Upaya Penyelamatan Bebunyian Kuno Jaap Kunst

foto
Diskusi Ditjen Kebudayaan Kemdikbud tentang koleksi Jaap Kunst. Foto: Istimewa.

Tahun 1919 Jaap Kunst tiba di Jawa sebagai pemain musik. Setelah tur bersama sebuah trio gesek usai ia memilih tinggal di Indonesia.

Selama belasan tahun ia berkeliling mencatat dan merekam musik dan bebunyian di berbagai pelosok.

Hasilnya adalah ratusan jam rekaman yang disimpan dalam silinder lilin, ribuan lembar catatan dan surat, ratusan foto dan ratusan alat musik.

Sebagian tersimpan di Museum Nasional Indonesia, sebagian lain di Universitas Amsterdam dan Museum Etnologi Jerman.

Beberapa hari lalu Ditjen Kebudayaan mengundang sejumlah peneliti dan pelaku budaya yang merintis penelitian tentang koleksi Jaap Kunst, antara lain Barbara Titus (Universitas Amsterdam), Sri Margana (UGM), Citra Aryandari (ISI Yogyakarta) dan Nusi Estudiantin (Museum Nasional).

Pertemuan itu membahas penyelamatan, pengembangan dan pemanfaatan koleksi Jaap Kunst. Kesimpulannya, kita baru membahas puncak dari gunung es.

Koleksi Jaap Kunst akan membawa kita kepada gunung arsip musik dan bebunyian yang dikumpulkan berbagai pihak selama bergenerasi.

Peserta pertemuan juga bersepakat kerja bersama, mulai dari merumuskan (kembali) kerangka pikir sampai melihat kemungkinan mengembangkan dan memanfaatkan arsip musik dan bebunyian untuk kepentingan pengkajian dan penciptaan. Masih banyak yang harus dilakukan. (ist)

Add Comment