Ada Aura Mistis di Sumur Upas Trowulan

foto
Sumur Upas berada di dalam Situs Kedaton. Foto : Situsbudaya.id.

Mojokerto, kota sejarah yang memiliki sejuta kisah tentang kejayaan Majapahit di masa silam ini memiliki pelbagai situs peninggalan yang masih terjaga keontetikanya hingga kini.

Satu di antaranya adalah Sumur Upas, sebuah sumur tua yang berada di pedalaman desa, tersembunyi di antara rumah-rumah warga yang di desain layaknya rumah Majapahit tempo dulu.

Bangunan didirikan dengan alasan untuk melindungi situs sumur tua itu sendiri. Di lokasi sumur itu, tak banyak yang berkunjung kecuali paranormal, orang yang hendak menabur bunga sesajen atau petugas yang hendak membersihkan lokasi situs. Dari namanya sendiri “upas” dalam bahasa Jawa berarti bisa/racun ular.

Bisa ular yang dimaksud disini hanya bahasa kiasan untuk menyebutkan sumur ini. Konon, di dalamnya terdapat pusaka-pusaka peninggalan Majapahit yang ampuh. Sehingga saking ampuhnya pusaka-pusaka tersebut, masyarakat sekitar menamainya dengan kata Upas.

Pernah ada seorang warga masuk ke dalam sumur, namun ia tewas. Orang ini penasaran dengan mitos yang beredar dan ingin membuktikan kebenarannya, apakah ada pusaka-pusaka ampuh di dalam sumur ini. Setelah itu sering terdengar jeritan manusia yang merintih kesakitan dan meminta tolong dari dalam sumur.

Terkesan tampak angker sumur tersebut. Di atas lubang sumur diberi cangkup dan dilapisi dengan karpet berwarna merah terang. Sering dijumpai kembang dan sesajen lainnya di atas karpet merah ini.

Dari bentuknya, Sumur Upas lebih seperti reruntuhan bangunan berserakan. Berbentuk segi empat dengan bilik-bilik terbuat dari batu bata merah. Ukurannya bervariasi, ada yang sekitar 2 × 2 meter, ada pula yang lebih lebar dan besar dari itu. Jika diperhatikan, mirip seperti bekas bangunan luas dengan banyak ruangan.

Di beberapa tempat juga terdapat batu bata yang layaknya kaki candi dan dari segi warna tersebut menunjukkan akan umur batu bata ini. Hal tersebut semakin memberikan gambaran bahwa di sini pernah ada suatu peradaban kuno.

Sementara letak Sumur Upas sendiri berada persis di tengah-tengah reruntuhan. Ukuran diameternya sekitar 80 sentimeter, sementara kedalamannya belum diketahui dengan pasti hingga saat ini.

Tak hanya itu, di sudut tenggara dari kompleks Sumur Upas terdapat 5 peti mati yang sekilas membuat merinding, ditambah lagi aroma dupa dan kembang yang menyebar di sekitarnya. Kelima peti mati ini berisikan kerangka manusia yang ditemukan di sekitaran makam Islam dekat dengan Sumur Upas.

Menurut cerita lisan yang berkembang, kerangka manusia itu merupakan sosok Dewi Murti, Dewi Pandansari, Puyegan, Wahito, dan satu masih kerangka lagi belum diketahui identitasnya. Wahito dan Puyegan merupakan istri Adipati Minak Jinggo dari Blambangan (Banyuwangi) yang diboyong ke Majapahit oleh Damarwulan. Sedangkan dua Dewi yang lainya hanyalah pembantunya.

Dulunya, Damarwulan adalah seorang yang mengabdi pada Patih Loh Gender, pada masa pemerintahan Ratu Ayu Kencana Wungu. Sang Ratu membuat sayembara untuk mengalahkan Adipati Blambangan.

Ia berhasil memenangkan sayembara tersebut, dan kekalahan Adipati Blambangan dalam pertarunganya berkat bantuan dari kedua istri Minak Jinggo-Wahito dan Puyengan, tak hanya berhasil membunuh Adipati Blambangan, Damarwulan juga berhasil memikat istri Minak Jinggo dan membawanya ke Majapahit.

Atas jasanya itu, Ratu Kencana Wungu bersedia untuk dinikahi Damarwulan. Pernikahan itu otomatis membuat Damarwulan menjadi Raja Majapahit yang bergelar Prabu Merta Wijaya,

Dengan begitu Damarwulan mempunyai empat istri, Dewi Anjamara (putri Loh Gender), Wahito, Puyegan dan Ratu Kencana Wungu. Kemungkinan besar putri Blambangan dikebumikan di situs Sumur Upas setelah wafatnya.

Di masanya kompleks Sumur Upas digunakan sebagai pintu rahasia kerajaan Majapahit dan rumah tinggal para pejabat. Di dalamnya terdapat banyak bilik-bilik dengan fungsi yang bervariasi, Di bawah tanah diyakini ada banyak terowongan rahasia yang tembus ke sejumlah tempat seperti Gunung Lawu, Pantai Selatan, Tuban, Tengger, Banyuwangi, bahkan sampai ke pulau Dewata Bali.

Sumur Upas dulunya berupa bukit kecil, di atasnya berdiri beberapa pohon, seperti pohon Beringin dan pohon Tanjung. Pada tahun 1998 sesaat sebelum presiden Soeharto lengser, pohon yang berada di atas Sumur Upas ini mendadak roboh.

Tak hanya itu, beberapa pohon yang berada di daerah Trowulan juga mengalami hal yang ganjil. Pohon beringin di dekat kolam Segaran tetap berdiri kokoh, tetapi mendadak mati. Pohon beringin yang ada di kompleks Makam Troloyo setiap malam Jum’at satu persatu roboh.

Sekarang aura mistik dan cerita yang mengiringi sumur tersebut tak lagi seseram dahulu. Walau pun begitu masih banyak warga yang menggunakan tempat ini sebagai tempat ritual untuk berbagai hal.

Dari dulu memang sudah menjadi tempat yang dikeramatkan warga setempat. Jadi setiap warga kampung yang punya hajat masih sering mengirimkan tumpeng ke situs tersebut. (Ditulis Ahmad Fahrur Rozi, Peserta Klinik Menulis IJIR)

Add Comment