Gereja Kayutangan Malang Menjadi Cagar Budaya

foto
Gereja Katolik Hati Kudus Yesus atau juga disebut Gereja Kayutangan sebagai Benda Cagar Budaya. Foto: Merdeka.com.

Nuansa kemegahan kota terasa begitu memasuki Jalan Jenderal Basuki Rahmat mendekati Alun-Alun Kota Malang. Padangan mata langsung menangkap, bangunan gereja klasik yang menjulang dan seolah menyapa siapapun yang datang.

Jalan yang sedikit melengkung membuat bangunan itu nampak dengan berlahan-lahan di antara aneka poster dan penyeberangan jalan. Bangunan iconic tengah kota itu adalah Gereja Katolik Hati Kudus Yesus atau juga disebut Gereja Kayutangan.

Gereja Katolik tertua di Kota Malang itu didirikan pada 1905 sebagai penanda kota dengan dua menaranya yang menjulang setinggi 33 meter. Keberadaannya di Jalan Kayoetangan dan sekarang menjadi Jalan Basuki Rahmat membuatnya juga disebut gereja Kayutangan.

Pemerintah Kota Malang menetapkan Gereja Hati Kudus Yesus sebagai salah satu benda cagar budaya di antara 32 benda yang lain. Keberadaannya memiliki peran penting dalam perkembangan Kota Malang.

“Gereja ini menjadi saksi eksistensi umat Katolik sejak masa kolonial Belanda di Kota Malang,” kata Agung H Buana, Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang, seperti dilaporkan Merdeka.com.

Seni bangunan gereja ini menunjukkan ciri khas bangunan pertengahan Abad 19 dengan struktur gedungnya yang tinggi dengan gaya arsitektur gothic. Karena memang perancangnya arsitek Belanda lulusan Kunstniverheidschool Quellinus di Amsterdam, Marius J Hulswit. Seperti diketahui Kunstniverheidschool Quellinus dipimpin Petrus Josephus Hubertus Cuypers, arsitek neo-ghotic di Belanda.

Model strukturnya kerangka kokoh pada dinding dan atap yang berfungsi sebagai penutup. Gereja ini memiliki jendela dan pintu yang besar pada dinding dengan konstruksi skelet. Tampak pada tembok luar gereja yang ditopang tiang peyangga dinding berbentuk persegi.

Kendati berarsitektur gereja gothic, denah bangunan berbentuk kotak, tidak berbentuk salib seperti kebanyakan gereja gothic. Selain itu juga tidak ditemukan adanya ruang double aisle atau nave dan sejenisnya.

Lebar bangunan kurang lebih 11,4 meter dan panjang sekitar 40 meter. Di sisi kiri dan kanan bagian depan bagunan terdapat tangga menuju lantai dua yang tidak penuh.

“Kedua tangga inilah, pada tampak luarnya dibuat dua menara (tower) yang biasa ditemukan di gereja-gereja Neogothik,” katanya.

Menara tersebut dibangun sekitar tahun 1930-an dan tercatat dua kali runtuh sejak dibangun. Menara itu pernah runtuh pada 10 Februari 1957 ketika sedang berlangsung khotbah di dalamnya. Salib di ujung menara runtuh hingga menimbulkan lubang di atapnya. Menara kembali runtuh pada 27 November 1967, akibat ditabrak sebuah pesawat TNI AU.

Sementara altar kayunya dipesan dari seorang tukang kayu keturunan Cina di Surabaya. Namun altar yang sekarang ini bukan lagi yang didesain oleh arsitek aslinya. Altar lamanya sudah disingkirkan pada 1965.

Hingga saat ini, gereja Hati Kudus Yesus Kayutangan masih kokoh berdiri menjadi ikon Kota Malang. Wisatawan tidak pernah luput menyaksikan dan mengunjungi gereja menterang itu.

Walikota Malang Sutiaji, menjanjikan akan memberikan insentif bagi bangunan Cagar Budaya. Insentif dalam bentuk dana pembiayaan perawatan atau keringanan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

“Insentifnya nanti dalam bentuk pengurangan pajak dan biaya perawatan,” tegas Wali Kota Malang, Sutiaji, usai menetapkan 32 bangunan dan struktur bangunan sebagai cagar budaya, beberapa waktu lalu.

Pemberian insentif sebagai upaya menjaga bangunan bersejarah yang masih tersisa. Karena sudah banyak bangunan heritage yang hilang dibongkar dan beralih fungsi. “Kalau kita tidak perhatikan, pelan tapi pasti ini akan punah,” tegasnya. (mer)

Add Comment