Dosen Jember Terima Anugerah Sutasoma 2018

foto
Dr Akhmad Taufik saat malam penganugerahan di Gedung Cak Durasim, Surabaya. Foto: Tribunnews.com.

Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Jember (Unej), Dr Akhmad Taufik menerima Anugerah Sutasoma, penghargaan dari Balai Bahasa Jawa Timur bagi insan dan pegiat sastra di Jawa Timur.

Akhmad Taufik, satu dari sejumlah penerima Anugerah Sutasoma Tahun 2018 yang penganugrahannya digelar di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, pekan lalu.

Taufik memperoleh anugerah ini di kategori Esai/Kritik Sastra Terbaik tahun 2018 untuk karya bukunya yang berjudul Sastra Multikultural : Kontruksi Identitas dan Praktik Diskursif Negara Dalam Perkembangan Sastra Indonesia.

Selain mendapatkan anugerah Sutasoma, Akhmad Taufik menyampaikan orasi kebudayaan berjudul Sastra Jawa Timur Dalam Konteks Perkembangan Sastra di Jawa Timur dan Nusantara.

Akhmad Taufik menyatakan rasa syukur dan terima kasihnya atas Anugerah Sutasoma yang diberikan oleh Balai Bahasa Jawa Timur.

“Alhamdulillah. Sebenarnya saya tidak menduga buku karya saya bakal dipilih oleh dewan juri sebagai buku terbaik di kategori esai/kritik sastra di Jawa Timur. Semoga buku yang saya tulis menjadi kontribusi kajian sastra, khususnya di Jawa Timur,” ujar Taufik, seperti dilaporkan Tribunnews.com.

Menurut Akhmad Taufik, buku yang ditulisnya membahas konstruksi identitas dan praktik diskursif negara. Obyek kajiannya adalah novel Indonesia dalam rentang 1920-an sampai dengan 2000-an.

Taufik menegaskan, Jawa Timur memiliki kekayaan tradisi sastra yang luar biasa di kantong-kantong budaya seperti Madura, daerah pesisir utara Jatim, Mataraman, Arek dan Pandalungan.

“Tradisi kreatif ini perlu dirawat dan dikelola baik pertumbuhan dan keberlangsungannya. Oleh karena itu dibutuhkan agenda sastra yang dapat mempertemukan para sastrawan untuk saling asah, asuh, asih dalam rangka meningkatkan kapasitas kreatifnya, yang bermuara pada peningkatan kapasitas kebudayaan dalam skala lebih luas, secara rutin dan berkala,” tegasnya.

Sementara itu mengutip dari rilis yang dikirimkan Bagian Humas Unej, Kepala Balai Bahasa Jawa Timur, Mustakim mengatakan Anugerah Sutasoma ini diberikan sebagai bentuk apresiasi Balai Bahasa Jawa Timur kepada para sastrawan, pegiat sastra, serta akademisi bidang sastra yang berada di wilayah Jawa Timur.

Anugerah Sutasoma yang mulai digelar semenjak tahun 2009 itu memberikan penghargaan di tujuh kategori.

“Para penerima Anugerah Sutasoma adalah komunitas sastra, guru Bahasa dan Sastra Indonesia, guru Bahasa dan Sastra daerah, pegiat sastra, sastrawan, dan akademisi bidang sastra. Panitia dan dewan juri secara aktif telah mengamati, mencari, menerima usulan dari segenap lapisan masyarakat,” ujarnya.

Penerima Anugerah Sutasoma tahun 2018 adalah, Komunitas Rabo Sore (kategori Komunitas Sastra), Suwigyo Adi atau Tiwiek SA (kategori Sastrawan Berdedikasi), Antologi Puisi Mawur Gandrung Karya Muhammad Iqbal Baraas (kategori Karya Sastra Terbaik), antologi geguritan Kidung Lamit Karya Nono Wamono (kategori Karya Sastra Daerah Terbaik), Lilik Rosida Irmawati, Guru SDN Pabiah 1 Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep (kategori Guru Bahasa dan Sastra Indonesia Berdedikasi).

Serta buku Sastra Multikultural : Kontruksi Identitas dan Praktik Diskursif Negara dalam Perkembangan Sastra Indonesia karya Akhmad Taufik dari FKIP Universitas Jember. (ist)

Add Comment