Mbah Rukini, Penjaga Musik Siter di Bojonegoro

foto
Mbah Rukini bersama suami di rumahnya di Desa Kuncen Bojonegoro. Foto: Jawapos.com/Khorij Zaenal Asrori.

Deru mesin melintas di Jalan Bojonegoro-Padangan, menjadi hiburan mata Mbah Rukini, siang itu (11/12). Memakai pakaian sederhana, Mbah Rukini duduk santai di bawah pohon penghijauan di utara Masjid Menak Anggrung.

Sorot matanya mengawasi satu per satu kendaraan melintas di Jalan Bojonegoro-Padangan, persisnya di Desa Kuncen, Kecamatan Padangan. Ketika dihampiri, Mbah Rukini tersenyum ramah.

Seketika mengajak ke rumahnya yang masuk gang kecil. Rumahnya sederhana menghadap ke barat tersebut persis di tepi aliran Sungai Bengawan Solo. Utara rumahnya hanya berbatasan Bengawan Solo. Rumahnya termasuk di daerah rawan longsor.

Wajahnya keriput. Kulitnya tak lagi bugar. Ketika berjalan sering dibantu Asmuji, suaminya. Namun, suaranya masih awet. Nenek berusia 62 tahun ini memiliki suara khas. Maklum, Rukini nama lengkapnya ini merupakan seniman alat musik siter.

Siter merupakan alat musik petik di dalam gamelan. Berbahan kayu. Memiliki panjang sekitar 90 sentimeter (cm). Masing-masing 13 pasang senar. Alat musik etnik ini dipetik dengan ibu jari dilapisi besi seperti kawat.

“Jari saya sakit. Sudah puluhan tahun memetik siter ini,” ucap Mbah Rukini kepada Radar Bojonegoro Jawapos dengan ramah.

Mbah Rukini duduk bersila. Seketika mengambil siter dan membukanya. Kakinya berselonjor. Lalu memasang kawat di ibu jarinya. Jari-jemarinya mulai memainkan nada dengan petikannya.

Sempat merasa kesakitan, tapi Mbah Rukini tetap memetik siter tersebut. Rautnya menahan kesakitan ketika jari telunjuknya bergerak dan memetik senar. Mbah Rukini semakin bersemangat memetik siter, setelah Asmuji, suaminya ikut meniup gong bumbung. Alat musik tiup inipun berkolaborasi dengan siter.

Selama ini, Mbah Rukini sakit di jari telunjuknya. Usianya yang renta membuat tenaganya mulai kendur. Bahkan, sudah lama, perempuan yang rambutnya mulai memutih ini tak bermain musik siter.

“Di usia saya yang sudah tua ini, hanya berharap siter ini masih eksis di Bojonegoro,” ucapnya dengan lirih.

Mbah Rukini mengatakan, seni siter ini sudah dikenalkan di Bojonegoro di usianya remaja. Sejak tinggal di Desa Kuncen. Perempuan asli Kabupaten Ngawi ini, berharap siter menjadi seni khas Kecamatan Padangan.

Hanya, dia menyayangkan sejauh ini jarang ada yang berminat dan memopulerkan musik siter. Nenek renta ini berharap seni siter menjadi khazanah budaya Bojonegoro. Dan, berharap ada kepedulian pihak yang membudayakannya.

Mbah Rukini juga menunjukkan sejumlah piagam di dinding rumahnya. Piagam tersebut merupakan penghargaannya atas menjaga seni siter. Dia pun juga menunjukkan foto-fotonya ketika bermain musik siter. Tentu, foto ketika usianya masih muda.

Mbah Rukini menjadi salah satu talent yang dihadirkan saat Jazz Bengawan di Kelurahan Ledok Kulon, Bojonegoro. Seni budaya yang dibawakan Mbah Rukini ini termasuk musik etnik. “Saya cukup senang bisa bermain di Jazz Bengawan. Apalagi mainnya di tepi Bengawan Solo,” ujarnya. (jpg)

Add Comment