Sisa-Sisa Seni Kentrung di Tulungagung

foto
Sebuah pertunjukan seni Kentrung di Tulungagung. Foto: Kebudayaan.id.

Kentrung, kebanyakan masyarakat mengetahuinya sebagai salah satu alat musik—serupa gitar namun memiliki ukuran lebih kecil dengan empat senar kunci atau biasa kita menyebutnya ukulele.

Faktanya Kentrung merupakan salah satu kesenian asli Indonesia, utamanya khas dari pulau Jawa. Banyak di antara masyarakat kita tidak lagi mengenal Kentrung.

Kentrung merupakan salah satu kesenian yang dimainkan oleh sekelompok orang (grup/paguyuban) dengan seperangkat alat musik khasnya. Kesenian Kentrung menyebar hampir seluruh di kawasan Jawa. Menyebar dari wilayah Semarang, Pati, Jepara, Blora, Tuban, hingga Tulungagung.

Kesenian Kentrung merupakan salah satu kesenian dengan ciri khas sama dengan wayang, yaitu kesenian bertutur (bercerita). Namun Kentrung tidak disertai dengan adegan wayang.

Kesenian Kentrung diketahui berkembang pada abad ke 16 M (Hutomo, 1993: 4). Ketika bertandang ke rumah Sang Maestro Kentrung di kabupaten Tulungagung, Alm. Mbah Gimah, ia menuturkan bahwa awal mulanya kesenian Kentrung dibawa oleh para Wali guna berdakwah.

Kesenian Kentrung sarat akan nilai-nilai ajaran Islam. Melalui dakwah yang tersirat dalam tutur bahasanya, Kentrung awal mulanya menceritakan banyak tentang ketauladanan Rasul, keempat Khalifah, masa Wali Sanga dan masa Mataram Islam.

Kentrung juga kerap kali membahas tentang nilai-nilai tasawuf. Biasanya mengupas nilai-nilai dalam berbagai topik seperti Purwaning Dumadi, Keutamaan, Kasampurnan Urip, dan Sangkan Paraning Dumadi, sebagaimana yang disebutkan oleh Sasmito Wicaksono dalam tulisannya ‘Kentrung Budaya yang Tersisa dari Tulungagung’.

Masuknya Islam pada abad ke 16 M di Jawa memang dikatakan menghadapi tantangan cukup sulit, dan media kesenian, terutama Kentrung, membantu proses penyebaran dakwah Islam.

Pada mulanya kesenian ini dimainkan oleh dua orang, yaitu dalang dan panjak dengan hanya menggunakan alat terbangan atau rebana. Menurut Mbah Bibit, salah seorang murid Alm. Mbah Gimah, kesenian Kentrung memang berasal dari Arab.

Ketika sampai di Nusantara (Indonesia), terutama Jawa, para Wali meng-akulturasi Kentrung dengan kesenian Jawa. Sunan Kalijaga menggubah Kentrung menjadi salah satu kesenian khas Jawa guna mempermudah penerimaan ‘dakwah’ yang memang menjadi tujuan kesenian ini.

Akulturasi ini menggubah kesenian Kentrung yang biasanya dimainkan oleh dua orang saja, satu dalang dan satu panjak, menjadi enam sampai tujuh orang. Dengan tambahan alat musiknya, yaitu terdiri dari kendang rebana, jidor, kentrung, ketipung, templeng dan bonang (beberapa kelompok kesenian tidak memakai alat instrumen ini).

Sepanjang pementasannya Kentrung diisi lantunan tutur dari sang dalang yang merangkap sebagai penabuh kendang, ditemani dengan panjak yang sesekali membalas tutur sang dalang diiringi oleh alunan khas Jawa oleh keempat personel lainnya. Tutur lisan ini yang kemudian disebut parikan.

Suripan Sadi Hutomo, dalam bukunya Cerita Kentrung Sarahwulan di Tuban (1993), menyebutkan parikan merupakan sejenis pantun yang dilagukan atau dinyanyikan oleh dalang beserta panjaknya dengan iringan tabuhan instrumennya yang sederhana (Hutomo, 1993: xxxix).

Berbeda dengan dulu, ketika masa awal masuknya Islam, Para Wali memakai Kentrung sebagai sarana dakwah agar mudah diterima masyarakat Jawa. Memasuki abad 19-an dan 20-an Kentrung merupakan media untuk menyindir praktik penjajahan.

