Makna Kesederhanaan Arca Aksobhya di Malang

foto
Arca Aksobhya di halaman museum Mpu Purwa di kota Malang. Foto: Merdeka.com.

Arca Buddha Aksobhya menempati halaman Museum Mpu Purwa Kota Malang. Patung ini memiliki ciri berkepala plontos dalam posisi duduk sila bersemedi.

Kendati dianggap ‘sederhana’, namun keberadaannya dinilai sangat berarti bagi perkembangan Buddha di Indonesia. Arca tersebut diperkirakan sebagai pentasbihan Kertanegara, Raja Singosari sebagai jina atau Buddha yang sudah mencapai Nirwana.

Arkeolog Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono mengatakan, arca Aksobhya koleksi museum Mpu Purwa tidak memiliki angka tahun. Tetapi bukan tidak mungkin diketahui usianya dengan memperkirakan lewat metode kompilasi.

“Caranya dengan membandingkan arca yang memiliki kesamaan dengan arca ini, yaitu arca Maha Ashobya yang di Taman Apsari Surabaya atau Patung Joko Dolog,” kata Dwi dalam Ngaji Budaya di Museum Mpu Purwa Malang, pekan lalu seperti dilaporkan Merdeka.com.

Kedua arca tersebut, kata Dwi, sama-sama Maha Ashobya dan berkepala gundul. Detail pakaiannya juga serupa, walaupun ukuran yang di Museum Mpu Purwa sedikit lebih kecil.

“Pada pedestanya, kalau yang di Surabaya dilengkapi dengan prasasti yang menegaskan kalau berasal dari Raja Kertanegara tahun 1286 masehi. Prasasti itu isinya pentasbihan Raja Kertanegara sebagai Jina,” jelasnya.

Berdasarkan perbandingan ini, maka diperkirakan arca ini sezaman dengan yang di Taman Apsari. Keduanya dari zaman Singosari sekitar masa Kertanegara.

Kertanegara dianggap sudah mencapai muksa ketika orangnya masih hidup dan berkuasa. Untuk mencapai muksa seharusnya setelah mati. Namun dalam aliran tantra, muksa bisa saja diraih secepat-cepatnya, walaupun masih sebagai raja Singosari.

“Karena itu Kertanegara di akhir-akhir hidupnya sangat religius, berbeda dengan sebelum tahun 1920-an yang lebih ekspansif. Tetapi mendekati usia tua, semakin religius. Ketika diserang Kediri, dia masih berada di suatu tempat pemujaan,” jelasnya.

Kertanegara sendiri dipuja di beberapa tempat. Ada yang dipuja sebagai Syiwa seperti di Candi Singosari, tapi di Candi Jawi dipuja sebagai syiwa Buddha. Pemujaan ketiga, Kertanegara juga sebagai Sugata.

“Tetapi apakah tempat pentasbihan Sugata di tempat arca ini ditemukan. Bisa dimungkinkan. Karena arca ini saat ditemukan mirip sekali dengan pentabisan Kertanegara sebagai Ashobya seperti yang di Taman Aphari,” katanya.

“Mungkin juga arca ini sebagai arca pentabisan untuk Kertanegara sebagai jina,” tegasnya.

Arca Ashobya tersebut dinilai langka dan diperkirakan hanya 3 di Indonesia, yakni Joko Dolog di Surabaya, dan di Museum Nasional Jakarta.

Sementara asal-usul arca Ashobya di Mpu Purwa memiliki perjalanan panjang. Awal keberadaan arca tersebut di Halaman Gedung Pakri, Jalan Pahlawan Trip Kota Malang. Patung tersebut didampingi dua arca Makara.

“Berdasar foto tahun 1917, sampai tahun 1980 posisinya tetap seperti itu, terdapat 2 Makara itu,” tegasnya.

Tetapi akhir 1980-an, gedung Pakri direnovasi dengan penampilan seperti sekarang ini. Ketika direnovasi arca Ashobya dan 2 Makara dipindahkan ke Halaman Perpustakaan Kota Malang.

Karena saat itu, Pemkot Malang berencana membuat museum dengan lokasi di perpustakaan. Tetapi ternyata rencana itu batal dan membangun Museum Mpu Purwa seperti sekarang ini.

“Kemudian diboyong ke sini bersama arca yang lain. Lokasi asalnya di mana belum diketahui. Gedung Pakri bukan lokasi yang sebenarnya,” katanya.

Museum Mpu Purwa menggelar Ngaji Budaya dengan membedah benda koleksi dengan mengulas sejarahnya. Acara tidak sekadar kunjungan museum tetapi membicarakan tentang rekonstruksi, tafsir historis.

Ngaji Budaya diawali membedah tentang arca Buddha Ashobya, dan arca-arca yang berkaitan dengan sejarah Buddha di antaranya arca Dhyani Bodhysatwa, Patung Singa Samba dan Makara.

Hadir juga dalam kesempatan itu lima calon biksu muda dari padepokan Vihara Dhammadipa Arama di Junrejo, Kota Batu. Samanera Jayasaranu, salah satu di antara mereka mengatakan sinau mengenai sejarah Buddha dinilai sangat baik terutama tentang perkembangan Agama Buddha.

“Sudut pandang Buddhisme, itu adalah Buddha Gautama dalam aliran Terawadha. Jadi beliau adalah anak raja yang bapaknya adalah Suddhodana dan ibunya Dewi Mahayana. Beliau meninggalkan duniawi dan menjadi seorang bapak cita hingga mencapai penerangan sempurna,” ujarnya. (mer)

Add Comment