Ranti, Duta Warisan Budaya ASEAN asal Ponorogo

foto
Ini Sosok Ranti, Duta Warisan Budaya ASEAN Asli Ponorogo. Foto: Detikcom.

Di sebuah sanggar di Ponorogo, tampak sekumpulan anak-anak tengah berlatih menari jathil dengan didampingi seorang pelatih. Setelah didekati, pelatihnya ternyata masih muda, bahkan karena tubuhnya yang mungil sekilas ia lebih mirip murid ketimbang guru.

Siapa sangka, gadis bernama Ranti Ninda Kartika (18) ini bukan seorang pelatih tari biasa. Ia baru saja terpilih sebagai Duta Warisan Budaya ASEAN mewakili Indonesia lho.

“Iya saya biasa ngajari anak-anak di sanggar namanya ‘Sanggar Tari Taphak Dara’,” tuturnya saat berbincang dengan detikcom, pekan lalu.

Warga Desa Karangan, Kecamatan Badegan ini mengaku sudah menggeluti seni tari jathil dan tradisional sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Namun ia tak pernah menyangka kecintaan Ranti pada tari mengantarkannya menjadi Duta Warisan Budaya. “Kemarin sempat nggak percaya bisa terpilih karena saingannya banyak,” ungkapnya.

Mahasiswi Politeknik Negeri Semarang ini menjelaskan pemilihan duta dilakukan sekitar satu bulan lalu. Saat itu, Ranti hanya mengirim video saat mengajar menari dengan menggunakan bahasa Inggris.

Ternyata videonya disukai juri dan membuat Ranti dipilih oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai duta warisan budaya. “Kemarin ada 80-an orang yang daftar terus dipilih 28 orang, saya salah satunya,” jelasnya.

Setelah terpilih, sulung dari dua bersaudara ini mengikuti serangkaian kegiatan bersama 27 duta warisan budaya dari negara-negara ASEAN lainnya.

Salah satunya World Heritage Camp Indonesia yang diselenggarakan di Yogyakarta selama 10 hari. “Saat camp juga belajar budaya dari negara lain di ASEAN,” paparnya.

Sebagai duta, tugas Ranti pun tak mudah. Ia diwajibkan mengenalkan warisan budaya kepada masyarakat sekaligus melestarikannya.

Namun Ranti mengaku memang sedang menuju ke sana. “Saya harap juga bisa mengenalkan kesenian tradisional khas Ponorogo ke negara lain,” ujarnya.

Apalagi sebagai generasi milenial, ia terbantu oleh keberadaan media sosial dan teknologi informasi untuk memperkenalkan warisan-warisan budaya tersebut. (dtc)

Add Comment