Suguhan Dua Pementasan Teater Gapus Unair

foto
Teater Gapus rayakan FESSPA XXVI di gedung Fakultas Ilmu Budaya UNAIR. Foto: Istimewa.

Teater Gapus Surabaya menyelenggarakan Festival Sastra dan Seni Pementasan Avant Garde (FESSPA) ke-24 pekan lalu. Acara tersebut sekaligus memperingati hari jadi Teater Gapus ke-29.

FESSPA merupakan acara tahunan yang menjadi media berkreasi anggota Teater Gapus. Bertempat di gedung Fakultas Ilmu Budaya, dalam pementasan kali ini, Teater Gapus mempersembahkan dua pentas drama yang berjudul Orde Tabung dan Wiladah Diaphora.

Orde Tabung
Pementasan pertama dibuka dengan drama berjudul Orde Tabung karya Heru Kesawa Murti.Orde Tabung mengisahkan tentang kehidupan manusia di tahun 2319 yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompokmanusia konvensional dan kelompok manusia tabung.

Manusia tabung merupakan generasi baru manusia yang dilahirkan oleh kecanggihan teknologi, bukan dari rahim seorang ibu sebagaimana manusia konvensionallahir. Manusia tabung dianggap sebagai bibit manusia unggul dan kebal dari segala jenis penyakit.

Pada masa itu, dikisahkan bahwa kelompok manusia tabung mulai mendominasi dan menguasai peradaban dunia. Manusia konvensional tidak bisa lagi memegang kendali kekuasaan.

Siapapun yang dilahirkan oleh manusia konvensional akan dianggap sebagai aib, dan harus ‘dijompokan’. Sebab, bagi mereka manusia konvensional merupakan sumber wabah penyakit dan memiliki daya tahan lemah.

Manusia konvensional yang tersisa saat itu diasingkan di sebuah tempat bernama kompleks perumahan jompo. Di tempat tersebut, mereka dikurung dan dijadikan obyek wisata bagi para turis yang datang.

Dan bagi siapapun yang memberontak atau mencoba melarikan diri, mereka akan dibunuh dengan cara ditembak mati ditempat. Tak peduli meskipun manusia konvensional itu sejatinya adalah orangtua manusia tabung yang tidak diakui.

Orde Tabung merupakan sebuah sindiran terhadap kondisi generasi masakini yang terlampau mengikuti arus perkembangan jaman dan terbuai modernitas serta kecanggihan teknologi.

Manusia tabung merepresentasikan suatu generasi yang ingin mencapai tatanan hidup baru. Keberadaan peraturan-peraturan konvensional dianggap sebagai penghambat yang mengikat kebebasan diri.

Anzila, sutradara dari Orde Tabung mengatakan, naskah dalam cerita tersebut juga berbicara tentang kemanusiaan yang mulai ditiadakan.

“Semakin maju peradaban maka kemanusiaan juga semakin hilang, manusia dibutakan dengan kekuasaan yang ada. Sehingga hal-hal mengenai hati nurani akan semakin hilang. Manusia semakin tidak dimanusiakan. Pola pikir manusia jaman baru semakin pendek. Apapun yang menguntungkan akan dipelihara dan yang merugikan akan dihilangkan,” jelasnya.

Wiladah Diaphora
Menginjak pementasan kedua sekaligus terakhir, Wiladah Diaphora tampil tak kalah memukau. Drama yang diadaptasi dari naskah berjudul Penghormatan Terakhir karya Dede A Majid tersebut bercerita tentang kondisi bangsa Indonesia satu tahun pasca merdeka.

Berlatar waktu pada tahun 1946, cerita ini menggambarkan kondisi negara yang masih belum stabil. Banyak terjadi serangan musuh maupun peperangan di berbagai wilayah.

Namun di sisi lain terdapat sekelompok warga desa yang begitu antusias untuk melakukan upacara bendera untuk menyambut kemerdekaan. Dengan sigap, tokoh bernama Ombi menyeru kepada kawan-kawannya untuk mempersiapkan prosesi upacara bendera.

Namun, rencana Ombi dan kawan-kawannya diketahui oleh Komandan Petot, tokoh yang digambarkan licik dan semena-mena kepada pribumi. Ia bersama anak buahnya berupaya untuk menggagalkan upacara tersebut.

Di tengah-tengah upacara, Ombi dan kawan-kawan dikejutkan dengan suara tembakan. Merekapun bingung mengambil keputusan, apakah mereka harus lari ataukah tetap mengibarkan bendera dengan resiko bertaruh nyawa.

“Lari atau masuk surga?” sebuah pertanyaan muncul dalam perdebatan.

Setelah berdebat cukup lama, mereka memutuskan untuk lari menyelamatkan diri. Selang beberapa saat setelah memastikan kondisi kembali aman. Ombi bersama kelima kawannya, Muslih, Icih, Ex, Rohman, dan Imas memutuskan untuk melanjutkan upacara.

Lagi, saat tengah menyanyikan lagu kebangsaan pada prosesi pengibaran bendera, tiba-tiba suara adzan berkumandang. Imas yang sedang memanjat tiang untuk memasang bendera pun berhenti. Mereka kembali bingung dan berdebat. Salah satu tokoh bersikeras untuk melanjutkan upacaradan sebagian lain memilih berhenti untuk segera beribadah karena takut berdosa.

“Buat apa hidup mulia di dunia tapi kelak disiksa di neraka,” tegas Imas yang memilih turun dan urung memasang bendera diujung tiang.

Keputusan Imas tersebut diamini oleh kawan-kawannya. Ia pun pergi untuk memenuhi panggilan adzan. Untuk keduakali, upacara bendera batal dilakukan.

Wiladah Diaphora berhasil menyuguhkan sebuah dilema serius dengan bumbu komedi yang mencuri perhatian penonton. Di sepanjang pementasan, penonton dibuat tak berhenti tertawa dan terhibur oleh kekocakan dan polah para tokoh pada setiap adegan. Ditambah lagi, drama yang disutradarai oleh Adnan Guntur tersebut dikemas dalam bentuk drama musikal.

Adnan mengatakan cerita ini dibuat untuk menggambarkan bagaimana semangat masyarakat Indonesia dahulu untuk melakukan upacara bendera.

“Dahulu sekali, pengambilankeputusan itu sangat sulit dilakukan, berbeda dengan sekarang yang serba mudah. Kita menghadirkan sebuah upacara bendera merah putih,namun saat pelaksanaannya ada saja rintangan. Pada zaman itu, ingin melakukan upacara bendera saja cukup sulit, sekarang cuma berdiri saja sudah malas-malasan,” terangnya.

Ia juga menambahkan semoga ke depan acara semacam ini dapat terus diadakan oleh Teater Gapus.

“Karena di sini merupakan wadah anak-anak muda dalam mencintai seni pertunjukan. Bukan hanya untuk para pegiat, melainkan juga mahasiswa dan masyarakat luas. Dan satu lagi, panjang umur selalu dunia perteateran,” tutur mahasiswa Sastra Indonesia 2017 tersebut. (ita)

Add Comment