Bakal Ada Museum ‘Song Terus’ di Pacitan

foto
Museum Song Terus, calon ikon modern di Jawa selatan. Foto: Tribun Jogja/Setya Krisna Sumargo.

Direktorat Kebudayaan Kemendikbud RI tengah membangun sebuah museum besar dan modern di pelosok atau pedalaman Jawa bagian selatan. Lokasi museum tiga lantai ini ada di Desa Wareng, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Saat ini, proyek pembangunan museum telah memasuki tahun ketiga. Kerangka bangunan induk sudah berdiri kokoh. Lansekap pendukung sekitar juga tengah dikerjakan.

Tahap ketiga pembangunan dimulai Mei 2018. Anggarannya senilai Rp 18,45 miliar dikerjakan oleh kontraktor PT Karya Shinto Manarito.

“Kita memang memusatkan museum prasejarah wilayah selatan di Punung,” kata Harry Widianto, mantan Direktur Permuseuman dan Pelestarian Cagar Budaya Kemendikbud RI.

Harry Widianto memiliki andil besar di rangkaian pembangunan museum-museum besar di tanah air dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Harry pula yang menginisiasi modernisasi Museum Situs Prasejarah Sangiran yang memiliki empat klaster. Ia pula yang mendorong pembangunan museum di Gua Harimau, Sumsel.

Di Jawa Tengah, selain Sangiran, tengah diselesaikan pembangunan museum purba di Semedo, Kabupaten Tegal.

Menurut Harry Widianto, Museum Situs Song Terus di Pacitan dibangun tiga lantai, sekaligus sebagai simbolisasi tiga tahap kegiatan arkeologi dan tiga lapis peradaban yang ditemukan di wilayah ini.

Letak bangunannya berhadapan muka dengan situs Song Terus. Berdiri di areal lebih kurang 2,5 hektare, desain arsistektur museum ini sangat indah dan futuristik.

Dikutip dari urbane.co.id, seperti ditulis TribunJogja.com, konsep yang dirancang dari arsitektur museum Song Terus, sebagai pusat orientasi dan kegiatan arkeologi di kawasan Gunung Sewu, orientasi nodal ke semua arah.

Sedangkan orientasi aksesnya ke arah utara, untuk memperkuat keberadaan situs-situs penting lain di kawasan Gunung Sewu.

Tentag konsep perlapisan bangunan, di level -1 atau dasar akan menyajikan lapis keberadaan artefak arkeologi di dalam tanah. Kegiatan obersevasi banyak dilakukan di lapisan ini.

Berikutnya di level 0, akan menyajikan kegiatan arkeologis selanjutnya yaitu deskripsi, memaparkan dan meyajikan hasil temuan-temuan penelitian.

Di level 1, merupakan area kegiatan pembelajaran dan pemaparan temuan-temuan arkeologis yang ditemukan di situs-situs prasejarah Gunung Sewu.

Perancang arsitektur Urbane dari Bandung inilah yang memenangkan kompetisi perancangan Museum Song Terus oleh Kemendikbud.

Secara khusus, bahan baku lokal, terutama batuan-batuan dari Gunung Sewu digunakan sebagai ornament utama di dindingnya.

Bentuk bangunan memanjang atau persegi panjang, yang nantinya akan dilengkapi menara pandang bagi pengunjung yang ingin melihat lansekap dan bentang alam sekitarnya. (ist)

Add Comment