‘Mega-Mega’ Arifin C Noer di Pentas Dramaturgi XIV

foto
Salah satu adegan pentas Dramaturgi XIV Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia FIB Unair. Foto: Istimewa.

”Ini adalah reaksi dendam terhadap kemiskinan yang dialami selama ini. Saat sebuah kemuliaan tiba-tiba bisa diraih dengan cepat dan tiba-tiba. Inilah puncak dendam itu dilampiaskan sekaligus tentang mimpi-mimpi”
Begitulah sepenggal ungkapan tersirat dalam kemeriahan pentas dramaturgi oleh mahasiswa Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga di Gedung Kesenian Cak Durasim beberapa waktu lalu.

Acara tahunan bertajuk Dramaturgi XIV itu sukses mementaskan naskah drama besutan Arifin C. Noer berjudul Mega-Mega.

Pentas Dramaturgi XIV pada pekan lalu itu menjadi tugas akhir sekaligus capaian puncak mata kuliah dramaturgi program studi Bahasa dan Sastra Indonesia UNAIR.

Tepatnya sebagai sebuah produk pentas dari mahasiswa yang bukan berlatar belakang dari anak-anak teater. Digelar setiap tahun dan tiap angkatan, kali ini penampilan tersebut menginjakkan tahun pentas ke-14.

Dosen pengampu dramaturgi sekaligus Wakil Dekan I FIB Puji Karyanto SS MHum dalam sambutannya menyampaikan selamat kepada segenap mahasiswa kelas dramaturgi atas pentas tersebut.

Mengikuti proses dari nol dramaturgi XIV, Puji sangat mengapresiasi kekompakan dan tanggung jawab segenap panitia. Total ada 38 yang terlibat dalam pementasan itu.

”Saya sampaikan selamat dan sukses kepada panitia. Pentas kali ini menjadi puncak dari proses demi proses kerja keras kalian. Sekali lagi selamat atas kekompakan dan tanggung jawab masing-masing sehingga semuanya dapat berjalan dengan baik. Pentas malam inilah puncaknya,” ujarnya di sambut tepuk tangan penonton dan panitia.

Dendam Kemiskinan
Dramaturgi XIV kali ini digarap oleh mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UNAIR angkatan 2016. Naskah yang berjudul Mega-Mega mengisahkan tentang sekelompok gelandangan yang berhasil memenangkan lotre.

Mereka lantas mabuk kepayang, euphoria, dan melampiaskan kemenangannya secara membabi buta. Reaksi itu menjadi respons dendam terhadap kemiskinan yang mereka alami selama ini.

Para gelandangan tersebut segera mendatangi bank untuk menukar lotre dengan uang. Namun, direktur bank itu menolak karena masih pagi buta dan bank belum buka.

Akhirnya sang direktur memberikan saran kepada mereka bahwa jika ingin makan, belanja, dan foya-foya saat itu. Para galandangan diminta menunjukkan saja lotre di sobekkan koran tersebut.

Mereka pun sangat senang mendengarnya dan langsung pergi ke restoran untuk makan sepuasnya. Lalu, para gelandangan juga membeli istana keraton lengkap dengan rajanya. Jadilah mereka penguasa dan pemilik Kerajaan Mega.

Disutradarai oleh Nur Rahayu dan diproduseri oleh Nurul Kurnia, pementasan tersebut melibatkan enam aktor. Para pemain yang terlibat dalam pementasan tersebut adalah Fifin sebagai Mae; Ahmad Kumaini sebagai Koyal; Fachri Ihsan sebagai Hamung; Aditya Catur sebagai Tukijan; Rainita sebagai Retno; dan Angga Aditiyak sebagai Panut. Penampilan segenap aktor berhasil memukau para penonton.

Menurut Rahayu, secara garis besar, tim ingin seluruh makna filosofis pada naskah Mega-Mega menjadi renungan untuk seluruh manusia. Tepatnya yang pasti mereka yang memiliki mimpi. Selain itu, penggarapannya menonjolkan situasi komedi tanpa kehilangan makna dari pesan naskahnya.

”Penyelenggaraan ini diharapkan mampu menghibur dan memberikan makna dari impian-impian para tokoh yang berjuang mewujudkannya,” ungkap Nur Rahayu. (ist)

Add Comment