Ayo Ikut Program SHT : Berniaga ke Surabaya!

foto
Bangunan lama Pasar Pabean. Foto: Isitimewa.

Sebagai kota pelabuhan yang terkemuka selain Batavia dan Semarang, Surabaya berdiri dan berkembang karena aktifitas perniagaan di area pelabuhan yang semarak. Letak strategis membuat Pelabuhan Kalimas Surabaya menjadi primadona dan jalur perdagangan utama di Hindia Belanda.

Perahu kecil dan sampan berlalu-lalang mengangkut berbagai macam komoditas untuk diperdagangkan. Aktifitas ini memicu geliat yang lebih komplek dalam mengiringi pesatnya perniagaan di Surabaya.

Pasar Pabean di Timur sungai menjadi salah satu hasil kesibukkan Pelabuhan Kalimas. Beraneka komoditas yang dibawa kapal-kapal dagang diperjual belikan disana. Pemerintah kolonial pun membentuk Pasar Bedrifj (Dinas Pasar) untuk mengatur tata kelola pasar secara spesifik.

Di sisi lain, pemberlakukan pungutan bea dan cukai dilakukan terhadap komoditas yang bernilai tinggi. Alkohol sulingan, minyak bumi, bir, tembakau, rempah dan gula adalah beberapa diantaranya. Atas hal tersebut De Dienst der Invoer en Uitvoerrechten en Accijnzen (Dinas Bea Impor dan Bea Ekspor serta Cukai) didirikan di sisi barat Kalimas.

House of Sampoerna, melalui program tematik tur Surabaya Heritage Track (SHT) berjudul “Berniaga ke Surabaya”, mengajak masyarakat menengok kehidupan perniagaan di era kejayaan Pelabuhan Kalimas.

Juga mengunjungi tempat bersejarah terkait, salah satunya Menara Pantau yang menjadi tempat untuk mengawasi aktifitas bongkar muat di Pelabuhan Kalimas serta Pasar Pabean dimana semua komoditi dikumpulkan dan diperdagangkan.

Program ini dilaksanakan setiap hari Jumat hingga Minggu pukul 10.00-11.30 wib mulai 15 Februari hingga 31 Maret 2018 mendatang.

Tur tematik SHT diselenggarakan pada periode-periode tertentu, secara gratis, guna memperkenalkan sejarah kota Surabaya serta berbagai bangunan dan kawasan yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Sejak 2010 SHT telah menyelanggarakan 47 tur tematik dan mengunjungi lebih dari 70 bangunan cagar budaya baik museum, institusi pemerintahan dan swasta, tempat peribadatan, monumen, kampung, pasar, perpustakaan, pabrik, dan lain sebagainya.

Hal tersebut juga menginisiasi Heritage Walk dengan nama ‘Klinong-klinong ning Suroboyo’ yang menjadi pengembangan SHT dengan mengajak Trackers untuk secara langsung berinteraksi dengan masyarakat sekitar. (ist)

Add Comment