Temukan Tembikar Kuno Saat Gali Saluran di Surabaya

foto
Terakota yang ditemukan saat pengerjaan saluran box culvert. Foto: Radar Surabaya.

Warga Jalan Pandean Gang 1 RT 1 RW 13, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya digegerkan dengan temuan sebuah benda mirip tembikar atau terrakota di dalam tanah.

Benda yang disinyalir berasal dari masa kerajaan tersebut ditemukan saat dilakukan penggalian untuk pemasangan box culvert. Selain tembikar, juga ditemukan tulang seukuran orang dewasa.

Suep, salah satu pekerja galian box culvert yang menemukan benda tersebut mengatakan, tembikar itu ditemukan saat dirinya menggali tanah untuk saluran air.

Ketika menggali pada kedalaman 80 cm, tampak sebuah lingkaran. Ia pun sempat menduga seperti sumur. “Saya gali terus ternyata kayak sumur. Makin ke dalam ukurannya mengecil,” ujar Suep, pekan lalu seperti dikutip Radar Surabaya.

Lingkaran itu memiliki ukuran yang berbeda. Di bagian teratas berdiameter sekitar 80 cm, sedangkan pada tumpukan kedua dan ketiga berdiameter 70 cm.

Sedangkan dinding sumur tua tersebut berwarna dasar merah dan sebagian masih berlumuran tanah liat. Sumur tua itu ditemukan di dalam tanah.

“Waktu kami bongkar sumur tua itu, ternyata di dalamnya tertutup batu bata yang sudah tak beraturan,” ungkapnya. Batu bata merah yang ditemukan di dalamnya berukuran cukup besar, dengan cap tiga jari diatasnya.

Setelah mendapatkan temuan sumur tua itu, para pekerja langsung melapor ke Kelurahan Peneleh. Untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan, para pekerja memasang garis dilarang melintas dan sumur tua tersebut juga ditutup dengan papan.

Sementara itu, Ketua Tim Cagar Budaya RA Retno Hastijanti mengatakan, berdasarkan tinjauan tim Disbudpar Jawa Timur pada tiga minggu lalu, memang kawasan Kampung Peneleh dan sekitarnya banyak ditemukan barang-barang arkeologis yang diterima oleh masyarakat.

Namun dia belum mendapat laporan terkait temuan terakota ini. “Berdasar akan hal tersebut, maka diputuskan untuk membentuk tim pendataan dan pendokumentasian barang-barang arkeologis,” ujar Hasti.

Hesti menambahkan bahwa yang akan didata dan didokumentasikan tidak hanya barang-barang arkeologis, tetapi juga makam-makam yang tersebar di penjuru kampung,” ungkapnya.

Hanya saja Hasti belum bisa memastikan angka tahun atau berasal dari kerajaan apa. Harus ada analisis lebih lanjut mengenai hal tersebut. Perlu divalidasi oleh instansi yang kompeten misalnya BPCB Trowulan. “Daerah Pandean itu juga merupakan kawasan situs keraton Surabaya,” tandasnya. (ist)

Add Comment