ITS Bentuk Tim Angklung Kidung Gandhara

foto
Tim Angklung Kidung Gandhara saat undangan IKOMA pada September lalu. Foto: ITS News.

Angklung adalah alat musik bernada ganda yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Sebagai wujud rasa cinta budaya Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya membentuk tim angklung bernama Kidung Gandhara.

Kidung Gandhara adalah tim non Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ITS yang berfokus pada permainan alat musik angklung. Latar belakang terbentuknya tim ini adalah belum adanya wadah untuk minat bakat di paguyuban mahasiswa Bidikmisi ITS dalam bidang seni musik.

“Di ITS sudah ada UKM seni musik tradisional atau gamelan, tapi belum ada yang mencoba menggunakan angklung. Jadi, kami juga ingin ikut melestarikan musik daerah selain gamelan,” jelas Lusia Linda Anggraeni, ketua tim.

Tim yang beranggotakan mahasiswa Bidikmisi ITS ini memiliki tujuan mengenalkan dan melestarikan alat musik dan budaya daerah. Selain itu, tim ini juga bertujuan mewadahi mahasiswa yang berminat dalam seni musik daerah, sekaligus merekatkan hubungan antar anggota Bidikmisi ITS.

Awalnya, lanjut Linda, sapaannya, timnya memanfaatkan angklung yang tidak terpakai milik Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) ITS. Kemudian, rutin berlatih setiap dua minggu sekali di Plaza Gedung Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK). “Tapi kalau mendekati acara, latihannya lebih intensif atau setiap hari,” tambah mahasiswa asal Purworejo itu.

Kidung Gandhara kerap tampil memikat penonton di setiap penampilannya. Dalam penampilannya, tim ini mengkombinasikan alat musik angklung dengan vokal atau lirik lagu. “Bisa main instrumen saja, tapi jadi kurang menarik. Lagu lebih enak kalau diberi lirik,” tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, Kidung Gandhara sering diminta untuk tampil di berbagai kegiatan ITS. Penampilannya yang memukau menjadi alasan pihak ITS mengundang mereka tampil dalam berbagai acara.

Penampilan perdana mereka berjalan dengan maksimal saat peresmian Gedung Riset ITS, lalu upacara Hari Pendidikan Nasional, Dies Natalis ITS, Wisuda 118 dan lain-lain. “Hingga saat ini, Kidung Gandhara menjadi salah satu program kerja yang dikontrol oleh Bidikmisi ITS,” ungkapnya.

Linda berharap, Kidung Gandhara dapat menarik minat mahasiswa untuk ikut bergabung dalam melestarikan kesenian Indonesia.

“Melestarikan kesenian daerah itu kewajiban kita. Saya berharap nantinya Kidung Gandhara dapat ikut dalam ajang-ajang kesenian baik di Surabaya maupun di luar Surabaya,” pungkasnya. (ita)

Add Comment