Bata di Candiwates Pasuruan Diyakini Saluran Kuno

foto
Petugas BPCB Jawa Timur saat melakukan ekskavasi di lokasi temuan. Foto: Wartabromo.com.

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, meyakini temuan tumpukan bata mirip candi di Candiwates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, merupakan saluran air kuno. Eskavasi (penggalian) kemudian diupayakan, hingga memastikan struktur saluran itu, tak rusak dalam kondisi baik.

Kepala Unit Penyelamatan BPCB, Nugroho Harjo Lukito menjelaskan, pihaknya sampai saat telah melakukan penggalian 15 titik. Ditegaskannya, dari upaya eskavasi itu, kondisi atau struktur bangunan masih utuh.

“Ada beberapa yang rusak, tapi masih bisa dipugar karena modelnya sudah ada,” Nugroho, Sabtu (22/12) seperti dikutip wartabromo.com.

Selama proses eskavasi dan telaah, BPCB juga menemukan dua rangkaian bata lain di lokasi berbeda. Menurutnya, bentuk maupun struktur bangunannya, mirip dengan susunan bata yang ditemukan pertama kali, yakni saluran air tertutup. “Kemungkinan besar satu rangkaian,” tambahnya.

Namun, sampai saat ini BPCB belum bisa memastikan keberadaan saluran air kuno, sebelumnya berfungsi untuk saluran irigasi atau petirtaan. Pastinya, saluran itu dibangun dari daratan tinggi ke daratan rendah.

Sedangkan ujung hingga pangkal saluran air ini pun belum dapat dipastikan. “Masih dibutuhkan penelitian lagi,” tandas Nugroho.

Kegiatan eskavasi akan dilanjutkan sampai kemudian didapat bentuk detil bangunan. Hanya saja eskavasi pada tahap ini sementara waktu dicukupkan, menunggu hasil telaah. Dan pada awal tahun 2019, eskavasi tahap dua, dilanjutkan kembali oleh BPCB.

Sampai kini, saluran air itupun belum dapat diketahui dibangun pada masa atau zaman apa. Tapi sekilas, BPCB menduga-duga kemungkinan dibangun pada masa kerajaan Majapahit.

Diwartakan sebelumnya, susunan batu bata, sebelumnya terpendam di dalam tanah, gegerkan warga Desa Candiwates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, pada akhir Agustus 2018 lalu. Material yang tersusun mirip potongan candi itu ditemukan pertama kali oleh, Prawoto pemilik lahan, saat bercocok tanam.

Sementara Kepala Desa Candiwates, Ahmad Irfan mengatakan warga sepenuhnya mendukung upaya, yang dilakukan BPCB. Bahkan, bentuk dukungan ditunjukkan dengan turut mengamankan area temuan saluran air kuno, sehingga benda-benda cagar budaya, yang diperkirakan dibangun semasa kerajaan Majapahit itu, terjaga.

Salah satu semangat warga sampai kemudian mendukung kegiatan eskavasi itu, lebih karena keinginan ada perbaikan pada temuan struktur bata berupa saluran air termasuk cagar budaya itu, dapat menjadi obyek wisata baru.

“Berharap bisa diperbaiki (dipugar) sehingga bisa jadi aset wisata. Warga juga akan membantu menjaga batu-batu selama proses eskavasi agar tak hilang atau tercecer,” ujar Irfan. (ist)

Add Comment