Meredam Suara Pembangkangan Ludruk

foto
Ludruk dimainkan anak muda di Surabaya. Foto: Surabaya.go.id.

Ludruk kerap dipahami sebagai komedi. Digelar untuk menghibur masyarakat yang haus seni pertunjukan. Faktanya, bila dilihat dalam sejarah, Ludruk tidak sekadar komedi. Ini merupakan teater tradisional yang juga memuat unsur-unsur kritik dalam pertunjukannya.

Pada masa kolonial, Ludruk sempat menjadi media menyampaikan pesan-pesan nasionalisme dan anti-kolonial (Hatley, 1971). Pesan tersebut biasanya berupa cerita dalam pementasan Ludruk.

Pada masanya, terdapat empat cerita anti-kolonial Ludruk yang sangat populer. Cerita tersebut adalah Sarip Tambak Oso, Pak Sakera, Untung Suropati, dan Sawunggaling. Keempat cerita memiliki semangat melawan penjajah Belanda dan Jepang (Peacock, 1967b).

Setelah kemerdekaan, Ludruk semakin memiliki dimensi kritik sosialnya. Kesenian ini digambarkan Peacock sebagai suatu komedi yang diminati kelas pekerja (working class).

Cerita Ludruk mengandung permasalahan sehari-hari masyarakat kelas pekerja. Dalam hal ini, Ludruk cenderung diminati oleh kelompok urban.

Peacock menyebut Ludruk sebagai ritus modernisasi. Dalam konteks tersebut, Peacock telah lupa jika teater tradisional ini menggunakan cerita sehari-hari guna menghadirkan kritik keadaan sosial yang terjadi.

Teater Ludruk juga membuka ruang bagi rakyat untuk bebas berekspresi. Melalui interaksi penonton kepada aktor (pelawak). Interaksi antara aktor dan penonton cenderung berjalan mengalir. Hal tersebut terjadi karena cerita dalam Ludruk mengena di hati dan kepada masyarakat.

Kebebasan Ekspresi
Cerita- cerita Ludruk memang sangat dekat dengan identitas masyarakat. Kedekatan identitas tersebut menyebabkan Ludruk dengan mudah mengena pada masyarakat.

Sumber-sumber cerita Ludruk biasanya berasal dari kehidupan sehari- hari masyarakat, mite, dan cerita-cerita bersejarah. Misalnya saja, bagian monolog yang diceritakan oleh Peacock.

Monolog biasanya menceritakan tentang keresahan sehari-hari pelawak. Seperti keluhan tentang gaji yang kecil. Lalu, Program-program pemerintah yang tidak mengena ke masyarakat seperti kesejahteraan, pendidikan, dan pekerjaan. Penonton juga terkadang menyahuti keluhan dari pelawak.

Penonton menanggapi keluhan pelawak dengan bercandaan. Misalnya ketika, pelawak berkeluh tentang mencari pekerjaan namun tidak mendapatkanya. Penonton membalasinya “rinio ng nggonanku akeh penggawean. Nang kene kurang kerjoan gawe mateni nyamuk (ke sini di tempatku ada pekerjaan. Tempatku membutuhkan tenaga kerja pembunuh nyamuk)” (Peacock, 1976a). Penonton dan aktor saling berinteraksi menjadi suatu bagian tersendiri.

Interaksi antara aktor dan penonton cenderung terjadi secara spontan. Hal tersebut mengikuti aktor Ludruk yang bermain tanpa naskah hafalan. Aktor Ludruk biasanya bermain dengan cara mengalir atau improvisasi. Kecerdikan aktor dalam mengimprovisasikan cerita membuat Ludruk semakin lebih luwes dan bebas dari narasi cerita.

Sifat Ludruk yang luwes dan bebas tersebut menjadikan interaksi antara penonton dengan pelawak tidak memiliki jarak. Masyarakat melampiaskan kegelisahanya melalui tanggapan yang dilontarkan kepada pelawak.

Interaksi tersebut membuat teater Ludruk semakin hidup dan mengena di masyarakat. Maka dari itu, teater Ludruk memiliki potensi untuk menularkan semangat pembangkangan-pembangkangan sipil (Desantara, 2008).

Suara Pembangkangan
Potensi tersebut pernah teridentifikasi oleh pemerintahan. Sekitar tahun 1960an, pemerintah mengirimkan pejabat untuk memberikan ceramah mengenai kebijakan.

Para pemain Ludruk didorong untuk memainkan tema-tema seputar “dukunglah terhadap Pancasila!” atau “Bangunlah Bangsamu!” (Peacock, 2005). Namun propaganda pemerintah berhenti dengan cepat, karena terbatasnya dana.

