Etika Budaya Jawa Harus Dibiasakan Sejak Dini

foto
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono di KKJ II. Foto: Humas Pemprov Jatim.

Perkembangan kehidupan di era yang sangat cepat, menyebabkan banyaknya etika maupun norma terabaikan, terutama pada etika budaya Jawa. Oleh karena itu, etika budaya Jawa harus dibiasakan oleh orang tua hingga generasi muda sejak dini.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegaskan, budaya Jawa dapat berperan sebagai salah satu pencegah korupsi. Nilai-nilai maupun norma sosial yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat seperti gotong royong, saling membantu dapat melawan korupsi di tingkat masyarakat.

Ganjar memandang, proses kebudayaan Jawa saat ini telah bergerak dan berkembang, tidaklah statis. Oleh karena itu, kegiatan yang mengarah kepada kebaikan dalam kehidupan masyarakat secara positif harus terus di dorong.

“Saya sepakat, bahwa etika serta pembentukan karakter harus terus di dorong dan dilakukan secara bersama. Sanksi sosial harus dipersiapkan agar pelaku korupsi tidak semakin besar di negara ini,” ujar Ganjar Pranowo saat pembukaan Kongres Kebudayaan Jawa (KKJ) II di Gedung Negara Grahadi, Surabaya (21/11) malam.

Sementara, wewakili Gubernur Jatim, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Dr Heru Tjahjono mengatakan, etika budaya Jawa jika diartikan dengan kondisi hari ini sebagai proses pembentukan karakter yang positif.

“Keberadaan etika budaya Jawa semakin hari dirasa sangat mengkhawatirkan terutama bagi generasi muda penerus bangsa dan negara,” kata Heru Tjahjono.

Maka dari itu, lanjutnya, sebagai orang yang hidup, tinggal dan besar di Jawa haruslah membiasakan etika budaya Jawa sejak dini agar dapat memahami dan menghormati antar sesama manusia.

Sebagai contoh, setiap orang Jawa pasti selalu mengenal dan meresapi kata nyuwun sewu atau budaya permisi dan matur nuwun atau budaya terima kasih. Budaya permisi ini adalah salah satu bentuk atau sikap santun yang selalu diajarkan oleh orang tua kepada anak untuk selalu menghormati yang lebih tua.

“Budaya permisi atau nyuwun sewu ini sekarang mulai pudar. Banyak anak muda yang acuh terhadap bentuk etika budaya Jawa seperti ini,” ujarnya.

Sama halnya dengan matur nuwun atau budaya terima kasih harus dilakukan tidak hanya sebagai orang Jawa saja. Budaya mengucapkan terima kasih itu, erat kaitannya terhadap personal seseorang dalam berinteraksi secara positif antar sesama makhluk.

“Ini yang harus kita jaga kembali. Saya menilai ini persoalan etika budaya yang tercermin dalam pembentukan karakter seseorang,” imbuhnya.

Saat talkshow, juga hadir Asisten Keistimewaan Setda DIY Didik Purwadi mewakili Gubernur DIY Sri Sultan HB X. Acara dipandu pakar komunikasi Dr Sukowidodo dari Unair.

KKJ II diikuti 300 peserta dari Jatim, Jateng dan DIY. Dibagi dalam enam komisi, yakni Kebudayaan Jawa di Tengah Tantangan Nasional dan Global, Kebudayaan Jawa sebagai Perajut Harmoni Sosial, Kebudayaan Jawa sebagai Spirit Kemajuan Ekonomi.

Lalu Kebudayaan Jawa sebagai Sumber Ekosistem Kebudayaan, Kebudayaan Jawa sebagai Basis Sosial Politik dan Kepemimpinan serta Kebudayaan Jawa sebagai Landasan Sosio Spiritual.

Sebelumnya, tiga daerah menghadirkan kesenian tradisional masing-masing, yakni Tari Maja Kirana dari Jawa Timur, Tari Menak Putri Rengganis Widaningsih dari DIY dan Klana Topeng Jawa Tengah. (ita)

Add Comment