Leo Suryadinata: Pakar Etnis Tionghoa di Indonesia

foto
Leo Suryadinata. Foto: Nusabali,com.

Leo Suryadinata adalah ilmuwan sosial yang memberikan pengaruh besar untuk memahami etnis Tionghoa dalam dinamika kehidupan sosial, ekonomi, politik, budaya Indonesia.

Di bidang ini, tidak ada sarjana lain yang mempunyai minat sekuat Leo Suryadinata, dan itu tercermin dalam karya – karya bukunya yang terbit sejak tahun 1976 hingga sekarang.

Selain itu, Leo Suryadinata juga berkontribusi dalam memahami politik luar negeri Indonesia dan politik Indonesia pada umumnya, termasuk pemilihan umum pada awal Reformasi 1998, Sebagai penghargaan atas kontribusinya ia menerima Nabil Award pada 2008 berkaitan dengan sumbangannya terhadap integrasi etnis di Indonesia.

Tahun ini Pemerintah RI lewat Kementerian Pendidikan dan kebudayaan memberinya Anugerah Kebudayaan untuk kategori Perorangan Asing.

Penghargaan ini diberikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan kepada perorangan asing di bidang sosial, politik, ekonomi, hukum, budaya, ilmu pengetahuan tentang Indonesia, dan bidang–bidang lain yang memberikan manfaat besar bagi bangsa dan negara Indonesia.

Leo mengaku tidak menyangka bahwa dia bisa memperoleh penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Baginya, penghargaan ini merupakan suatu kehormatan yang luar biasa.

Namun, ia menerima penghargaan ini dengan perasaan rendah hati dan berharap para akademisi di Indonesia dan asing lainnya yang menaruh perhatian besar kepada Indonesia juga kelak mendapat penghargaan serupa.

Minatnya dalam mempelajari Indonesia dimulai dari fakta bahwa ia lahir dan dibesarkan di Indonesia. Sebagai keturunan Tionghoa, ia ingin mengerti banyak mengenai diri sendiri, kelompok dan masyarakatnya. Menurutnya, hanya dengan mengerti latar belakang diri sendiri seseorang akan bisa mencapai kebahagian.

Kiprahnya dalam bidang penelitian dan pendidikan, terutama mengenai etnisitas dan minoritas Tionghoa di Asia Tenggara, khususnya mengenai Indonesia, dimulai sejak tahun 1976 ketika ia menjadi peneliti di Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) di Singapura, dan berkembang ketika pindah mengajar di National University of Singapore selama 20 tahun.

Penelitiannya banyak mengutamakan nasionalisme Indonesia dalam hubungannya dengan peranakan Tionghoa. Pada saat mengejar gelar sarjana penuh di Universitas Indonesia, Leo Suryadinata adalah salah satu pelopor dari penelitian pers peranakan Tionghoa Indonesia.

Penelitian Leo mengenai peranakan Tionghoa di Indonesia dilanjutkan ketika ia mendapatkan kesempatan belajar di Monash University, Leo mengalihkan perhatiannya kepada studi tentang persepsi elite dan kebijaksanaan pemerintah yang berkaitan dengan etnis Tionghoa di Indonesia. Kemudian Leo meneliti berbagai aspek masyarakat Tionghoa di Indonesia, termasuk perannya dalam pembangunan bangsa Indonesia.

Studi tentang Indonesia dan etnis Tionghoa bukanlah satu – satunya bidang yang dipelajari dan dikuasai Leo. Ia menyebutkan bahwa keahliannya bisa dikatakan ada di beberapa bidang. Bukan saja ilmu sejarah, tetapi juga ilmu sastra, politik, dan hubungan Internasional.

Baginya, kesempatan belajar di Monash University dan beberapa Universitas lainnya seperti Ohio University dan American University merupakan kesempatan untuk memperluas horizon; Leo mempelajari konsep dan teori ilmu sosial dan ilmu hubungan internasional.

Beberapa karya bukunya mengenai politik luar negeri Indonesia telah menjadi buku rujukan di berbagai universitas, termasuk di Indonesia.

Apa yang telah ia kerjakan, hal serupa juga ia harapkan dilakukan oleh peneliti dan akademis muda Indonesia. Baginya, penting untuk menguasai Bahasa asing, juga ilmu–ilmu baru, yang selanjutnya diolah oleh diri sendiri karena tidak seluruhnya ilmu yang dipelajari diterima begitu saja. “Perlu adanya penyesuaian,” kata Leo.

Tidak hanya akademisi, dalam era globalisasi ini, penting bagi kita untuk mengetahui lebih banyak tentang lingkungan, masyarakat Indonesia, suku–suku bangsa yang berbeda agar bisa mengenal lebih jauh dan lebih dekat. Menurut Leo, kemanusian itu semuanya sama–sama mempunyai perasaan yang halus dan cita–cita. (ist/sumber)

Add Comment