Kopiah, Antara Simbol Religius dan Nasionalis

foto
Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia bersama Presiden AS John F Kennedy. Foto: Singindo.com.

Dalam tradisi pesantren, kopiah menjadi salah satu identitas penting. Kopiah menandai seorang laki-laki yang selalu menempatkan diri pada tingkat derajat kemuliaan yang tinggi. Selain itu, kopiah juga disepakati sebagai simbol sikap nasionalis.

Kopiah biasa diartikan dengan songkok atau peci. Ia berasal dari bahasa Arab yaitu kufiya, kafieh, dan kafiyeh yang berarti penutup kepala.

Walaupun kafiyeh dalam tradisi Arab merujuk pada benda yang berbeda dengan kopiah yang kita kenal, yaitu sejenis syal berbentuk kain persegi bermotif jaring yang dilipat umumnya terbuat dari kain katun.

Kopiah merujuk pada topi tradisional bagi masyarakat Melayu yang mirip dengan Fez, penutup kepala Turki. Belasan jenis kopiah lahir karena merupakan bagian dari komoditas fesyen, seperti songkok hitam, kopiah puteh, dan beragam lainnya.

Penggunaan kopiah sendiri tercatat abad ke 15 M. Dalam Sejarah Nasional Indonesia III (1992), karangan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, dikisahkan ketika Zainal Abidin (1486-1500), raja Ternate, memelajari ajaran Islam di Giri, ia membawa kopiah sebagai buah tangan.

Kopiah dari Giri, yang merupakan pusat penyebaran Islam awal di Jawa, dipercaya memiliki kekuatan magis. Untuk mendapatkannya harus menukarkannya dengan rempah-rempah, terutama cengkeh tulis (Kertamukti, 2013: 54).

Sejak awal, meski merupakan produk fesyen, kopiah membawa arti bagi pemakainya. Hal ini dapat dijelaskan melalui filsafat dalam memaknai tanda.

Ferdinand De Saussure menyebutkan bahwa Langage atau kesadaran budaya dibentuk atas pemaknaan individu (parole) atas seperangkat norma dan aturan interpersonal (langue).

Saussure mencontohkannya pada permainan catur. Sekalipun pemain menjalankan bidak dengan kehendak pribadi, namun dia selamanya akan terikat pada aturan yang berlaku pada permanian catur.

Maka laki-laki yang memakai kopiah akan dimaknai beragam, sesuai dengan sistem sosial yang disepakati oleh masyarakat di mana ia tinggal.

Kopiah bisa menjadi penanda sosial dalam suatu masyarakat tertentu, seperti menjadi simbol perilaku wira’i dalam tradisi pesantren serta identitas nasionalis bagi warga Indonesia.

Menurut sejarah, kopiah awalnya diperkenalkan oleh para pedagang-pedagang Arab yang menyebarkan agama Islam (Yunos, 2007). Sehingga, hingga hari ini seringkali kopiah diidentikkan sebagai fesyen yang Islami.

Ditambah, dalam berbagai ritual keagamaan Islam, kopiah merupakan atribut yang selalu melekat pada laki-laki sebagai simbol kesopanan serta menandakan bahwa dia adalah individu yang menjaga diri untuk berperilaku terhormat.

Bagi santri, berada di ruang publik tanpa memakai kopiah adalah perilaku tercela yang bisa merendahkan harga diri. Apalagi ketika berada dalam suatu forum ritual keagamaan seperti maulid Nabi, tahlilan dan semacamnya.

Meskipun secara dalil normatif, anjuran berkopiah atau menutup kepala hanya ada ketika melaksanakan shalat saja.

Hal ini muncul karena kopiah memiliki makna mendalam dalam benak masyarakat Indonesia, khususnya pesantren. Kopiah bermaksa “kosong amergo dipyah “, maknanya kosong karena dibuang. Yang dibuang ialah kebodohan dan rasa iri hati serta dengki yang merupakan penyakit bawaan setan.

Selain itu, kopiah juga disebut songkok yang berarti “kosongnya mangkok”. Berarti hidup seperti mangkok yang kosong dan harus diisi dengan ilmu yang bermanfaat.

Satu pendapat yang mengatakan bahwa Laksamana Cheng Ho yang berjasa membawa kopiah yang juga disebut peci berarti “delapan energi”. Maksudnya ialah penutup bagian tubuh yang bisa memancarkan energinya ke delapan penjuru mata angin.

Meskipun demikian, kopiah tidak hanya identik dengan kalangan pesantren. Pada masa perjuangan kemerdekaan, Soekarno memperkenalkan kopiah hitam sebagai identitas kebangsaan.

Simbol ini menegaskan persatuan melawan kolonialisme dan menyimpan arti semangat nasionalisme (Kertamukti, 2013: 53). Bahkan, di Indonesia kopiah sebenarnya bukan monopoli umat Islam saja.

Makna kopiah sebagai simbol nasionalis berasal dari tafsir Soekarno. Diceritakan dalam buku biografinya yang ditulis oleh Cindy Adams berjudul Penyambung Lidah Rakyat (1965), Soekarno tengah berpikir mencari sebuah simbol pemersatu bangsa.

Menurutnya, banyak kawannya yang berlagak ke-Barat-Baratan dengan enggan memakai blangkon dan penutup kepala, karena dianggap kelas rendahan.

Dalam pidatonya di hadapan kaum intelektual dalam rapat Jong Java pada Juni 1921 di Surabaya, Soekarno berkata, “Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.” Soekarno juga menyebut kopiah sebagai “ciri khas saya… simbol nasionalisme kami.”

Tak heran hingga hari ini, dialektika pemaknaan atas kopiah terus berlangsung. Tarik ulur kopiah sebagai simbol religius Islam atau tanda seorang nasionalis tidak akan pernah usai, karena ada jarak antara kopiah sebagai benda material dan makna kopiah dalam kesadaran sosial. (*/ditulis Sulkhan Zuhdi, Peneliti muda IJIR)

Add Comment