Aneka Tradisi Sambut Ramadhan di Indonesia

foto
Tradisi Dhandangan di Kudus. Foto: Pemkab Kudus.

Bulan puasa sudah di depan mata. Untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan, beberapa daerah di Indonesia punya tradisi yang khas dan sarat makna.

Bulan Ramadhan hanya tinggal menghitung hari. Di Indonesia sendiri, ada banyak sekali tradisi yang diadakan tiap daerah untuk menyambut datangnya bulan suci.

Selain sebagai tradisi yang menyatu dengan budaya, kegiatan ini juga menjadi hal yang menarik untuk dinikmati oleh wisatawan. Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, inilah beberapa daerah dengan tradisi sambut Ramadhan yang jadi atraksi wisata.

Tradisi santap daging bersama di Aceh
Di mulai dari ujung barat Indonesia, Aceh punya cara sendiri untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Dua hari sebelum puasa, masyarakat Aceh akan melakukan tradisi Meugang.

Meugang adalah tradisi santap daging bersama yang sudah ada sejak 400 tahun yang lalu. Saat Meugang semua orang statusnya sama baik orang kaya ataupun miskin. Mereka semua beli daging untuk dimakan bersama keluarga. Tradisi Meugang ini sudah dilakukan sejak masa Sultan Iskandar Muda memimpin Aceh.

Kala itu, sebulan sebelum Meugang kepala desa sudah menerima surat untuk mendata warga miskin di desanya. Setelah sultan melihat semua data yang dikumpulkan, menjelang Meugang baru dikirim uang kepada warga untuk membeli hewan ternak.

Dalam literatur buku ‘Singa Aceh’, disebutkan bahwa sultan sangat mencintai rakyatnya baik fakir miskin atau pun kaum dhuafa. Orang tidak mampu kala itu menjadi tanggung jawab sultan. Dia kemudian mengeluarkan satu qanun yang mengatur tentang pelaksanaan Meugang.

Lambat laun, Meugang menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh yang mayoritas Islam. Meski modelnya berbeda dengan masa kesultanan, makna terkandung di baliknya sama. Perayaan ini juga bagian dari kegembiraan menyambut Ramadhan.

Pawai Obor di Jawa Barat
Di Garut dan Kota Cirebon, pawai obor menjadi tradisi tahunan menyambut bulan yang dinanti-nantikan umat Muslim. Di Cirebon, ribuan warga berkumpul di depan Balai Kota Cirebon dan berkeliling kota membawa obor.

Sepanjang perjalanan masyrakat antusias berjalan meski rute yang dilewati cukup jauh. Sambil berjalan masyarakat terus mengumandangkan salawat dan takbir.

Bukan hanya di Cirebon, pawai obor juga digelar di Garut. Ribuan umat Muslim tumpah ke jalan. Sambil membawa obor, ribuan warga itu berjalan mengelilingi Kota Garut.

Sebelum pawai, massa Salat Isya berjamah di Masjid Agung Garut. Setelah itu mereka berkeliling, pusat perkotaan melalui rute Jalan Ahmad Yani, Jalan Guntur Melati, Jalan Pramuka, dan berakhir di Lapangan Alun-alun Garut.

Tradisi Gerebek Apem di Jombang
Warga Kabupaten Jombang, Jawa Timur punya cara unik untuk menyambut bulan suci Ramadhan, yakni Gerebek Apem. Di tradisi ini, warga memperebutkan 21 gunungan kue apem yang dipercaya sebagai simbol permohonan ampun kepada Allah SWT.

Gerebek Apem diawali dengan kirab gunungan dari GOR Merdeka Jombang menuju Ringin Contong di Jalan Gus Dur. Sedikitnya 21 gunungan dari kue apem diarak membelah ribuan warga yang memadati jalan.

Gerebek Apem sebagai tradisi warga Jombang sejak puluhan tahun silam untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Kue apem mempunyai filosofi yang harus selalu menjadi pegangan warga kota santri. Apem dalam bahasa arab adalah afwan, artinya meminta pengampunan dari Allah SWT.

Dhandangan, Tradisi 450 Tahun Warga Kudus
Lain ladang, lain belalang. Kudus memiliki tradisi bernama Dhandangan. Dhandangan adalah tradisi masyarakat Kudus untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan yang sudah ada sejak lebih dari 450 tahun yang lalu, atau sejak masa Sunan Kudus.

Tradisi ini selalu diisi dengan pasar rakyat, yang memberikan kesempatan pada masyarakat lintas kultural di Kudus untuk berinteraksi sekaligus memperoleh rezeki sebelum puasa.

Tidak ada catatan yang pasti bagaimana tradisi Dhandangan bermula. Namun masyarakat Kudus meyakini nama Dhandangan diambil dari bunyi bedug di masjid menara Kudus.

Menurut cerita leluhur, di masa lalu masyarakat berkumpul di masjid menara Kudus untuk menunggu Kanjeng Sunan Kudus mengumumkan dimulainya bulan puasa. Sebelum pengumuman, biasanya bedug masjid ditabuh dan suaranya ‘dhang..dang..dang’. Dari sanalah nama dhandangan diambil.

Melihat keunikan sejarah tersebut, sejak 2008 Pemkab Kudus menjadikan dhandangan sebagai atraksi wisata. Selain itu, Pemkab Kudus juga menggelar pentas kolosal visualisasi perjalanan sejarah tradisi masyarakat Kudus, tepat sehari sebelum puasa.

Pentas kolosal visualisasi yang dihadiri ribuan warga Kudus tersebut juga menggambarkan perjalanan sejarah akulturasi budaya Islam, Jawa, Hindu dan Tiongkok yang mewarnai Kudus.

Permainan Bola Api di Cileunyi, Bandung
Bergeser ke Cileunyi, menyambut Ramadhan, anak-anak Kelurahan Cibiru Hilir, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, bermain bola api. Permainan bola api dilakukan oleh 10 orang anak-anak yang dibagi ke dalam dua tim.

Secara umum, permainan bola api yang dilakukan anak-anak ini sama seperti permainan sepak bola pada umumnya. Namun yang membedakan, gawang hanya berukuran satu langkah kaki dan tanpa ada penjaga gawang.

Sebelum permainan dimulai, anak-anak berkumpul mengelilingi bola api yang terbuat dari batok kelapa yang telah direndam minyak tanah. Dibimbing salah seorang ustaz, mereka membaca doa sebelum permainan dimulai.

Usai membaca doa, para peserta mulai menempati posisi masing-masing. Bola dilempar panitia ke arena permainan, anak-anak langsung berebut mencari bola.

Meski tanpa alas kaki, anak-anak itu tetap bersemangat berebut bola. Mereka begitu kuat menggiring bola hingga menjebloskan bola ke gawang mini yang terbuat dari pot bunga. Lantunan salawat dengan alat musik rebana mengiringi permainan bola api. (sumber)

Add Comment