Situs Kuno Saluran Air Sebelum Era Majapahit

foto
Saluran air kuno ditemukan di lahan kosong milik warga di Mojokerto. Foto: Jatim.tribunnews.com.

Suyitno (46), warga Dusun Dukuhngarjo, Desa Dukuhngarjo, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, menemukan tumpukan batu bata merah dan sumur di lahan kosong milik tetangganya. Dia menemukan saat hendak bercocok tanam di sawah tersebut.

“Saya mau pergi ke sawah bapak saya, kemudian tidak sengaja melihat tumpukan bata merah di lahan Pak Riduwan (tetangga),” kata Suyitno, Kamis (6/12), seperti dilaporkan Tribunnews.com.

Menurut Suyitno, tumpukan batu bata itu bentuknya sama seperti batu bata yang berada di Candi Tikus. Kesamaan itu terletak pada ukurannya yang memiliki panjang sekitar 40 cm, lebar 23, tebal 9 cm.

“Di sebelah tumpukan batu bata ada sumur juga. Kedalamannya dua meter dan saya belum tau di dalam air itu seperti apa soalnya ada genangan air” ujarnya.

Usai menemukan tumpukan batu bata dan sumur, Suyitno lantas melaporkannya Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Dari informasi yang didapat dari Suyitno, lahan kosong milik Riduwan dahulu merupakan bekas galian pribadi.

Sejak dua minggu yang lalu, sudah tidak ada aktivitas galian di sana. Tapi sayangnya, sebagian batu bata yang berada diatas tumpukan tersebut hancur akibat kerukan ekskavator.

Selang beberapa jam, pihak BPCB langsung menanggapi laporan dari Suyitno. Pihak BPCB menerjunkan tiga orang petugas untuk meninjau dan mengidentifikasi temuan tersebut.

Setelah mengamati dan meneliti sekitar 2 jam setengah, tim BPCB menduga temuan tersebut merupakan struktur bangunan kuno berbentuk saluran air.

“Temuan tersebut saluran air yang membentang arah utara selatan sepanjang 80 meter,” kata Wicaksono Dwi Nugroho, Pengkaji Cagar Budaya BPCB Jatim. Lebih lanjut Wicaksono menerangkan, struktur yang berbentuk saluran air itu memiliki kedalaman 3,8 meter dan lebar 2 meter.

Di tengah-tengah struktur saluran air terdapat gorong-gorong berukuran 41 cm. “Saya kira itu struktur saluran air sebelumnya diduga saling menyambung. Namun, karena terkena aktifitas penambangan, saluran air itu terputus menjadi 5 titik bagian” terang Wicaksono.

Wicksono menduga struktur saluran air tersebut sudah ada sebelum kerajaan Majapahit berdiri. Sebab, batu bata tersebut berukuran sangat besar dan berbeda dengan batu bata merah zaman Majapahit.

“Ukuran batu bata ini sangat besar, umumnya batu bata peninggalan Majapahit berukuran panjang 34 cm, tebal 5 hingga 7 cm dan lebar sekitar 20 cm” jelasnya.

Wicaksono menambahkan, saat ini pihaknya tengah berupaya untuk melakukan penyelamatan situs yang ditemukan Suyitno ini. “Kami akan berkoordinasi dengan pihak Dinas Pariwisata untuk melakukan pendekatan kepada pemilik lahan tersebut,” pungkasnya. (ist)

Add Comment