Wisata Religi Makam Syeh Asmoro Qondi di Tuban

foto
Makam Maulana Ibrahim Asmoro Qondi di Tuban. Foto: tuban.go.id.

Kabupaten Tuban kembali mendapat penghargaan tingkat Jawa Timur. Kali ini wisata religi Makam Syekh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi meraih Penghargaan Terbaik Pertama Anugerah Wisata Jawa Timur (AWJ) Tahun 2018 dalam kategori daya tarik wisata budaya.

Ketua Yayasan Masjid Ibrahim Asmoroqondi, Sukardi menerima penghargaan secara langsung didampingi Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, Drs. Sulistyadi, MM.

Pada kategori yang sama makam ayah dari Sunan Ampel ini berhasil mengungguli beberapa destinasi wisata lainnya di Jawa timur, seperti Desa Wisata Aeng Tong-Tong Kabupaten Sumenep dan Desa Wisata Bumi Aji Kota Batu.

Kabid Pariwisata pada Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda Dan Olahraga Kabupaten Tuban Suwanto SE mengungkapkan bahwa potensi kunjungan wisata di Kabupaten Tuban terutama dalam wisata religi sangatlah besar.

Tercatat data tahun 2017 sebanyak 5,803,318 wisatawan telah mengunjungi Kabupaten Tuban. Dari data itu 2,460,377 wisatawan berkunjung ke Makam Sunan Bonang dan 2,193,725 wisatawan berkunjung ke Makam Maulana Ibrahim Asmoro Qondi.

Suwanto menambahkan bahwa didapatkannya penghargaan AWJ oleh wisata religi makam Maulana Ibrahim Asmoro Qondi tidak hanya dilihat dari jumlah wisatawan, tetapi juga dari manajemen pengelolaan tempat wisatanya, serta pemberdayaan kepada masyarakat sekitar sehingga dapat mempengaruhi perekonomian masyarakat.

Sejarah
Di tahun 1416 M Syekh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi dinikahkan ayahnya dengan Dewi Candrawulan, putri ke dua Raja Campa Jaya Simhawarman III yang dalam Serat Walisana disebut sebagai Raja Kiyan.

Putri pertama Raja Kiyan, Dyah Dwarawati yang dalam Babad Tanah Jawi disebut sebagai Putri Campa, menikah dengan Sri Kertawijaya tahun 1415 M, yang saat itu masih berstatus salah satu calon putra mahkota Kerajaan Majapahit.

“Dari pernikahan itu Syekh Makhdum Ibrahim Asmara Qondi memiliki dua putra yaitu Raden Santri atau Raden Ali Murtaha lahir tahun 1417 M. Sedang putra keduanya Raden Rahmat baru lahir tahun 1420 M,” ujar Prof Dr Syeikhul Hadi Permana Guru Besar UINSA Surabaya.

Syekh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi bertempat tinggal di Champa selama tiga belas tahun lamanya. Kemudian menuju Jawa setelah kerajaan Champa diserang kerajaan Vietnam dan mengalami kekalahan. Ia lolos dalam upaya pembunuhan. Sedangkan keluarga kerajaan lainnya banyak yang terbunuh.

Islamkan Arya Damar
Kedatangannya ke Jawa pada sekitar tahun 1362 Saka/1440 Masehi, bersama dua orang putera dan seorang kemenakannya serta sejumlah kerabat, dengan tujuan menghadap Raja Majapahit yang menikahi adik istrinya, yaitu Dewi Darawati.

Sebelum ke Jawa, rombongan Syekh Ibrahim Asmoro Qondi singgah dulu ke Palembang untuk memperkenalkan agama Islam kepada Adipati Palembang, Arya Damar.

Dari Palembang, Syekh Ibrahim Asmoroqondi beserta putera dan kemenakannya melanjutkan perjalanan ke Pulau Jawa, mendarat di sebelah timur bandar Tuban, yang disebut Gesik. Sekarang Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban.

Pendaratan Syekh Ibrahim Asmoro Qondi di Gesik dewasa itu dapat dipahami sebagai suatu sikap kehati-hatian seorang penyebar dakwah Islam.Mengingat Bandar Tuban saat itu adalah bandar pelabuhan utama Majapahit.

Itu sebabnya Syekh Ibrahim Asmoro Qondi beserta rombongan tinggal agak jauh di sebelah timur pelabuhan Tuban, yaitu di Gesik untuk berdakwah menyebarkan kebenaran Islam kepada penduduk sekitar.

Sambil menulis sebuah kitab dengan nama Usui Nem Bis, yaitu sejilid kitab berisi enam kitab dengan enam bismillahirrahmanirrahim, ditulis atas nama Syekh Ibrahim Asmoro Qondi.

Syekh Ibrahim Asmoro Qondi tidak lama berdakwah di Gesik. Sebelum tujuannya ke ibukota Majapahit terwujud, Syekh Ibrahim Asmoro Qondi dikabarkan meninggal dunia. Beliau dimakamkan di Gesik tak jauh dari pantai. Makamnya dikeramatkan masyarakat dan dikenal dengan sebutan makam Sunan Gagesik atau Sunan Gesik. (ist/sumber 12)

Add Comment