Kondo Brodianto, Dalang dan Perajin Wayang Gedog

foto
Brodin mengukir kayu untuk dijadikan anak wayang gedog. Foto: JawaPos.com/Ramona Valentin.

Baginya, wayang gedog bukan sekadar perantara menyampaikan sejarah masa lalu beserta perjuangannya. Tapi juga budaya yang harus dilestarikan.

Suara pisau yang bergesekan dengan kayu terasa seperti menggelitik. Sekaligus menjadi suara penghias hunian Kondo Brodianto. Suara itu sering terdengar dari rumahnya, di Dusun Kunir, Desa Bulupasar, Pagu, Kabupaten Kediri.

Sebab ia memang sering melakukan aktivitas itu. Mengukir kayu. Menjadikannya selembar anak wayang. Pekerjaan yang dia geluti sejak puluhan tahun.

Lelaki yang karib disapa Brodin ini terkenal sebagai satu-satunya pembuat wayang gedog di Kediri. Wayang gedog ini adalah wayang yang terbuat dari kayu. Mirip wayang krucil. Bedanya di pewarnaan wajah.

Kalau wayang gedog hanya diwarna hitam dan putih. Hitam melambangkan sifat jahat atau antagonis. Sedangkan yang putih sebaliknya. Sedangkan wayang krucil dominasi pewarnaannya adalah merah.

Menurut Brodin, di Kediri, wayang gedog awalnya dipopulerkan oleh dalang yang bernama Imam Sujono. Dalang ini berasal dari Kandangan.

Sepengetahuan Brodin, dalang itu masih keturunan Sunan Kalijaga. “Gedog, dari kayu. Gedog artinya kandang jaran (kuda),” ungkapnya, saat dijumpai Jawa Pos Radar Kediri.

Bukan kebetulan Brodin menekuni dunia wayang gedog. Ayahnya dulu juga seorang dalang. Belajarnya dari Imam Sujono. Karena ayahnya sering membawa wayang gedog pulang, Brodin pun jadi tertarik.

Sejak usia SD, Brodin mulai mengukir pola wayang. Menekuninya sambil meneruskan sekolah kejuruan. “Dari enam bersaudara, cuma saya yang tertarik dan menggelutinya. Kakak dan adik saya tidak,” ujar anak kelima ini.

Baginya, wayang gedog memiliki keunikan. Berbeda dengan wayang kulit. Pembuatannya mengandalkan ukiran yang harus simetris. Berbahan dasar kayu mentaos yang diukir dengan pisau bedah sesuai bentuk tokoh wayang.

Membuat satu anak wayang butuh lima hari. Itu kalau ukurannya besar. Kalau kecil, bisa lebih lama lagi. Tingkat kesulitan terletak pada pengukiran. Karena bolak-balik harus sama. Pun dengan pengecatan.

Tahap inilah yang membuatnya harus bekerja dua kali. Hanya, bila dalang, ada beberapa. Selain dirinya ada juga dalang bernama Harjito yang berasal dari Kota Kediri.

Wayang inipun ia ceritakan merupakan salah satu media penyampaian pesan, hingga sejarah. “Alur cerita wayang Gedog ada pakemnya. Dan berasal dari sejarah. Apa yang diceritakan semuanya ada. Gunung Kawi, Dewi Kilisuci, Kelud, Wilis dan sebagainya,” pungkasnya.

Sejarah dan Perjuangan
“Lakon Diponegoro, Sawunggaling melawan Belanda. Itu semua ada di wayang gedog. Bahkan persebaran Islam seperti Kerajan Demak,” ujar Brodin.

Menjadi dalang bukan tanpa alasan. Ia pun pernah bekerja sesuai latar belakang pendidikannya, teknik mesin. Namun ia putuskan untuk bergelut dengan dunia wayang gedog hingga akhir hayatnya nanti.

“Kalau dalang, saya tertarik sejak usia 22 tahun. Saat itu juga saya merasa mulai banyak yang tidak tahu apa itu wayang gedog,” imbuhnya.

Ia mengawali jadi dalang dengan tampil di hadapan keluarganya. Kemudian berani tampil acara gebyakan, atau upacara nazar, di desanya.

Menjadi dalang wayang gedog membuatnya harus pandai berbahasa Jawa. Setidaknya krama madya. Karena bahasa tersebut yang digunakan dalam penyampaian ceritanya.

Alumnus SMK Al Huda ini juga harus rajin membaca. Mendengarkan kisah dari ayahnya kemudian menuliskan dalam buku. Sebab, kisah wayang gedog adalah cerita sejarah hingga perjuangan masa lalu.

Lima belas tahun menjalani pekerjaan sebagai dalang wayang gedog, bukan berarti ia tak pernah melakukan kesalahan. Dia juga pernah lupa saat sedang mendalang. “Tapi jadinya lucu, karena ada improvisasi agar cerita berlanjut,” ungkapnya.

Hal tersebut menurutnya adalah wajar. Mengingat sejarah dan perjuangan di masa lalu yang cukup panjang dan beraneka ragam. Baginya, sejarah dan kisah di masa lalu harus disampaikan. Agar dikenal dan dipelajari untuk masa sekarang dan masa depan. Mengambil hikmah dari setiap kejadian di masa lampau.

Agar tidak mengulangi kesalahannya. Dan menirukan cara meraih prestasi untuk menyambut masa depan. “Kalau bukan kita yang mengenalkan budaya, siapa lagi. Jangan sampai diklaim wilayah lain,” katanya. (jpg)

Add Comment