Jamasan Kiai Pradah Blitar, Warisan Budaya Tak Benda

foto
Jamasan Kiai Pradah di Blitar Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Foto: Detikcom/Erliana Riady.

Agenda tahunan dalam setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad, Jamasan Kiai Pradah atau siraman gong Kiai Pradah digelar di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Ribuan orang pun berdatangan dari berbagai daerah demi menyaksikan ritual ini.

Namun yang paling membanggakan adalah tradisi lokal ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sejak tahun 2017 lalu.

Penetapan ini didasarkan pada proposal yang diajukan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Blitar dan Pemprov Jatim pada pemerintah pusat di tahun 2016 silam. Setelah melalui berbagai kajian, akhirnya Kemendikbud pun menyetujui usulan ini.

Kepala Disparbudpora Kabupaten Blitar Luhur Sejati menjelaskan, kajian akademik itu meliputi tentang sejarah, prosesi ritual dan berbagai peralatan yang digunakan.

Kajian ini jika dapat dibuka setiap saat namun dipastikan tidak akan mengalami pergeseran. Proposal juga diuji di depan sembilan pakar budaya untuk menggali potensi budaya yang ada.

“Jadi WBTB itu telah diuji kajian akademik. Di antara kajian itu adalah kegiatan ini sudah menjadi tradisi turun temurun, tanpa ada dukungan pihak manapun kegiatan ini tetap berjalan atau mandiri. Dan masyarakat sekitar daerah itu mengakui keberadaannya,” jelas Luhur Sejati kepada detikcom di lokasi Jamasan Kiai Pradah, pekan lalu.

Kiai Pradah atau Kiai Bicak yang berupa gong tersebut diyakini sebagai pusaka milik Panembahan Senopati Raja Pertama Mataram Islam. Konon, pusaka itu berasal dari Ki Ageng Selo, tokoh sakti penangkap petir berdarah keturunan Majapahit.

Dalam catatan HJ De Graaf dalam buku “Awal Kebangkitan Mataram, Masa Pemerintahan Senapati” dituliskan bahwa dengan Kiai Bicak, Panembahan Senopati berhasil mengusir pasukan Kerajaan Pajang yang dipimpin Sultan Hadiwijaya saat hendak menaklukkan Mataram.

Namun pusaka itu lantas jatuh ke tangan Pangeran Prabu, saudara tiri Sri Susuhunan Pakubuwono I. Saat Sri Susuhunan Pakubuwono I dinobatkan sebagai raja, Pangeran Prabu ternyata sakit hati dan berniat membunuh Sri Susuhunan Pabubuwono I.

Usahanya kemudian ketahuan dan Pangeran Prabu dibuang ke hutan Lodoyo yang saat ini menjadi Kecamatan Sutojayan. Ketika itu hutan Lodoyo dikenal sangat angker dan banyak dihuni binatang buas.

Mengaku salah, Pangeran Prabu berangkat ke hutan Lodoyo bersama istrinya Putri Wandansari dan abdinya Ki Amat Tariman. Mereka juga membawa serta pusaka Kiai Bicak, yang akan digunakan sebagai tumbal penolak bala di hutan Lodoyo.

Perjalanan jauh itu mereka lakukan dengan penuh ketabahan sebab mereka percaya tidak akan menghadapi marabahaya selama membawa pusaka Kiai Bicak.

Untuk menenangkan hati, Pangeran Prabu kemudian bertapa seorang diri di hutan Lodoyo. Sementara itu Kiai Bicak dan abdi setianya dititipkan kepada Nyi Rondho Patrasuta.

Bersamaan dengan itu, Pangeran Prabu meninggalkan pesan agar pusaka tersebut disucikan dengan cara disiram atau dijamasi dengan air bunga setaman setiap tanggal 12 Maulud dan tanggal 1 Syawal.

Pada suatu ketika Ki Amat Tariman sangat rindu kepada Pangeran Prabu. Ia lantas memutuskan berjalan-jalan di hutan, tetapi tersesat dan kebingungan. Karena kebingungan tersebut, ia pun memukul Kiai Bicak sebanyak 7 kali.

Ketika Kiai Bicak dipukul, yang datang bukanlah Pangeran Prabu, melainkan sekumpulan harimau berukuran besar.

Anehnya mereka tidak menyerang atau mengganggu Ki Amat Tariman, tetapi justru melindungi pria ini. Sejak saat itulah, Kiai Bicak diberi nama lain Gong Kiai Pradah yang berarti harimau.

Saat ini pusaka Gong Kiai Pradah masih diyakini bertuah. Seperti pesan Pangeran Prabu sebelum bertapa tentang air bekas jamasan yang disebut mampu menyembuhkan orang sakit dan dapat digunakan sebagai sarana ketenteraman hidup, maka ritual jamasan yang digelar hingga hari ini selalu ramai dihadiri warga.

Salah satunya Bu Kasiah (70). Warga Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar ini mengaku sejak balita selalu diajak orang tuanya untuk menyaksikan ritual Jamasan Kiai Pradah. Hingga kini ia pun meyakini air bekas jamasan pusaka itu bisa menyembuhkan penyakitnya

“Keju (pegal) linu saya biasanya hilang kalau sudah diolesi air jamasan. Dagangan juga jadi laris kalau ubo rampe jamasan saya selipkan di antara barang dagangan saya,” tuturnya. (dtc)

Add Comment