Melestarikan Peninggalan Majapahit 725 Tahun Lalu

foto
Seminar Warisan Budaya Majapahit Pelestarian dalam Perspektif Lingkungan. Foto: Humas UGM.

Situs Trowulan merupakan kawasan kepurbakalaan yang berada di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Berdasarkan kronik prasasti, simbol, dan catatan yang ditemukan di kawasan tersebut, disebutkan bahwa situs ini berhubungan dengan Kerajaan Majapahit yang berdaulat 725 tahun yang lalu.

Guna mengajak masyarakat menjaga situs peninggalan Kerajaan Majapahit, dengan studi kasus kawasan situs Trowulan, Mojokerto, Mandala Majapahit (Manma) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gajah Mada ( UGM) menyelenggarakan “Seminar Peringatan 725 Majapahit : Warisan Budaya Majapahit Pelestarian dalam Perspektif Lingkungan”.

Direktur Eksekutif Yayasan Arsari Djojohadikusumo Ir Catrini Pratihari Kubontubuh MArch menyebutkan bahwa situs Trowulan sekarang ini ditangani secara parsial dan belum menyeluruh.

Walaupun situs ini sudah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional sejak akhir tahun 2013 berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 260/M/2013.

“Belum ada upaya untuk menyelaraskan unsur lama dan baru dengan lingkungannya. Aspek sosial, budaya, dan politik juga tidak berpihak pada pelestarian. Kini, peninggalan arkeologisnya semakin tergerus pengaruh cuaca maupun bencana alam dibiarkan,” ungkap pekan lalu di Auditorium Bulaksumur, University Club Hotel UGM.

Oleh karena itu, Catrini menyarankan konsep pelestarian yang dikembangkan tidak hanya sebagai objek tunggal, melainkan kawasan. Pelestarian dengan lingkup kawasan ini meliputi keseluruhan bagian kawasan, yang terdiri dari berbagai objek cagar budaya dalam harmoninya dengan lingkungan dan aktivitas sehari-hari manusia di sekitarnya.

Hal itu, menurut Catrini, bisa dicapai dengan sinergi antara pemerintah setempat, masyarakat, serta para akademisi. Ia menyebut bahwa koordinasi diperlukan untuk menentukan dengan tepat siapa yang berbuat apa.

Catrini menyatakan bahwa restorasi situs Triwulan yang diharapkannya tidak sekadar mengembalikan bentuk fisiknya saja. Namun, hal itu juga dapat membuat masyarakat sekitarnya bisa ikut mendayagunakan dan mengambil nilainya. “Yang utama adalah pelestarian, sedangkan pariwisata hanya bonus,” pungkasnya. (ugm)

Add Comment