Kisah Reyog Ponorogo yang Sudah ‘Paten’

foto
Festifal reog di Ponorogo saat Grebeg Suro. Foto: Pemkab Ponorogo.

Reyog merupakan kesenian asal Ponorogo dan sudah menjadi ikon dari kabupaten tersebut. Dipilih kata “Reyog” daripada “Reog”, karena kata Reog merupakan semboyan Kabupaten Ponorogo era Bupati Markoem.

Ada Surat Keputusan Bupati Ponorogo No: 425/1995, yang merupakan akronim dari Resik, Endah, Omber, Girang-gemirang. Menurut para sesepuh, penggunaan sebutan yang benar adalah Reyog.

Kesenian ini diwariskan turun-menurun dari generasi ke generasi dan mengakar kuat dalam tradisi masyarakat Ponorogo. Bahkan masyarakat Ponorogo akan membawa kesenian ini dimanapun mereka berada.

Mereka juga pernah membawakan tradisi ini ke negeri tetangga hingga menimbulkan polemik klaim kesenian ini.

Meskipun beberapa waktu yang lalu, kesenian ini diklaim sebagai milik Malaysia, namun hal ini sudah terselesaikan.

Sebenarnya Tahun 1995, kesenian Reyog ini telah mendapatkan Sertifikat Hak Cipta, Paten, dan Merk dari Departemen Kehakiman RI Nomor 013195 tertanggal 12 April 1995.

Pemerintah kabupaten Ponorogo telah mendaftarkan Reyog ini sebagai Hak Cipta milik Kabupaten Ponorogo di Departemen Hukum dan HAM yang tercatat dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004.

Semenjak klaim tersebut terjadi pemerintah Ponorogo terus melakukan upaya pelestarian Reyog dibuktikan dengan terbitnya Peraturan Bupati Ponorogo No. 63 Tahun 2008 tentang Uraian Tugas dan Fungsi Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo.

Salah satunya adalah dengan merawat, menajaga dan melestarikan seni-budaya. Bukan hanya pemerintah saja, sekolah-sekolah bergengsi pun memasukkan kesenian Reyog sebagai muatan lokal (mulok).

Upaya-upaya pelestarian dilakukan dengan menggelar beberapa event, seperti Pentas Reyog Malam Purnama di Panggung Alun-alun, Pentas Reyog Mapak Tanggal di Monumen Bantarangin, Festival Reyog Mini untuk jenjang SD dan SMP pada HUT Kabupaten Ponorogo, Festival Reyog Nasional pada Bulan Suro.

Bahkan beberapa waktu yang lalu sempat digelar Penampilan Reyog Tempo Dulu di salah satu sanggar kesenian Reyog di Ponorogo. Karena Reyog menjadi magnet dan arus utama kesenian masyarakat Ponorogo dan sekitarnya, maka perlulah untuk mengkaji fenomena budaya ini lebih lanjut.

Sejarah kemunculan Reyog ini memiliki beberapa versi, namun versi yang terkenal adalah versi Klana Wuyung, yang masih ada hubungannya dengan Kili Suci atau Dyah Sanggramawijaya.

Banyak lamaran raja yang ditolak olehnya. Lembusura, Jatasura, Raja Bugis yang kisahnya dikaitkan dengan beberapa kesenian di daerah Tulungagung, yaitu Reyog Kendang. Raja Bantarangin pun juga tak luput dari penolakan tersebut.

Seperti yang diterangkan dalam Pedoman Dasar Kesenian Reyog Ponorogo dalam Pentas Bangsa, kisah penolakan ini kemudian digubah oleh Ki Ageng Mirah dalam lakon Klana Wuyung.

Cerita ini telah berkembang dan diamini oleh masyarakat Ponorogo sampai sekarang (Purwowijoyo: 1990, 8). (penulis: Muhammad Masrofiqi Maulana- Peneliti IJIR)

Add Comment