Tradisi Oyen di Tulungagung, Doa Keselamatan Rajakaya

foto
Balai desa Sendang di Kec Sendang Tulungagung. Foto: Sendang.tulungagungdaring.id.

Saat mendengar kata Oyen, seakan-akan dalam benak kita telah mencuat nama Es Oyen. Wajar saja bila hal ini terjadi, karena umumnya masyarakat Tulungagung mengenalnya demikian.

Padahal, di Tulungagung khususnya wilayah Sendang, Oyen atau Uyen dipahami sebagai bagian dari tradisi masyarakat lokal.

Bentuk tradisi ini sampai sekarang masih tetap lestari. Masyarakat Sendang mengadakan Oyen untuk mendoakan keselamatan seluruh hewan ternak miliknya. Hewan-hewan tersebut didoakan mengingat perannya cukup besar dalam membantu manusia.

Khususnya, masyarakat Petani yang melakukan tradisi ini. Selain mereka mengandalkan hasil pertaniannya, sebagian besar dari mereka juga memelihara rajakaya di dekat rumahnya sebagai kegiatan penunjang kehidupannya.

Banyaknya jumlah rajakaya yang ia miliki bisa membuat orang tersebut dianggap kaya di lingkungannya. Menurut Mbah Suryani Adi, sesepuh Sendang, kata Oyen ini diambil dari Wuku dalam perhitungan masyarakat Jawa.

Wuku tersebut dinamakan Uye atau Wuye yang menempati urutan wuku ke 22. Orang Jawa juga menyebut wuku dengan Pakuwon. Dalam setiap minggu, Pakuwon ini berganti nama wukunya.

Konon, wuku-wuku tersebut dikaitkan dengan nama anak-anak dari Watugunung dengan Sinta yang berjumlah 27, sedangkan tiga lainnya Watugunung sendiri beserta dua istrinya, Sinta dan Landhep.

Jadi, jika dihitung total keseluruhan ada 30 wuku. Di dalam Wuku Uye sendiri melekat sosok Bhatara Kowera atau Kuwera yang dianggap menjadi pelindung Wuku tersebut.

Tradisi Oyen ini memiliki kesamaan tujuan misalnya dengan tradisi Tumpek Kandang di Bali. Keduanya sama-sama dilaksanakan di Wuku Uye. Hanya saja, penetapan harinya mengalami perbedaan. Oyen di Sendang dilaksanakan pada Jumat Wage sedangkan Tumpek Kandang di Sabtu Kliwon.

Di Wuku Uye ini, masyarakat Sendang menganggap bahwa Wuku tersebut sangat cocok untuk mendoakan wewalungan atau binatang ternak. Istilah sederhananya, hari yang ditentukan dalam Wuku tersebut menjadi wetonanya seluruh rajakaya.

Selain itu, tradisi ini juga mirip dengan tradisi Grubegan di dusun Blimbing, Desa Karangrejek, Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta. Pada prinsipnya keduanya memiliki tujuan serupa. Tetapi sesuai namanya, tradisi ini memilih Wuku Gumbreg yang menempati urutan keenam sebagai titik pijakannya.

Dulu, Pelaksanaan Oyen pun bersifat pribadi. Para Petani mengundang tetangga-tetangga mereka untuk slametan di rumahnya. Mereka melakukan srengatan atau peringatan hanya di waktu tersebut. Masyarakat melaksanakan Oyen terhitung setahun sekali.

Sekarang tradisi tersebut telah mengalami transformasi. Masyarakat bersama-sama berkumpul di situs Mbah Bodo untuk menghelat acara ini. Baru sekitar dua kali ini tradisi seperti itu berhasil menghimpun masyarakat dalam satu lokasi.

Intinya, perhelatan pun dibuat semeriah mungkin dan tidak lagi terkonsentrasi di rumah-rumah warga. Mereka membawa ayam ingkung dan bucengnya untuk dimakan bersama. Lengkap dengan sesajian makanan seperti orang Jawa pada umumnya.

Tentu proses memakannya setelah doa yang dipanjatkan sesepuh desa selesai. Sesajian tersebut, nantinya akan kembali dimakan oleh masyarakat sendiri.

Sang tetua di dalam doanya menyebut Nabi Sulaiman. Hal tersebut didasarkan pada keyakinan di dalam Islam bahwa Nabi Sulaiman merupakan raja segala raja yang menguasai para jin dan hewan. Maka dari itu, perlu menghormati Nabi tersebut, karena melalui perantaranya semua hewan-hewan tersebut merupakan peliharaannya.

Pada Akhirnya, masyarakat sangat terhubung erat dengan peliharaan mereka. Bentuk kecintaan mereka tersajikan dalam peringatan hari ulang tahun (weton) rajakaya.
Dengan begitu, sudah sangat jelas bahwa manusia sangat mengasihi hewan-hewan tersebut layaknya anak-anak mereka sendiri. (Ditulis: Imam Safi’i Peneliti muda IJIR)

Add Comment