Pemerintah pusat juga pernah melakukan sensor yang keras terhadap Ludruk. Terdapat beberapa pemain Ludruk yang pernah diperingatkan oleh polisi, karena kritikannya yang terlalu keras. Kritikan tersebut berupa sindiran terhadap cara kerja polisi yang brutal. Ludruk pada zaman paska kemerdekaan tetap saja sulit diredam.

Bagi “Pengawas drama pertunjukan” dari Inspektorat Daerah Kebudayaan Perwakilan Departemen (PPDK) Jawa Timur, Ludruk menjadi sasaran kontrol. Pada zamannya kesenian ini terus dipantau oleh negara. Lembaga tersebut sebenarnya bisa saja memberhentikan teater Ludruk kapan saja.

Akan tetapi, pemerintah masih menimang-nimang kebijakan pembekuan karena berpandangan bahwa para pemain Ludruk adalah sosok cerdas yang memiliki wawasan tinggi dan mempercayai kesenian Ludruk merupakan ekspresi masyarakat.

Edisi khusus majalah Tempo dalam Lekra dan Geger 1965 (2013) pernah memotret fenomena Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Ludruk mengalami masa keemesan pada zaman kejayaan Lekra di tahun 1960an. Para aktivis Ludruk bergelora dalam mengadakan pagelaran. Ludruk disajikan dengan tema-tema anti-feodalisme.

Zaman keemasan tersebut juga dapat ditemukan di buku milik Peacock “Ritus Modernisasi”. Lekra pernah menjadi sponsor dalam setiap pementasan Ludruk. Peacock menuliskan bahwa kelompok Ludruk Marhaen sebagai sayap kesenian drama pertunjukan Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) pernah menjadi bagian yang disponsori oleh Lekra.

Teater Ludruk pada tahun 1960an menghadirkan nuansa perlawanan terhadap feodalisme. Nuansa tersebut dapat terasa dalam teater Ludruk milik kelompok Marhaen. Peacock juga menceritakan tentang cerita pemberontakan petani yang sering dibawakan oleh kelompok tersebut.

Kelompok Ludruk Marhaen menceritakan tentang pemberontakan petani terhadap lurah dan cariknya. Lurah tersebut lebih memilih menyewakan tanah desa untuk keperluan pabrik gula, ketika petani-petani sedang kesulitan makan.

Para petanipun akhirnya mendatangi rumah pak lurah. Namun pak lurah tetap beriskukuh untuk memberi cap jembol atas kesepakatan serah lahan tersebut.

Seorang petani akhirnya pergi membunuh cari, kemudian pergi ke kantor pak lurah. Di kantor pak lura, para petani bertemu dengan atasan lurah dan manajer pabrik gula.

Akhirnya, para petani menyampaikan keluh kesahnya, tetapi malah dihardik oleh manajer tambang. Lalu, lakon petani pada cerita tersebut menghajar manajer tersebut.

Para penjaga mengangkat senjata dan pertempuran terjadi. Para petani menarik celurit dan mengejar penjaga manajer tersebut dan membunuh mereka. Tirai pertunjukan diturunkan dengan banyak mayat bergelimpangan. Baru setelah itu, sekitar empat puluh anak naik ke panggung dan mencabut palu arit yang berada di atas pangung.

Cerita tersebut secara implisit menghadirkan suatu kritik sosial. Keresahan masyarakat atas ketidakadilan yang dituangkan di dalam pementasan Ludruk. Semangat atas ketidakadilan masyarakat selaras dengan Lekra. Semangat yang selaras dengan konsep seni Lekra yaitu “seni untuk pembebasan”.

Prahara 1965 mengubah status kebudayaan Ludruk. Lekra pun terkena dampak dari prahara 1965/66, karena ditetapkan sebagai underbow dari PKI. Prahara 1965 telah mengubah total seni pertunjukan Ludruk. Paska periode itu. kekuasaan Orde Baru mengambil alih segalanya.

Orde Baru menginfiltrasi dan mengubat total semangat teater Ludruk. Bahkan, teater Ludruk telah diasosiasikan dengan militerisme Orba. Pada akhirnya, Ludruk mulai kehilangan ethos kritik sosialnya. Ludruk tidak lagi memiliki semangat kritik-kritik sosial dan emansipasi (Hatley, 1971). (ditulis Anugrah Yulianto Rachman-Nugi, Jaringan Penulis IJIR)

Add Comment