“Perekonomian Indonesia Membaik Setara Jerman”

foto
Eva Kusuma Sundari, anggota DPR RI. Foto: Istimewa.

Catatan Eva Kusuma Sundari (Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan)

Menyedihkan, jika seorang capres kalau berpidato sering tersesat dan menyesatkan. Ini bikin gak asyik bagi kesejahteraan mental rakyat, tetapi bagi yang cinta kebenaran kabar buruk yang terus disebar seorang capres bisa jadi umpan untuk berselancar di dunia data.

Dengan berpegang teguh pada tujuan RI untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, pembodohan kita balik jadi peminteran.

Kita maklum oposisi memang harus selalu melempar serangan ke petahana, tetapi harusnya jangan mengorbankan kebenaran. Berita (buruk) tanpa fakta bisa disebut bohong, dan dampaknya adalah pesimisme sehingga nalar menjadi melemah.

Jika ini disengaja, emosi memang diaduk sehingga keputusan pilihan pilpres kelak karena emosional, pertimbangannya identitas primordial.

Sebaliknya, agar nalar terpelihara maka mental harus terjaga dalam kegembiraan. Kita halau ketakutan dan keputusasaan akibat penyebaran berita buruk dengan santai, paling tidak emosi harus selalu normal.

Hanya dengan demikian kita akan mampu mementahkan serangan intimidatif dengan telak berbekal data akurat, valid dan terpercaya.

Kontroversi terakhir misalnya adalah kutipan situasi kemiskinan dan kekacauan RI yang disetarakan dengan Haiti, Siera Lione dan Rwanda. Data dari World Bank tentang kemiskinan maupun tentang GDP/GNI nyata menempatkan RI jauh lebih baik dari tiga negara mungil di Afrika dan Amerika tersebut.

Saya hendak memperkuat bantahan tersebut dengan menggunakan data Non World Bank yaitu laporan tahunan 2018 dari Indeks Negara Rapuh (https://fundforpeace.org/fsi/wp-content/uploads/2018/04/951181805-Fragile-States-Index-Annual-Report-2018.pdf).

Data tersebut lagi-lagi menempatkan RI jauh lebih baik dari ketiga negara tersebut bahkan dari Amerika sekalipun.

Indeks Negara Rapuh (Fragile State Index) adalah sebuah penilaian (assessment) tahunan terhadap 178 negara yang disusun oleh sebuah lembaga nirlaba Fund for Peace dan majalah Foreign Policy dan dimulai sejak 2005.

Keduabelas indikator yang diolah untuk menentukan indeks adalah Security Apparatus, Factionalized Elites, Group Grievance Economic Decline and Property, Uneven Economic Development, Human Flight and Brain Drain, State Legitimacy, Public Services, Human Rights and Rule of Law, Demographic Pressures, Refugees and Internally Displaced Persons dan External Intervention.

Hasil perhitungan Indeks dikelompokkan berdasarkan kategori: Kohesi, Ekonomi, Politik dan Sosial. Sumber data diperoleh termasuk dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), WHO, World Factbook, Transparansi Internasional, Bank Dunia dan Freedom House.

Banyaknya indikator menunjukkan bahwa indeks kerapuhan negara tersebut melibatkan data yang lebih lengkap, luas, dan berbagai sudut pandang sehingga kondisi negara dianalisi lebih mendalam dan detail.

Berdasarkan skor yang diperoleh, suatu negara dapat masuk ke dalam satu dari empat kategori: sustainable, stable, warning, dan alert. Semakin tinggi skor suatu negara, semakin tinggi peringkat kerapuhannya dan berarti semakin rapuh (fragile) negara tersebut.

Indonesia pada 2018 masuk dalam kategori elevated warning, dengan skor 72,3 dan berada di peringkat 91 dari 178 negara.

Pada 2018 Indonesia ada dalam satu kategori dengan Arab Saudi, Meksiko, Tiongkok, Afrika Selatan dan Thailand. Sedangkan Rwanda ada dalam kategori High Warning, dan Haiti masuk dalam kategori negara High Alert yang sekelompok dengan Irak, Afganistan, dan Sudan.

Dilihat berdasarkan tren selama satu dasawarsa 2008-2018, Indonesia masuk dalam kategori terbaik, significant improvement, yakni mengalami penurunan skor lebih dari 10 poin.

Prestasi ini sejajar dengan yang dialami Jerman, Moldova, Kuba, Belarus dan Turkmenistan. Bahkan prestasi ini di atas Amerika Serikat yang selama periode yang sama mengalami pemburukan.

Jadi, pernyataan capres PS yang mensejajarkan Indonesia dengan 3 negara Rwanda, Siera Lione dan Haiti adalah tidak berdasar sekali. Tetapi tampaknya beliau memang sengaja demikian dan dugaan sementara adalah bertujuan menakut-nakuti sehingga memunculkan pesimisme bahkan apatisme rakyat.

Sebagaimana pernyataan-pernyataan buruk yang bombastis tanpa dukungan fakta alias halusinasi tidak akan berdampak karena kita dikenal bangsa yang bahagia.

Kondisi buruk sekalipun kita hadapi dengan bahagia dengan selalu mensyukuri keadaan, apalagi orang Jawa dengan strategi bertahan “untung kita masih punya cak lontong, untung kita masih punya capres jkw yang woles saja meski dicaci maki”.

Tetap happy dan optimis memasuki 2019, Indonesia lebih kuat dari Amerika. (*)

Add Comment