Mengenal Petilasan Siti Inggil Raden Wijaya

foto
Sanggar Pamujan di komplek Siti Inggil di Desa Bejijong Trowulan Mojokerto. Foto: Istimewa.

Mendengar nama Raden Wijaya, otomatis angan kita tertuju pada agungnya Kerajaan Majapahit. Bekas-bekas peninggalan kerajaan besar itu bisa disaksikan telanjang mata di desa-desa di berbagai wilayah di Kabupaten Mojokerto. Salah satu diantaranya adalah Siti Inggil.

Tempat ini merupakan petilasan Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jawawardhana atau Brawijaya I yang menjadi tonggak awal lahirnya Majapahit di tahun 1293 M. Semasa kecilnya, Raden Wijaya dipanggil dengan nama Djoko Suruh. Petilasan yang sebelumnya lebih terkenal dengan istilah Lemah Geneng itu berada di dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Petilasan tersebut berbentuk makam dengan panjang sekitar 2 meter lebih. Masyarakat desa sekitar turun temurun meyakini bahwa di dalam kompleks bangunan makam ini bukan jenazah Raden Wijaya, melainkan hanya sebagian abu dari jenazahnya yang dibakar.

Mengingat di era Majapahit dikenal agama ’budi’ dengan sebagian Hindu tidak mengubur jenazah. Agama Islam-lah yang mengajarkan pemakaman melalui dakwah para Walisongo. Masyarakat pada masa Majapahit mengenalnya dengan istilah mukso (menghilang) atau diperabukan. Abu inilah yang kemudian disimpan di candi ataupun dihanyutkan ke laut.

Di dalam kompleks petilasan ini terdapat beberapa nisan. Selain makam Raden Wijaya yang paling besar dan panjang, di dalamnya juga terdapat makam orang terdekatnya yaitu Permaisuri Brawijaya pertama yakni Gayatri, juga dua istri selir bernama Ndoro Petak dan Ndoro Jinggo.

Selir pertama disebut Ndoro Petak karena kulitnya putih dan ia berasal dari Tiongkok. Sedangkan selir kedua disebut Ndoro Jinggo sebab berkulitnya kuning dan ia perempuan terhormat dari Kamboja. Selain itu ada juga makam dari abdi kinasih atau abdi dalem dari Hayam Wuruk dan permaisuri.

Petilsan Raden Wijaya ini dipercaya sebagai tempat pertama kali Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit, di sini juga diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Di antara beberapa bangunan yang ada di kompleks Siti Inggil, terhadap bangunan Sanggar Pamujan.

Sesuai namanya, sanggar ini menjadi tempat pemujaan yang konon dipakai Raden Wijaya melakukan semedi atau bertapa. Pada bangunan yang tingginya sekitar 3 x 3 meter dari permukaan tanah itulah untuk pertama kalinya Raden Wijaya mendapatkan ‘Wahyu Keprabon’. Di tempat ini ia mendapatkan wangsit atau bisikan gaib untuk mendirikan Kerajaan Majapahit.

Pada kompleks Siti Inggil juga terdapat dua makam yang cukup menyita perhatian. Selain posisinya di luar kompleks bangunan utama petilasan Raden Wijaya, dua makam itu berada tepat di sebelah kiri sebelum memasuki bangunan petilasan yang selalu terkunci.

Pada batu nisan di dua makam itu tertulis Sapu Angin dan Sapu Jagad. Kuncup nisannya selalu dibungkus dengan kain berwana kuning. Dupa yang ada di dalam anglo kecil mengepul asap dan tampak bunga segar. Jelas jika makam tersebut selalu dikunjungi.

Dua nama Sapu Jagad dan Sapu Angin bukan nama asli mereka melainkan gelar dari Kerajaan Majapahit atas ilmu yang dimilikinya. Dua sosok itu merupakan ajudan Raden Wijaya. Sebelumnya, dua sosok yang tidak diketahui namanya dikenal sebagai prajurit dan pengikut setia menantu Kertanegara Raja Singosari tersebut.

Pada masa-masa sulitnya Raden Wijaya, dua sosok inilah yang terus mendampingi hingga berhasil menumpas Raja Jayakatwang. Di luar tembok kompleks makam Raden Wijaya ini terdapat 1 buah sumur dan tempat bersemedi bagi peziarah. Aroma wangi dari dupa tidak pernah hilang dari setiap sudut kompleks pemakaman ini.

Meskipun terletak di desa terpencil sekalipun tidak mengurangi jumlah peziarah. Setiap hari selalu ada peziarah datang, bahkan pada hari-hari tertentu sangat padat. Di Jumat legi atau Jumat manis, ratusan pengunjung dari berbagai kota hadir di tempat yang di kanan dan kirinya masih berupa ladang tebu itu.

Tidak sedikit tokoh dan pejabat berkunjung untuk berziarah dan mengunjungi situs sejarah tersebut mulai dari politisi, pejabat lokal, pejabat negara, pengusaha hingga sekelas Presiden sekalipun.

Kunjungan pejabat itu dilakukan sejak era Presiden Soekarno. Mereka berziarah ke Siti Inggil dengan harapan agar bisa mendapatkan tuah atau berkah dari Raden Wijaya yang berhasil menyatukan Nusantara.

Masyarakat sekitar petilasan juga menyebut Siti Inggil dengan Tanah Tahta. Tidak tahu pasti mengapa masyarakat menyebutnya demikian. Namun yang jelas, sejumlah presiden pernah mengunjungi tempat ini. Ada anggapan dari banyak kalangan bahwa tempat ini dapat memberikan tahta atau kedudukan pada setiap orang yang datang jika dilakukan dengan rutin.

Jika petilasan Siti Inggil dilihat dari sudut ketinggian candi Brahu maka nampak seperti kodok yang berwarna hijau. Dihasilkan dari pohon besar yang ada pada kompleks bangunan Siti Inggil. Satu lagi yang unik dari tempat bersejarah ini ada satu bintang endemik dari tempat ini yakni kepik Gajah namanya.

Penanamaan ini bukan tanpa sebab karena jika diperhatikan dengan seksama pada saat kedua sayap kumbang ini bertemu akan terlihat bentuk seperti kepala Gajah lengkap dengan belalainya. Banyak yang menduga bahwa Kepik Gajah merupakan reinkarnasi dari Maha Patih Gajah Mada.

Ada satu lagi mitos yang populer di kalangan masyarakat sekitar Trowulan ialah “sopo wong e kang kepingin dadi pemimpin, sowan o marang Siti Inggil mesti bakal kawujud.” Anggapan tersebut tidak luput dari keagungan yang nampak dari Raden WIjaya. Wibawanya sebagai seorang pendiri sekaligus pemimpin tahta Majapahit tetap dikenang melalui petilasan ini. (ditulis Ahmad Fahrur Rozi IJIR)

Add Comment