Benarkah Suku Maya Terkait Candi Penataran?

foto
Candi Penataran di Blitar, bangunan pemujaan kuno terluas di Jatim. Foto: TRIBUNJOGJA.com/Setya Krisna Sumarga.

Candi Palah adalah nama kuno Candi Penataran. Nama Palah sebagai nama desa, digunakan karena disebutkan dalam prasasti batu cukup besar yang ditemukan di halaman candi.

Prasasti Palah kini masih bisa dijumpai di halaman selatan candi induk yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Ini komplek bangunan pemujaan kuna terluas di seantero Jawa Timur.

Raja termasyhur Majapahit, Hayam Wuruk, menurut catatan Negara Krtagama, pernah mengunjungi bangunan suci pemujaan leluhur dan dewa Siwa ini. Ia ikut beribadah di Candi Palah yang didirikan Raja Srengga, di masa akhir Kerajaan Kadiri ini.

Apa unik menariknya cerita di seputar Candi Palah ini? Salah satu yang menyita perhatian penggemar kisah sejarah, cerita misteri, dan peminat legenda-legenda kuno, adalah tentang relief di candi dan tafsir tentang pengaruh budaya Suku Maya.

Jika kita gugling, prokontra tema ini cukup semarak. Tema ini juga kerap jadi bahasan para arkeolog, epigraf, ikonograf, peneliti sejarah kuno dan akademisi yang intens menyibak misteri Jawa Kuna.

Apa pangkal soal yang memicu kontroversi ini? Adalah sejumlah relief yang dipahatkan di relung-relung dinding Candi Palah menampilkan sosok prajurit bersenjata tombak yang tengah berlari sembari menenteng perisai.

Di kepalanya tersematkan hiasan-hiasan panjang, diduga bulu-bulu unggas. Penggambaran sosok prajurit itu sangat mirip dengan temuan patung dan relief di beberapa kuil suku kuno di Meksiko dan Honduras.

Sosok-sosok berwajah menyeramkan di Candi Palah, termasuk beberapa arca penjaga (dwarapala) juga memiliki kesamaan dengan sosok yang terpahatkan di sebuah kuil suku kuno di Meksiko.

Di bangunan pertama berbentuk persegi, yang dinding-dindingnya dipenuhi relief tentang cerita Kresnayana dalam epos Arjunawiwaha, juga terpahatkan sosok-sosok yang mengenakan penutup kepala mirip turban orang Turki atau Timur Tengah.

Fakta visual ini sekali lagi memicu penafsiran, budaya dan gaya busana Turki dan Timur Tengah mempengaruhi kebudayaan kuna masyarakat Jawa. Wujud penggambarannya ada di Candi Palah ini.

Secara visual, penggambaran cerita dalam relief di dinding Candi Palah memang agak berbeda dengan langgam relief candi Hindu/Budha di Jawa Tengah atau DIY. Di Candi Palah ini tipe pahatan dua dimensi, seperti perwujudan wayang kulit.

Sosok-sosok yang direliefkan juga mengesankan figure-figur berwajah agak aneh, tidak seperti di candi-candi Hindu-Budha di Borobudur, Prambanan, Mendut dan lain-lain, yang lembut dan rupawan.

Pengajar sejarah Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, yang juga seorang arkeolog, meminta masyarakat untuk tidak tergesa-gesa menyimpulkan hubungan kebudayaan suku kuno di Amerika Selatan dengan Candi Palah.

“Kita tidak boleh tergesa-gesa menyimpulkan persamaan visual itu karena satu mempengaruhi yang lain,” kata Dwi Cahyono kepada Tribunjogja.com, Rabu (2/1).

“Persamaan bisa karena pararelisme, kebetulan yang tidak ada hubungannya sama sekali,” lanjutnya. Salah seorang Tenaga Ahli Cagar Budaya (TACB) Malang ini lebih jauh menjelaskan soal difusi dan pararelisme kebudayaan.

Difusi itu memang saling mempengaruhi dari satu tempat ke tenmpat lain. Bisa difusi kebudayaan dari Nusantara ke Latin, atau sebaliknya. Sedangkan pararelisme kebudayaan bisa terjadi karena kesamaan ketersediaan bahan.

Jenis-jenis unggas tertentu di Amerika Latin ada, di Nusantara juga ada. Misal ayam dan burung. Bagi Dwi Cahyono, relief orang-orang bertombak di Candi Palah yang mengenakan bulu-bulu di kepala adalah semata penggambaran keprajuritan masa itu.

Artinya gambaran prajurit semasa ketika bangunan pemujaan Siwais itu dibangun sejak akhir masa Kerajaan Kadiri, Singhasari hingga akhir masa Majapahit. “Bagi saya itu memberi petunjuk kepada kita bagaimana busana keprajuritan masa itu,” kata Dwi.

“Pertanyaannya, penggunaan bulu-bulu sebagai hiasan di kepala itu apa identik dengan busana perang atau tradisi keprajuritan di tempat lain (Indian, Maya, Inca, Aztec dll)? Sekali lagi, kita tak perlu tergesa-gesa menyimpulkan persamaan itu,” tegasnya.

Secara kebudayaan Nusantara, penggunaan bulu ungags sebagai hiasan busana keprajuritan juga dikenal di beberapa daerah di Indonesia. Bahkan hingga saat ini masih sering divisualkan dalam acara-acara adat budaya.

Misalnya busana perang ala suku Minahasa, suku Dayak, suku Nias, Papua. Di Jawa, dalam beberapa jenis tarian lokal di Yogya dan Jateng, juga menggunakan bulu unggas sebagai hiasan kepala, kelat bahu, dan penutup pinggang.

Dwi Cahyono menambahkan, selain hiasan bulu unggas, relief di Candi Palah sebetulnya juga menggambarkan penggunaan semacam baju zirah atau pelindung tubuh para prajurit.

Baju pelindung, baik dari kulit tebal maupun logam, ini juga sudah dikenal sejak masa Jawa Kuna. “Istilahnya warman atau parman atau harnas. Pengaruh kebudayaan dari India cukup kuat. Juga dari budaya China,” katanya.

Ihwal tafsir kaitan suku kuno Indian dan Candi Palah juga ditepis pakar Jawa Kuna era Majapahit, Prof Dr Agus Aris Munandar. Bahwa ada pengaruh asing di relief itu betul, tapi mengaitkan dengan suku kuno di Amerika Selatan baginya tidak relevan.

Bagaimanapun ketika bangunan itu dibuat, masyarakat di Kadiri, Singhasari maupun masa Majapahit, sudah berinteraksi dengan suku-suku lain yang berdatangan. Sehingga bisa saja memberi inspirasi kepada para pemahat Candi Palah.

Sejauh ini menurut Agus Aris Munandar, belum pernah ada teks yang menunjukkan masyarakat Jawa Kuna berhubungan dengan Suku Maya dan suku kuno lain di Amerika Selatan. Begitu juga sebaliknya.

“Soal kesamaan, bisa saja tanpa harus ada relasi budaya. Produk senjata panah misalnya, bentuk mata panah di manapun nyaris sama, semua bangsa sama bentuknya seperti itu,” katanya. (ist)

Add Comment