Ekskavasi dan Penelitian Benteng Van den Bosch

foto
Tim Balai Arkeologi DI Yogyakarta melakukan penelitian arkeologi. Foto-Foto: Kemdikbud.go.id.

Pada pertengahan Oktober 2018 lalu, Balai Arkeologi DI Yogyakarta yang dipimpin Drs M Chawari MHum melakukan penelitian arkeologi di Benteng Van den Bosch, Ngawi.

Kegiatan tersebut dilakukan atas dasar permohonan bantuan ekskavasi dan penelitian arkeologi oleh Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Bina Penataan Bangunan.

Ekskavasi dan penelitian arkeologi bertujuan untuk mendukung Penyusunan Perencanaan Teknis Konservasi Benteng Van den Bosch, Ngawi.

Adapun hasil ekskavasi dan penelitian arkeologi di Benteng Van den Bosch adalah untuk mengetahui konstruksi pondasi pada beberapa bangunan di kompleks benteng.

Ekskavasi dilakukan dengan membuka 9 kotak testpit baik di dalam bangunan maupun di luar dengan pertimbangan dapat mewakili bagaimana konstruksi pondasi bangunan tersebut.

Benteng Van den Bosch, lebih dikenal sebagai Benteng Pendem adalah benteng yang terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Ngawi. Benteng ini memiliki ukuran bangunan 165 m x 80 m dengan luas tanah 15 Ha.

Benteng ini dulu sengaja dibuat lebih rendah dari tanah sekitar yang dikelilingi oleh tanah tinggi sehingga terlihat dari luar terpendam.

Pada abad 19 Ngawi menjadi salah satu pusat perdagangan dan pelayaran di Jawa Timur dan dijadikan pusat pertahanan Belanda di wilayah Madiun dan sekitarnya dalam Perang Diponegoro (1825-1830).

Perlawanan melawan Belanda yang berkobar didaerah dipimpin kepala daerah setempat seperti di Madiun dipimpin Bupati Kerto Dirjo dan di Ngawi dipimpin Adipati Judodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirjo, serta salah satu pengikut Pangeran Diponegoro bernama Wirotani.

Pada tahun 1825 Ngawi berhasil direbut dan diduduki oleh Belanda. Untuk mempertahankan kedudukan dan fungsi strategis Ngawi serta menguasai jalur perdagangan, Pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah benteng yang selesai pada tahun 1845 yaitu Benteng Van Den Bosch.

Benteng ini dihuni tentara Belanda 250 orang bersenjatakan bedil, 6 meriam api dan 60 orang kavaleri dipimpin Johannes van den Bosch.

Di dalam benteng ini terdapat makam KH Muhammad Nursalim, pengikut Pangeran Diponegoro yang ditangkap Belanda dan dibawa ke Benteng ini, konon Kyai Nursalim adalah orang yang menyebarkan agama Islam pertama di Ngawi. (ist)

Add Comment