Filosofi Jawa ‘Asta Brata’ ala Dokter Nalendra

foto
Launching buku ‘Strategi nalendra’ di Hotel Luminor, Jumat (18/01). Foto: Istimewa.

Mantan Kepala Rumkital Dr Ramelan Surabaya, Laksamana Pertama TNI dr I Dewa Gede Nalendra Djaya Iswara SpB SpBTKV(K) meluncurkan buku berjudul ‘Strategi Nalendra – Ubah Ancaman Menjadi Peluang: Rumkital Dr Ramelan Era JKN’.

Nalendra yang secara resmi melepaskan jabatannya sebagai Karumkital pada 4 Januari lalu itu, memang dikenal luas sebagai sosok yang membawa rumah sakit yang dulu bernama RSAL itu sukses bertahan, bahkan berinvestasi secara massif dalam masa turbulensi pelayanan rumah sakit di era JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).

Era JKN yang dikembangkan pemerintah melalui BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan memiliki beberapa peraturan dan kebijakan yang dirasa memberatkan RS.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) TNI AL ini membuat pola pembiayaan pada pasien yang tetap terkendali tanpa mengurangi mutu pelayanan, yakni dengan Kendali biaya benar benar diperketat. Berbagai perhitungan yang seksama pun akhirnya membawa Rumkital Dr Ramelan keluar dari turbulensi RS dan mendapatkan hasil yang memuaskan dan menjadi RS yang surplus.

Dalam buku yang ditulis Siti Nasyi’ah itu Nalendra membagikan beberapa strategi yang ia pakai untuk mengubah ancaman menjadi peluang. Ia pun berharap agar buku ini dapat membantu RS lainnya untuk survive (bertahan) dalam turbulensi RS ini.

Filosofi Jawa
Strategi yang dijabarkan Nalendra salah satunya menerapakan model kepemimpinannya yang meniru model kepemimpinan dalam filosofi Jawa, yaitu Asta Brata yang selalu dia pegang.

Kalimat Asta Brata itu sendiri merupakan rincian dari delapan sifat inti dari seorang pemimpin. Kisahnya, delapan ajaran utama tentang kepemimpinan ini adalah petunjuk Sri Rama kepada sang adik, Wibhisana ketika dinobatkan sebagai Raja Ayodya.

Materi dari ajaran Asta Brata itu sendiri merupakan sifat mulia yang diambil dari alam semesta yang ada. Maknanya dalam. Dari asta yang satu menuju asta lainnya berkaitan erat. Itulah sebabnya mengapa para raja di Jawa kemudian mengamalkannya sebagai pedoman dalam memimpin sebuah kerajaan atau wilayah demi sebuah kemakmuran.

Tak ayal, jika ajaran ini kemudian muncul dalam artefak Jawa. Mulai dari kesenian wayang ataupun ketoprak yang jadi tontonan favorit masyarakat, khususnya di pulau Jawa kala itu. Asta Brata ini kemudian jadi kebijakan turunan temurun dari para raja Jawa.

Delapan ajaran Asta Brata itu sendiri merupakan sifat inti seorang pemimpin dalam tradisi Jawa dengan delapan simbol alam. Inti dari Asta Brata itu sendiri merupakan kebijakan dan keselamatan dalam mengemban amanah sebagai pemimpin.

Indra Brata (Tirta, Warih) : Seorang pemimpin haruslah mengikuti sifat air. Sifat air itu bisa dipersepsikan sebagai hujan. Memberi kesejahteraan bagi rakyat. Harus bisa memberi hujan (air).

Yama Brata (Kartika) : Seorang pemimpin memiliki sifat adil. Menciptakan rasa keadilan sehingga masyarakat merasa diperlakukan sama.

Surya Brata : Seorang pemimpin haruslah memberikan penerangan (Matahari).

Candra Brata (Bulan) : Seorang pemimpin harus memperlihatkan wajah tenang dan berseri-seri. Sehingga rakyat merasa yakin akan kebesaran jiwa dari pemimpinannya.

Bayu Brata (Angin) : Seorang pemimpin haruslah mengetahui dan mencari tahu keadaan rakyatnya hingga tidak ada lagi yang hidup menderita.

Kuwera Brata (Bumi): Seorang pemimpin harus bijaksana mempergunakan dana dan uang dengan tujuan mensejahterakan rakyatnya.

Baruna Brata (Lautan) : Sorang pemimpin haruslah seperti Baruna, mampu memberantas segala bentuk penyakit di masyarakat. Misalkan pengangguran, pencurian, kenakalan remaja hingga memberantas pengacau keamanan negera.

Agni Brata (Api, Dahana): Seorang pemimpin haruslah memiliki isfat seperti api. Mampu memberi motivasi hingga tumbuh sifat ksatria.

Penerapan Asta Brata yang diugemi itu membuahkan hasil maksimal. Pendapatan Rumkital Dr Ramelan meningkat tajam. Peningkatannya berlipat-lipat dari sebelumnya. Anak buahnya ikut merasakan berbagai inovasi dan terobosan barunya itu. Insentif melambung. Kesejahteraan meningkat.

Namun Nalendra juga menerapkan sistem efisiensi dan efektifitas. Pendapatan yang diterima Rumkital Dr Ramelan, sebagian dikembalikan untuk kepentingan investasi, untuk pengembangan dan pembangunan Rumkital Dr Ramelan. (sak)

Add Comment