Tarian Saman Bukan Seni Pertunjukkan Semata

foto
Tarian Saman dari Gayo Lues NAD. Foto: Kemdikbud.go.id.

Dua kelompok tari Saman yang masing-masing terdiri dari belasan laki-laki dewasa saling duduk berhadapan di atas panggung. Tatapannya tajam, penuh konsentrasi melihat lawan yang ada di seberang.

Secara bergantian, kelompok tersebut unjuk penampilan di depan lawan, sementara sang lawan mencoba untuk mengikuti gerakan tim di depannya. Semakin tepat mengikuti gerakan tim lawan, semakin dekat tim yang bertanding menuju kemenangan.

Itulah gambaran Bejamu Saman, sebuah kompetisi antar 2 kelompok yang saling unjuk kekompakkan dan keindahan tari Saman. Contoh kompetisi tari tersebut ditampilkan dalam acara Pembukaan Festival Budaya Saman 2018 di Plaza Insan Berprestasi, Kemendikbud beberapa waktu lalu.

Kegiatan pembukaan tersebut turut dihadiri oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid, Bupati Gayo Lues Muhammad Amru, Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Nadjamuddin Ramly, serta 11 Camat yang berada di Kab Gayo Lues.

Dalam laporannya, Nadjamuddin Ramly mengatakan bahwa Festival Budaya Saman 2018 merupakan festival yang bertujuan mengangkat Saman kepada dunia.

“Seiring sudah ditetapkannya Saman sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh UNESCO pada 2011 silam, maka melalui Festival Budaya Saman ini, kita bersama-sama akan mengangkat Saman kepada dunia,” lapor Nadjamuddin Ramly.

Bupati Gayo Lues, Muhammad Amru sepakat dengan pernyataan di atas. Menurutnya, sudah waktunya untuk menjadikan tari ini bukan hanya sebagai sebuah pertunjukkan, melainkan juga sebagai lading ekonomi masyarakat.

“Sekarang saatnya menjadikan Saman sebagai ekosistem kebudayaan yang memajukan perekonomian masyarakat Gayo Lues. Salah satu upayanya adalah dengan mendirikan Saman Centre yang akan menjadi wadah perkembangan Saman, baik sebagai sebuah seni, falsafah hidup, dan juga sendi perekonomian masyarakat,” ujarnya.

“Saman itu sudah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Gayo Lues,” tutur Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud.

Pernyataan tersebut nyata kebenarannya. Saman bagi masyarakat Gayo Lues bukan hanya sekedar media ekspresi, tapi juga media untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui syair-syair yang dilantunkan. Lebih jauh, Saman juga merupakan suatu wadah ekonomi dimana pertunjukkan, pakaian, maupun aspek lainnya.

Festival Budaya Saman 2018 merupakan salah satu festival yang berkerjasama dengan Platform Indonesiana. Melalui kerja sama ini, Indonesiana turut mengupayakan pembentukan ekosistem kebudayaan Saman dan masyarakat Gayo melalui ekspresi budaya. (sumber)

Add Comment