Gerabah Dinasti Ming Ditemukan Warga Trenggalek

foto
Petugas meneliti gerabah keramik di Panggul, Trenggalek. Foto: Antaranews.com.

Sukarni , seorang warga Desa Gayam, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek saat mengolah tanah kebunnya untuk produksi batu bata, secara tidak sengaja menemukan sejumlah benda kuno berupa gerabah asal Tiongkok yang diduga peninggalan bersejarah zaman dinasti Ming.

Kepala Disparbud Trenggalek Joko Irianto di Trenggalek, mengatakan benda-benda yang ditemukan hampir semuanya terbuat dari keramik, di antaranya berbentuk mangkuk, guci kecil untuk minum, cupu, uang logam dan aneka peralatan rumah tangga lainnya.

“Benda-benda kuno ini ditemukan saat Bapak Sukarni mencangkul tanah pada kedalaman tertentu,” kata Joko seraya menambahkan bahwa untuk mengetahui lebih jelas tentang benda-benda tersebut pihaknya masih menunggu penelitian lebih lanjut dari arkeolog.

Menurut dia, awalnya benda-benda yang ditemukan tersebut dibawa pulang Sukarni ke rumah, dan kabar pun tersebar dari mulut ke mulut hingga akhirnya sampai ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek.

“Begitu mendapat informasi tersebut, kami langsung ke lokasi untuk meninjaunya,” kata Joko seperti dilaporkan Antaranews.com.

Diperkirakan benda tersebut dibawa oleh dari saudagar China ke wilayah Kecamatan Panggul sekitar tahun 1.400-an, atau masa pemerintahan Kerajaan Majapahit.

Asumsi itu mengacu adanya runutan sejarah hubungan diplomasi antara Kerajaan Majapahit dengan kerajaan yang berasal dari Tiongkok.

Sehingga untuk penelitian penelitian lebih lanjut saat ini Disparbud akan membuatkan surat laporan resmi yang nantinya ditunjukan kepada bupati juga Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disparbud) Jatim, Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta, dan Balai Pelestarian Benda Cagar Budaya (BPCB) Jatim.

Dari situ akan dilakukan penelitian lanjutan apakah wilayah tersebut perlu dilakukan eskavasi atau tidak.

Sedangkan untuk keamanan, lanjut Joko, pihaknya akan bekoordinasi dengan pemerintahan kecamatan dan desa setempat guna memberikan sosialisasi terhadap warga sekitar. Tujuannya agar semua pihak ikut menjaga benda cagar budaya tersebut.

“Letak penemuannya di area persawahan, sehingga tidak menutup kemungkinan ada segelintir orang yang berbuat jahat, makanya setelah melakukan peninjauan kami juga melakukan sosialisasi agar semua bisa menjaganya,” katanya. (ant)

Add Comment