Pentas Teater Mata Angin Refleksikan Kaum Buruh

foto
Pementasan Teater Mata Angin di Gedung Teater STKW. Foto: Istimewa.

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Mata Angin Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar pementasan teater di Gedung Teater Sekolah Tinggi Kesenian Wilawatikta (STKW) Surabaya.

Pementasan tersebut mengangkat tema buruh bertajuk Kacung Kidung Adyatma yang dapat menghipnotis mata para penonton yang melihatnya.

Lakon dalam pementasan teater 2019 kini dibawakan langsung oleh anggota UKM Teater Mata Angin UNAIR 2018. Disela pertunjukan ditampilkan pula pertunjukan musik dan pembacaan puisi.

Pertunjukan puisi ditampilkan oleh Adnan mahasiswa Sastra Indonesia UNAIR 2017 dan pertunjukan musik saxophone serta piano ditampilkan oleh Nawaf dari Sastra Indonesia UNAIR 2018 dan Jonathan mahasiswa Hukum UNAIR 2018.

Natasya Atmim selaku Ketua Pelaksana Pentas Studi Teater Mara Angin 2019 menyampaikan bahwa ada dua naskah yang dipentaskan tahun ini.

Naskah Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani dan Kidung Orang-orang Rakus karya Teater Lembaga dengan mengambil sudut pandang buruh. Dari dua pementasan tersebut, mereka mengambil sudut pandang buruh yang kontradiktif.

Pementasan Bunga Rumah Makan mengambil sudut pandang masyarakat rendah dengan menggambarkan sosok pelayan rumah makan yang mengalami ketidakadilan dan perendahan status sosial.

Sedangkan pementasan Kidung Orang-orang Rakus menggambarkan buruh dari sudut pandang kaum borjouis dengan menampilkan sosok koruptor dan orang-orang curang dari kaum elit.

“Pementasan persiapan adek-adek sudah melakukan persiapan sejak awal Februari. Pentas ini dilatih oleh Cak Cox dan Mas Sur. Selama pelatihan, tiap kelompok didampingi oleh 3 pendamping kelompok dan pelatih,” ungkap Natasya.

Sementara itu, Puji Karyanto SS MHum selaku Pembina Teater Mata Angin UNAIR 2018 meyampaikan bahwa diadakannya pertunjukan teater tersebut bertujuan untuk memberi pengalaman kepada anggota muda di teater mata angin.

Dengan pementasan itu, mereka mempunyai pengalaman dalam merencanakan produksi pementasan hingga eksekusinya.

“Harapannya mudah-mudahan anak yang baru masuk itu bisa terus terlibat dalam teater mata angin ke depan. Dimana teater mata angin mempunyai darah-darah baru untuk pengembangan kreatif ke depan,” tambahnya.

Pentas Teater yang dilakukan dua kelompok disambut dengan tepuk tangan yang sangat meriah oleh penonton. “Rasa lega dan bangga karena adek adek sudah melakukan pentas dengan baik,“ ujar Rendi Mahardika selaku Ketua UKM Teater Mata Angin UNAIR 2019. (ita)

Add Comment