Makna Takir Plontang dalam Ritual Jawa

foto
Takir plontang sering digunakan pada acara kenduri. Foto: Deskgram.net/Tonilung.

Takir plontang merupakan wadah yang difungsikan untuk meletakan makanan, biasanya digunakan untuk sesaji. Wadah ini terbuat dari daun pisang dan janur, dibentuk menyerupai sebuah perahu, di ujung sisi kanan dan kiri dibentuk dengan lidi.

Keberadaan takir plontang ini mempunyai makna tersendiri bagi orang Jawa. Takir merupakan simbol orang Jawa yang mengarungi bahtera kehidupan dengan terus menerus menata pikiran. Karena laju perjalanan kehidupan selalu mudah terpontang-panting mengikuti gelombang kehidupan.

Dalam beberapa ritual di Jawa takir plontang ini selalu digunakan. Ritual-ritual yang menggunakan takir plontang ini beberapa di antaranya seperti Suroan yang dilakukan di hampir semua desa di Jawa. Dalam Suroan ini masyarakat desa di Jawa membawa takir plontang sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas diberikannya semangat kerukunan dalam bermasyarakat. Sekaligus untuk memeringati adat istiadat daerah setempat di bulan Suro.

Selain memperingati adat, takir plontang bagi masyarakat Jawa juga mempunyai tujuan tersendiri. Tujuannya ialah untuk menjaga kerukunan dan kebersamaan dalam semangat bergotong royong.

Dalam praktiknya, takir plontang dipahami oleh masyarakat Jawa dengan tiga makna tersendiri untuk memilah pembagian daun yang digunakan. Pertama, daun muda disebut pupus mempunyai makna dalam mengarungi bahtera kehidupan harus senantiasa berserah diri kepada Sang Maha mengatur kehidupan. Jadi semua diserahkan kepada Sang Maha pengatur segalanya. Tawakal harus senatiasa menghiasi semua gerak dan langkah setiap individu.

Kedua, daun yang hijau tua disebut ujungan. Ujungan dalam bahasa Jawa mempunyai maksud penyerahan, dalam arti penyerahan seorang abdi kepada majikannya atau penyerahan anak kepada bapaknya. Dalam hal ini maksudnya adalah orang harus menyerahkan diri (menghamba) secara total kepada Sang Maha Pencipta. Hal ini karena kesadarah bahwa, manusia diciptakan hanya untuk mengabdi kepada Sang Maha Pencipta.

Ketiga, daun yang telah kering disebut klaras. Klaras menjadi nglaras yang berarti hidup haruslah santai, tidak perlu tergesa-gesa. Agar setiap langkahnya selalu dalam kebenaran. Karena apabila tidak bersikpa demikian, manusia akan gampang salah dan mudah menjadi kacau.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah di bumi ini manusia harus sabar. Sabar di sini dalam artian sabar dalam menerima musibah dan sabar dalam beribadah, sabar dalam menerima musibah dan sabar dalam segala keadaan. Untuk bisa menjalankan ketiga hal tersebut dibutuhkan pertolongan dari Sang Maha segalanya, yang dalam hal ini di simbolkan dengan janur. Dalam bahasa Jawa janur singkan dari sejatineng nur.

Pada takir plontang ini daun yang digunakan ialah daun berwarana hijau tua disebut ujungan. Takir plontang ini juga memuat simbol, tujuan, dan sebagai bentuk nyata dari kepedulian masyarakat pedesaan di tengah kesederhanaan. Karena hanya dengan satu bungkus takir plontang orang bisa berbagi dengan sesama. Hal ini berlaku untuk semua orang tanpa memandang status sosialnya.

Takir plontang yang digunakan pada acara Suroan, biasanya ditaruh di perempatan jalan. Takir-takir yang ada dibagikan kembali tetapi orang yang membawa takir tersebut tidak boleh mengambil milik mereka sendiri, melainkan mengambil takir milik orang lain secara acak.

Konon menurut masyarakat Jawa, hal ini dilakukan agar rezeki orang tersebut tidak sama dengan awalnya. Nasibnya juga bisa lebih baik dan orang lain pula dapat merasakan rezeki yang orang lain dapatkan.

Namun sekarang banyak orang menggantikan fungsi takir dengan wadah yang serupa. Wadah pengganti yang biasanya digunakan umumnya terbuat dari kertas. Tak jarang juga orang yang melakukan Suroan itu membungkus nasi seperti halnya nasi bungkus yang diikat dengan karet gelang. Semua itu dilakukan dengan alasan kepraktisan.

Masyarakat sekarang berpikir lebih praktis, kalau bisa beli buat apa susah payah membuat sendiri dan harus blusukan di kebun hanya untuk mencari daun pisang. Hanya untuk membuat takir plontang untuk acara Suron akan menghabiskan waktu untuk membuat sendiri.

Hanya sebagian masyarakat Jawa yang tetap merawat dan mewariskan tradisi yang sakral ini kepada generasi selanjutnya. Bagaimanapun mereka berpandangan bahwa, kesakralan tradisi tersebut harus tetap dijaga dan dilestarikan, jangan sampai terkikis oleh perkembangan zaman. (Penulis: Ariski Titis Ainun Nisai)

Add Comment