Wayang Orang Perlu Digarap Dengan Gairah Kekinian

foto
Pertunjukan Wayang Orang di TMII dalam Anugerah Duta Seni Budaya Jatim. Foto: Tribunnews.com.

Seni Wayang memiliki pesona dan nilai yang tetap aktual. Namun perlu dipikirkan bagaimana cara membuat seni Wayang dapat ditonton lebih banyak orang.

Seni Wayang orang masa kini memerlukan perspektif baru dengan berbagai sisi dan dimensinya. Wayang harus beradaptasi dengan budaya pop, dengan berbagai kecanggihan multi media.

“Aktualisasi dari segi cerita dan penggarapan diharapkan dapat membantu cara pandang khalayak dalam memahami makna yang terkandung dalam sebuah pertunjukan seni Wayang,” ujar Dra Nursilah MSi, usai menyaksikan pertunjukan seni Wayang Orang, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, pekan lalu.

Wayang, menurut salah satu Juri Pengamat Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur ini, tak sekadar seni pertunjukan. Melainkan ekspresi nilai yang membentuk identitas budaya.

“Wayang memberi banyak ajaran, tuntunan, dan tatanan nilai kultural, baik melalui representasi jalan cerita maupun citra para tokoh,” ujar Nursilah, seperti dilaporkan tribunnews.com.

Dosen Seni Tari Universitas Negeri Jakarta ini, mengatakan, dari segi penggarapan (carangan) seni Wayang dapat menyesuaikan diri. Namun secara klasik karya seni ini diharapkan tidak kehilangan makna orisinalitasnya.

“Oleh karena itu, ketika mulai menyiapkan pergelaran Wayang, sebaiknya ditentukan dulu apakah mau digarap secara klasik atau carangan,” kata Nursilah.

Ajang Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, kali ini menampilkan kesenian Wayang Orang berjudul “Kalimataya” yang dibawakan oleh duta seni dari Kota Blitar. Kelompok seniman ini juga menampilkan tari ‘Wara Kaeshti serta Guyon Maton (Punakawan).

Pertunjukan ini melengkapi hiburan bagi para pengunjung dan peserta acara ‘Jalan Sehat,’ yang diselenggarakan Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur, dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional 10 November 2018.

Pentas Wayang Orang “Kalimataya” semakin melengkapi berbagai khasanah kesenian Jawa Timur, yang sebelumnya telah digelar di acara Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur ini.

Antara lain, pentas Wayang Kulit, Ludruk, Reog, Kuda Kepang, Barong, serta berbagai kesenian dan ragam tari yang mewakili kearifan lokal masing-masing daerah.

Dibanding bentuk awalnya (Wayang Kulit), Wayang Orang relatif kurang populis. Dari sisi kuantitas “tanggapan” (pementasan), Wayang Kulit setidaknya lebih sering ditanggap.

Berbagai faktor melatar belakangi hal ini, antara lain minimnya seniman yang menekuni bidang ini, juga berbagai elemen panggung yang memang tidak sederhana.

Perkumpulan Wayang orang yang cukup tua dan dikenal, di antaranya Wayang Orang Sriwedari di Surakarta, dan Ngesti Pandawa di Semarang.

Di Jakarta pernah berdiri beberapa perkumpulan Wayang Orang, diantaranya Sri Sabda Utama, Ngesti Budaya, Ngesti Pandawa, Cahya Kawedar, Adi Luhung, dan grup Ngesti Widada, Panca Murti.

Salah satu grup yang bertahan hingga kini, adalah Wayang Orang Bharata, gedungnya berada di kawasan Pasar Senin, Jakarta Pusat.

Warga Ibukota yang datang terlihat antusias menyaksikan pertunjukan Wayang Orang ini, khususnya warga Blitar yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya.

Ikut menyaksikan Wakil Walikota Blitar Drs Santoso MPd, Kepala Badan Penghubung Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur Drs Dwi Suyanto MM dan Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Timur Samad Widodo SS MM.

Hadir juga Sekretaris Pawarta Jatim Ir Sunardi, dan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Blitar.

Daulat Kebudayaan

Wakil Walikota Blitar Drs Santoso MPd dalam kesempatan tersebut menyampaikan, pentingnya membangun kemanusiaan dan kebudayaan. Yaitu, Indonesia yang berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, serta berkepribadian di bidang kebudayaan, sebagaimana digagas Bung Karno.

“Momentum ini tepat untuk mengingatkan kembali tentang pentingnya wasiat bung Karno tersebut. Seluruh kebudayaan Indonesia harus diberi ruang gerak sejajar dengan budaya bangsa-bangsa lain dan bahkan budaya Indonesia harus lebih unggul,” ungkapnya.

Jika dulu masyarakat memeras keringat, berjuang memanggul senjata, mengucurkan darah, dan bahkan hingga melepas nyawa, demi kemerdekaan RI, maka saat ini, kata Santoso, momentumnya berbeda.

“Perjuangan hari ini adalah usaha-usaha bersifat apresiatif. Mengembangkan kebudayaan kita yang adiluhung, serta dapat berkomunikasi secara produktif dan kreatif dengan generasi muda masa kini,” ujar Santoso.

Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur digelar sejak awal Maret hingga Desember 2018 mendatang. Diikuti tim kesenian dari 38 Kabupaten-Kota di Jawa Timur. Bertindak sebagai Juri Pengamat adalah Suryandoro SSn (Praktisi dan Pengamat Seni Tradisi), Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya), Dra Nursilah MSi (Dosen Seni Tari Universitas Negeri Jakarta), dan Catur Yudianto (Kepala Bagian Pelestarian dan Pengembangan Bidang Budaya TMII).

Pergelaran selanjutnya, Anjungan Jawa Timur TMII, akan menampilkan paket kesenian daerah dari Kabupaten Jombang (25 November 2018), Kabupaten Malang (2 Desember 2018), dan Kabupaten Jember (9 Desember 2018) mendatang. (ist)

Add Comment