Para seniman Kentrung saat itu menciptakan parikan carita sendiri dengan bahasa Jawa yang berupa sindirin akan penjajahan. Seni teater tanpa gerak dan laku sebutan lain dari Kentrung ini berisikan juga parikan muatan lokal yang sarat dengan canda yang diminati masyarakat sebagai salah satu media alternatif untuk mengekspresikan perlawanan atas penjajahan.

Biasanya saat pementasaan seorang dalang Kentrung akan menceritakan urutan pakem dengan rangkaian parikan dan akan menyelipkan banyolan (candaan-candaan) di tengah-tengah pakem, namun tetap dengan parikan yang seolah sudah dihafal di luar kepala.

Banyolan ini berguna untuk mengatasi rasa bosan dan jenuh penonton. Biasanya bentuk banyolan berupa kritikan tidak langsung sehingga menjadi lucu ataupun berupa sisipan kata erotis untuk manyarakat yang notabene sudah berumah tangga.

Puncak kejayaan Kentrung adalah ketika masa kemerdekaan Indonesia. Pada masanya kesenian ini merupakan seni dengan penggunaan carita tiap parikan untuk tujuan mendidik. Kesenian tutur dengan pementasannya yang selalu tampil lenggah lesehan (duduk di tanah beralaskan tikar) digunakan sebagai media penyambung lingkar sejarah rakyat.

Kesederhanaan tampilan Kentrung yang menggunakan bahasa Jawa mudah sekali dimengerti sehingga ceritanya mudah diterima dan diserap masyarakat Jawa, terutama masyarakat kelas menengah ke bawah.

Kemudian, ketika masa penjajahan mulai surut, parikan carita Kentrung pun tidak lagi berupa sindiran. Hampir seluruh parikan terkait sejarah lisan tentang Pulau Jawa. Namun tutur khas dan nilai pesannya tetap bersemayam dalam diri Kentrung.

Diantara lakon-lakonnya yang populer adalah carita Babad Tanah Jawi, Syeikh Subakir, Marmaya Ngentrung, Wali Sanga utamanya Sunan Kalijaga, Anglingdarma, Kyai Dullah, Amir Magang, Ajisaka, dan cerita Panji.

Nilai pesan moral yang terkandung dalam kesenian Kentrung biasa di-sampir-kan (disematkan) dalam tembang-tembangnya. Contoh tembang yang dilantunkan sang dalang adalah sebagai berikut:

Kembang-kembangan; Kembang terong abang biru moblong-moblong; Saiki wes bebas omong; Nanging ojo clemang-clemong

Bunga mainan; Bunga terong berwarna merah biru menyala/mencolok; sekarang sudah bebas bicara; tapi jangan celometan

Di Tulungagung, Kentrung berkembang pada abad ke 16 M bersamaan dengan penyebaran Islam di seluruh Pulau Jawa. Minat dan antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap kesenian Kentrung.

Selama kurun waktu dua dasawarsa sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an khususnya masyarakat di daerah Tulungagung sering mengundang seniman Kentrung untuk mengisi hajatan dan pesta. Seperti misalnya, khitanan, manten (perkawinan), tingkepan, boyongan rumah, dan bersih desa.

Menurut catatan Dinas Kebudayaan Tulungagung, pada tahun 1970-an tercatat hampir di setiap desa di Tulungagung memiliki kelompok kesenian Kentrung. Kendati demikian, tahun 1990-an kesenian Kentrung mulai mengalami kemerosotan peminat. Dari catatan yang sama menyebutkan hanya tinggal satu kelompok Kentrung yang bertahan.

Kemerosotan ini disebabkan oleh kemunculan televisi dengan harga murah dan layar tancap sebagai alternatif hiburan yang praktis. Lenyapnya apresiasi masyarakat dan menyusutnya kelompok-kelompok seniman Kentrung, berdampak tidak terjadinya pewarisan maupun regenerasi.

Susutnya kesenian Kentrung hingga saat ini, mendorong seniman Kentrung yang tersisa untuk terus mengembangkan kesenian ini dengan menjajal inovasi baru. Inovasi baru tersebut tampak pada penggabungan Kentrung dengan lawakan dan lakon dari Ludruk.

Dalam perkembangannya pemain Kentrung akan berekspresi sebagaimana layaknya lawakan Ludruk dan Kethoprak. Inilah awal mulanya Kentrung Tradisi tergeser posisinya menjadi Kentrung Kreasi. Kentrung Kreasi merupakan kesenian tutur lisan yang lebih banyak berisikan lawakan.

Transformasi ini terjadi salah satunya disebabkan oleh kecenderungan masyarakat yang menjadikan Kentrung sekadar tontonan belaka. (Ditulis : Rifchatullaili, peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research)

Add Comment