Hari Kasih Sayang Yaumul Marhamah

foto
Kholiq Arif, mantan Bupati Wonosobo. Foto: Istimewa.

Hari ini Kamis kliwon bertepatan tanggal 14 Februari. Tanggal keramat orang barat yang sering disebut Valentine’s Day atau hari kasih sayang.

Di Indonesia sudah belasan tahun bahkan puluhan tahun setiap 14 Februari pasti muncul perdebatan; minimal merayakan atau tidak merayakan hari kasih sayang model wong londo tersebut.

Terlebih ketika kelompok masyarakat syar’i yang menggejala minimal lima tahun terakhir selalu memasang cap kafir, cap tidak Islami, cap tidak syar’i bagi mereka yang merayakan Valentine’s Day.

Tapi banyak pula kalangan muda yang asik-asik aja merayakan Valentine Day, bahkan sampai di pelosok desa. Biasa anak muda urban yang ingin dianggap modern?

Terlepas dari merayakan atau tidak merayakan hari kasih sayang ala western ini, yang jelas tuntunan berkasih sayang sangat ditekankan oleh agama-agama terutama Islam berjargon rahmatan lil alamin.

Dan itu hakikat Islam yang sesungguhnya. Karena Islam memang agama keselamatan dan Islam adalah agama damai dan Islam adalah agama kasih sayang.

Dalam sistem penanggalan Jawa hari ini Kamis Kliwon juga merupakan neptu kasih sayang.

Karena kebiasaan orang Jawa terutama pemeluk Islam Jawa banyak yang menggunakan momentum Kamis untuk mewujudkan kasih sayang melalui pemberian shodaqoh tolak bala.

Jadi klop antara Islam dengan bibit unggul dan Jawa adalah sawahnya yang sangat subur dan disenangi oleh visi dan misi Islam rahmatan lil alamin yang merupakan esensi dari ajaran agama itu sendiri.

Khusus mengenai hari kasih sayang, Islam punya hari kasih sayang sendiri namanya; Yaumul Marhamah. Nama tersebut langsung pemberian Rasulullah SAW.

Pemberian nama tersebut tidak dilakukan dengan penanggalan masehi tetapi dengan penanggalan hijri tepatnya tanggal 20 romadlon.

Saat Fathul Makkah beliau bersabda: Hari ini adalah hari kasih sayang.

Sesuai dengan instruksi Rasulullah tersebut, maka hari kasih sayang model kanjeng Nabi ini dikenalkan.

Isi dan pesan Yaumul Marhamah ini tidak di simbolisasi melalui pemberian bunga dan ucapan I love you apalagi dengan kembang api.

Namun sangat praktis Yaumul Marhamah dilakukan untuk saling memaafkan satu dengan yang lain.

Bahkan Rosulullah memberikan grasi atau remisi atau pembebasan hukum bagi tahanan perang sebagai simbolisasi perdamaian abadi saat Fathul Makkah tersebut.

Saat itu amnesti bebas diberikan kepada sepuluh orang kafir yg sesungguhnya sudah divonis dengan hukuman mati.

Hari saling memaafkan dalam konteks Fathul Makkah inilah yang menandai keberhasilan dakwah Rasulullah SAW yang dilakukan dengan cara yang sangat santun dan penuh belas kasih.

Meskipun dalam suasana perang akhlak masih dijunjung tinggi. Tidak membunuh anak-anak atau perempuan dan melindungi orang-orang lemah bahkan orang kuat sekalipun tetap dilindungi ketika dalam posisi sudah terjepit.

Itulah akhlak Islam yang menjadi tolok ukur visi dan misi Islam diturunkan Allah ke dunia ini.

Bukan sebaliknya menampakan Islam dengan wajah yang seram dan penuh kebencian dengan orang pemeluk agama lain.

Bahkan belakangan ini orang-orang Islam baru dengan simbolik sangat Islamic mengaku sangat Islam dan mudah mengkafirkan orang lain.

Ibadat Islam adalah bibit unggul dan Jawa adalah sawah yang sangat subur.

Idiom ini dipakai Walisongo untuk menyebarkan Islam di seluruh Nusantara hingga menjadi agama mayoritas masyarakat bangsa ini karena titik tumpu pada nilai akhlakul karimah yang digariskan Rasulullah SAW.

Saya tidak membayangkan manakala ketika peralihan kejayaan kerajaan di Jawa ini ke kekuasaan Islam Demak dilakukan dengan cara-cara simbolistik seperti hari ini, kira-kira orang Jawa pada males masuk Islam.

Karena para sunan yang tergabung dalam kewalian 9 menggunakan metode akulturasi kebudayaan dengan tetap berprinsip pada ajaran akhlakul karimah tersebut.

Maka hanya dalam hitungan tahun Islam sudah menjadi agama yang sangat memikat hati dan sekarang menjadi mayoritas pemeluknya di negara kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini. (*/Ditulis: Kholiq Arif, mantan Bupati Wonosobo)

Add Comment