas, kapasitas, dan track record positif,” ucap Surokim kepada Kompas.com, pekan lalu.

Surokim berpendapat, investasi kader dengan hanya modal populer itu sebenarnya jalan pragmatisme politik jangka pendek. Jika tidak hati-hati, sambung Surokim, juga akan berbahaya bagi kaderisasi parpol jangka panjang.

“Apalagi investasi kader artis faktanya selama ini juga kerap berisiko dengan membuat blunder yang bsa menggerus citra positif partai. Jadi semangat partai merekrut caleg artis harus pula dibarengi kewaspadaan tinggi akan kualitas caleg itu sendiri,” kata Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya UTM itu.

Menurut Surokim, caleg dengan latar belakang artis tetap dilematis dan harus dibarengi dengan upaya sungguh-sungguh meningkatkan kapasitas dan kompetensi mereka. Tujuannya, agar bisa linier dengan tantangan lingkungan dan tumbuhnya pemilih kritis di Jawa Timur.

Selain itu, masih menurut Surokim, parpol harus tetap selektif dan melihat track record caleg artis. Apalagi, menjadi politisi saat ini, harus benar-benar bisa memahami konteks dan konten sehingga produktif dan tidak malah membebani partai dengan pikiran, sikap dan perilaku yang kontraproduktif.

“Harus diakui masih banyak caleg artis yang belum kompeten. Kebanyakan hanya tampak smart dan hanya sekadar modal nampang dan popularitas semata, itu sesungguhnya juga berbahaya bagi partai ke depan,” sambungnya.

Sementara itu, Direktur Surabaya Survei Center (SSC) Muhtar W Oetomo menilai, tak dipungkiri figur artis memiliki modal popularitas. Tetapi, dalam politik elektoral, popularitas saja belum cukup.

“Sepopuler-populernya seorang caleg, dia tetap membutuhkan pendekatan dan strategi lanjutan untuk bisa menyentuh sisi likelibilitas dan akseptabilitas pemilih,” ucap Muhtar.

Bahkan, kata Muhtar, meski caleg itu telah disukai dan diterima oleh publik, dia tetap perlu pendekatan dan strategi khusus agar di hari H pencoblosan nanti dipilih.

“Maka mengharapkan popularitas saja dari para caleg artis itu adalah berlebihan. Karena mayoritaas artis enggan turun langsung ke dapil dengan berbagai pendekatan dan strategi untuk meningkatkan likelabilitas, akseptabilitas dan elektabilitasnya,” kata Muhtar.

Dari sekian banyak artis yang “nyaleg”, menurut Muhtar, tidak cukup banyak artis yang melek politik, baik secara kognitif maupun afektif. Karena itu, mengandalkan artis sebagai caleg bukan saja menunjukkan kegagalan kaderisasi di internal partai.

Lebih dari itu, sambung Muhtar, merupakan kagagalan peran parpol yang ia nilai tidak mampu memberikan substansi pada publik, namun hanya mampu memberikan packing.

“Artis memang bisa menjadi pengumpul massa yang efektif, tapi belum tentu bisa menjadi pengumpul suara yang efektif,” ucapnya. “Sekali lagi pilihan pendekatan dan strategilah yang akan lebih menentukan seorang caleg kelak dipilih oleh publik,” kata Muhtar kemudian. (ist)

Add Comment