Cintai Cagar Budaya Via Lomba Tulis

foto
Pemenang Lomba Karya Tulis Cagar Budaya menerima hadiah dari Dirjen Keperbukalaan Kemendikbud. Foto: Bisniswisata.co.id.

Memaknai HUT Purbakala Ke 105 Tahun 2018, Komunitas Luar Kotak bersama Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman dan Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) mengajak generasi Milenial mencintai cagar budaya purbakala melalui lomba karya tulis bertajuk “Aku Dan Purbakala” dan Lomba Toponimi.

Hasilnya sungguh diluar dugaan. Tercatat 1.177 tulisan yang masuk, dengan rentang usia penulis mulai 15 tahun hingga 24 tahun yang sebagian besar adalah pelajar dan mahasiswa. Setelah melalui penjurian terpilih 5 pemenang penulis “Aku dan Purbakala” serta 5 pemenang penulis Topomini yang menceritakan Asal Usul Daerahmu.

Untuk pemenang karya tulis “Aku Dan Purbakala”, juara 1 diraih Aisya Auliya Sudrajat dari Pacitan Jawa Timur dengan judul “Ucap Bohong Dirinya Sendiri”. Juara 2 disabet Rosmedia Tiurmaida Hasugian dari Jatinangor Sumedang Jawa Barat dengan karya “Waruga, Riwatarmua Kini”, juara 3 dimenangkan Rizky Clarinta Putri dari Jambi dengan tulisan “Kongkow Asyik di Candi Terluas se Asia Tenggara”.

Untuk Favorit 1 diraih M. Satrio asal Tegal Jawa Tengah dengan karyanya “Purbakala Cermin Pengingat” dan Favorit 2 diraih Reza Ramadhan asal Dharmasraya Sumatera Barat yang menulis “Karakter Warisan Purbakala”.

Untuk pemenang karya tulis Toponimi diraih M Yousril Mirza asal Kendal Jawa Tengah dengan karyanya berjudul “Sejarah Topomini Patebon” sebagai juara pertama. Juara kedua dimenangkan Muhammad Masrudin Firdiyansah dari Gresik Jawa Timur yang menulis “Asal Usul Nama Gresik”. Juara ketiga disabet Khaolil Mudiaafa dari Rembang Jawa Tengah dengan karya “Topomini Desa Tuyuhan”.

Untuk Favorite 1 diraih Muhammad Ikhasan Zulkarnain dari Bekasi yang menulis “Bekasi Kota Bulan Hingga Kota Patriot”. Juara Favorite 2 dimenangkan Eko Prasetyo dari Lamongan Jawa Timur yang menulis “Topomini Desa Rejo Kendal”.

“Lomba karya tulis tentang cagar budaya purbakala ini untuk meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap warisan budaya berupa peninggalan purbakala,” Andre Donas, Founder Komunitas Luar Kotak kepada Bisniswisata.co.id.

“Kesadaran pelajar dan mahasiswa akan memorikolektif bangsanya diharapkan dapat menjadi pondasi yang kuat sekaligus menjadi inspirasi dalam meraih prestasi,” imbuh Andre disela-sela acara penyerahan hadiah lomba tulis HUT Purbakala di gedung Kemendikbud Jakarta, pekan lalu.

Andre menilai saat ini kecintaan, kesadaran generasi muda terhadap cagar budaya serta sejarah kepurbakalaan mulai menunjukkan hal yang positif.

Terbukti milenial mau mengunjungi museum maupun mendatangi cagar budaya untuk mempelajari, mengenal serta memahami keberadaanya. “Bahkan dilakukan diskusi untuk mencari informasi yang lebih banyak,” papar Andre yang juga arkeolog.

Karena itu, Komunitas Luar Kotak atau Out of Box,s mencari program untuk mendekatkan generasi milenial dengan cagar budaya melalui berbagai aktifitas yang setiap tahunnya digelar. Seperti tahun 2017 menggelar Kultur trip dengan mengunjungi Situs Megalitik Gunung Padang di Cianjur Jawa Barat yang merupakan Cagar Budaya Dunia.

“Di Situs Megalitik Gunung Padang ini kami mengajak para pelajar dan mahasiswa untuk mengenal lebih mendalam tentang cagar budaya ini. Jadi kami tak mau datang melihat langsung pulang, namun kami beri program yang lebih mendalam tentang Situs Megalitik Gunung Padang ini,” ungkapnya.

Program yang diberikan bagaimana melihat kondisi masyarakat sekitar, mengenal alam, menyaksikan sunrise, melihat gemerlapan bintang di malam hari, mediasi, diskusi, serta berbagai kegiatan lainnya yang positif.

Sekaligus mengena sasaran tentang keberadaan Situs Megalitik Gunung Padang maupun cagar budaya lainnya yang ada di tanah air.

Tahun sebelumnya 2016, sambung dia, Komunitas Luar Kotak juga menggelar acara “Love or Lost” terkait cagar budaya. “Kami ajak generasi muda untuk membikin acara yang kreatif dengan kemampuannya melalui teknologi digital. Mereka bisa bikin tentang cagar budaya yang kemudian difoto dan disebarkan melalui media sosial,” paparnya.

Selain itu, ada yang bikin Stand Up Comedy tentang cagar budaya. Juga bikin film dokumenter atau film pendek juga terkait dengan cagar budaya yang dikunjungi.

“Bahkan mereka ada yang membuat meme tentang cagar budaya. Nah semua ini bertujuan untuk mencintai, mengenal bahkan melestarikan cagar budaya melalui era teknologi saat ini. Jika tidak diterapkan dengan era teknologi, cagar budaya kita akan tertinggal bahkan disepelekan ole generasi muda kita,” sambung Andre.

Menurutnya, Komunitas Luar Kotak akan terus melahirkan konsep-konsep baru untuk melestarikan cagar budaya Indonesia.

“Nah tahun ini kami mensosialisasikan lewar lomba karya tulis, ternyata responnya sangat luar biasa. kami tidak menyangka naskah yang masuk bisa mencapai 1177 naskah, ini menujukkan respon terhadap cagar budaya kita semakin bagus,” jelasnya.

Komunitas Luar kotak yang didirikan Andre Donas, Endah Sulistyowati, Nanang Dwi P dan Sri Cendrawati yang merupakan lulusan arkeologi dan memiliki kepedulian dunia arkeologi yang berada di luar pemerintahan.

Mayoritas pendiri komunitas ini ada yang terjun di dunia komunikasi, periklanan, jurnalistik televisi, marketing dan hubungan masyarakat, yang tidak mau berkutat pada urusan gali menggali atau ekskavasi. (ist)

Add Comment